Tampilkan postingan dengan label Ruhaniyat. Tampilkan semua postingan

Kebebasan; Dari Apa dan Bagaimana?


Darah muda identik dengan letupan-letupan emosional, agresifitas dalam bertindak dan ada kalanya disertai kisah romansa yang membubuinya. Menjadi pemuda biasanya diawali dengan masa-masa pubertas (puberty), dalam dunia psikologi, pubertas merupakan masa peralihan dari anak-anak yang, biasanya dibatasi oleh aturan-aturan tertentu oleh orang tua, menuju awal kedewasaan, dimana masa itu adalah masa ‘bebasnya’ seseorang dari aturan-aturan rigid orang tua. Oleh karena itu tidak heran bila masa pubertas seorang pemuda merupakan masa-masa yang labil dan cenderung berambisi dengan kebebasan.

# Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu mereka melahirkannya dengan merdeka? (Umar ibnu Khathab)

Sobat muda Smarteen sekalian, sebenarnya tidak ada salahnya bila kita terobsesi kepada kebebasan, karena Umar al-Faruq sendiri menyatakan bahwa kita dilahirkan oleh ibu kita dengan kebebasan dan oleh karenanya kita dilarang ‘memperbudak’, menjajah atau memekasakan kesenangan pribadi kita terhadap orang lain. Akan tetapi, yang perlu kita perhatikan adalah hakikat kebebasan itu sendiri. Dari apakah kita ingin membebaskan diri? Bagaimanakah cara kita mengekspresikan kebebasan kita?

Kebebasan manusia bila diartikan dengan sama sekali tidak terikat dengan apapun, maka tidak ada bedanya antara manusia dengan hewan. Keterikatan mendasar dari kebebasan manusia paling tidak tercermin dalam keterikatan antara ‘abid (penyembah) dengan ma’bud (yang disembah), makhluk (yang diciptakan) dengan khaliq (sang pencipta), antara manusia dengan Tuhannya. Dimana manusia mukallaf dengan syari’at dan hudud (batasan) dari Allah swt. Seperti pemenuhan kewajiban kita atas rukun iman dan rukun Islam, taat kepada orang tua, menolong sesama maupun nilai-nilai luhur keagamaan dan kemasyrakatan kita.

# Kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain


Sobat Smarteen yang dirahmati Allah, setelah menunaikan hak-hak kita sebagai hamba Allah maka saat itulah kita bisa berteriak dengan lantang ‘Yes I’m Free’. Bebas untuk memilih cita-cita kita, bebas untuk menentukan langkah hidup kita, hobi, pekerjaan maupun aktivitas lainnya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kita bukanlah satu-satunya nyawa di planet bumi ini, ada milyaran manusia dan makhluk lain yang berada di planet ketiga dari tata surya kita, sehingga kita harus memperhatikan bagaimana kita mengekspresikan kebebasan kita. Kita bebas membeli motor apa saja sesuai dengan budget kita, tapi suara knalpot motor tersebut jangan sampai memekakkan telinga orang lain, kita boleh memilih tempat kongkow dimana saja, tapi pastikan bahwa orang lain juga nyaman berada di sekeliling kita.
Jumat, 23 Desember 2016
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Ramadhan, Bulan Meng-upgrade Kesucian


Semua manusia tercipta dari materi tanah dan ruh. Tanah mempunyai sifat asli kotor dan bahkan menjijikan. Sebaik apapun makhluk hidup, entah tumbuhan, binatang atau bahkan manusia ketika mata rantai pengurai terakhir akan menjadikan mereka sebagai tanah. Ya, itu semua akan membusuk menjadi tanah.

Tanah akan mempunyai potensi manfaat ketika berpadu dengan unsur air. Entah air itu datangnya dari hujan, embun atau lembap yang diterpa angin. Tapi hal itu bukanlah jaminan untuk benar-benar menjadikannya manfaat.

Ada tanah yang sama sekali tidak bisa menyerap air, sehingga ia menyebabkan banji dan bahkan tidak bisa menumbuhkan tanaman. Ada tanah yang bisa menyerap air sehingga bisa sekedar menghalau banjir, tetapi tetap tidak bisa menumbuhkan tanaman. Dan ada tanah yang bisa menyerap air sekaligus menumbuhkan tanaman. Jenis tanah ketiga inilah yang paling bermanfaat, ia bisa menghalau banjir sekaligus menumbuhkan ragam tumbuhan.

Itu adalah perumpamaan wujud manusia yang terdiri dari jasad dan ruh. Jasad kita dari tanah dan ruh kita dari Allah. Bila hidup hanya bermodal jasad atau penampakan fisik saja, niscaya kita tidak mempunyai nilai di hadapan Allah. Jasad kita harus disempurnakan dengan ruh atau jiwa yang suci.

Oleh karena itu kita harus menjaga kesucian ruh yang telah Allah berikan sejak kita diciptakan olehNya. Allah berfirman falamma sawaituhu wa nafakhtu fiihi min ruhi.. Ketika Allah telah menciptakan kerangka kita, kemudian Allah meniupkan ruh ke dalam jasad kita. Allah menggunakan kata pemilikan Aku dalam ruh, Allah mengatakan ruh-Ku. Hal ini tidak lantas dimaknai dengan al-ittihad atau manunggaling kawulo gusti ala al-Hallaj maupun Siti Jenar.
Penisbatan ruh kepada Allah merupakan karunia dan kemuliaan bagi manusia. Bahwa adanya dirinya bisa bergerak, mendengar, merasa dan berjalan merupakan kuasa Allah yang diberikan kepada manusia. Dan ruh ini sifatnya suci, putih sekaligus bening.

Dalam perjalanannya kedua materi manusia akhirnya tumbuh. Bedanya bila jasad semakin lama semakin menuju kepunahan, adapun ruh semakin lama semakin hidup menuju kedewasaan dan keabadian.

Namun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa semakin lama, ruh atau jiwa kita semakin terkotori oleh hawa nafsu. Ruh yang dulunya suci ditiupkan oleh Allah, perlahan berganti dengan tiupan dan bisikan setan. Maka di momen Ramadhan ini sebenarnya Allah membuka peluang untuk mensucikan kembali fitrah jiwa yang dahulu pernah diberikan Allah.
Ruh yang dari Allah ini akan kembali menjadi suci bila kita memahami hakikat asma dan sifat Allah. Di bulan puasa ini, kita mempunyai peluang untuk memaksimalkan perilaku atau sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah.

Pertama, Allah sebagai Dzat yang tidak makan dan minum. Maka ketika bulan puasa ini, di waktu tertentu kita juga dilarang untuk mengkonsumsi makanan maupun minuman. Kita diminta sejenak berhenti menumbuhkan jasad, tapi Allah meminta untuk menumbuhkan jiwa atau ruh kita.

Kedua, Allah sebagai Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Maka ketika puasa kita juga disunahkan untuk memberi ifthar kepada orang yang berpuasa. Dan ketika itu kita mendapat pahala yang sama dengan orang puasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Kita juga dianjurkan lebih giat lagi bersedekah dan berbagi saat Ramadhan, hal itu untuk menumbuhkan rasa kasih sayang di dalam jiwa kita.

Ketiga, Allah adalah Dzat yang tidak beristri, tidak bernak dan tidak pula menganakkan. Di bulan puasa ini kita pun dilarang untuk berhubungan layaknya suami istri.

Di antara karakteristik puasa adalah, bila ibadah-ibadah lain merupakan perintah untuk melakukan sesuatu. Maka puasa adalah ibadah yang sifatnya perintah untuk meninggalkan sesuatu. Di sini Allah ingin mengajarkan keseimbangan dalam berperilaku. Ada kalanya kita melakukan sesuatu, ada kalanya kita menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Ada kalanya kita mengalah tapi ada kalanya kita melawan atau membela diri.


Karakteristik lainnya adalah, puasa merupakan perintah untuk meninggalkan sesuatu yang asasi dalam makhluk hidup; makan dan berkembang biak. Di sini Allah ingin mengajarkan bahwa ketika kita bisa meninggalkan sejenak hal-hal yang asasi, seharusnya kita bisa meninggalkan hal-hal yang memang harus ditinggalkan, yaitu sesuatu yang haram maupun makruh.
Rabu, 29 Juni 2016
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

BUAH DARI KEIKHLASAN



Allah memerintahkan umat Islam untuk selalu beramal saleh. Seperti yang kita ketahui, amal saleh akan diterima oleh Allah ketika amal tersebut sesuai dengan tuntunan Rasulullah sekaligus murni ikhlas hanya ditujukan kepada Allah.

Ikhlas merupakan wilayah atau dimensi batin dari seorang manusia, namun begitu, ada beberapa indikasi lahir yang mengisyaratkan tentang apakah amalan-amalan kita masuk kategori ikhlas atau tidak.

Keikhlasan seseorang (baca: diri kita sendiri) bisa dideteksi ketika keikhlasan itu menghasilkan buahnya. Seperti tetumbuhan, kita tahu bahwa pohon itu merupakan pohon kelapa ketika ia menumbuhkan buah kelapa, kita tahu bahwa pohon itu adalah pohon anggur ketika ia menumbuhkan buah anggur. Demikian halnya keikhlasan, kita bisa ‘tahu’ amalan kita ikhlas atau tidak ketika kita memperhatikan buah-buah dari keikhlasan itu.

Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya al-Ikhlash wan Niyyahmenyebutkan beberapa faidah atau buah dari ikhlas;
1.       As-Sakinah an-Nafsiyah, ketenangan jiwa. Efek ikhlas bagi seseorang adalah hati yang selalu merasa tumakninah, tentram dan selalu berlapang dada. Hatinya sudah bermuara pada satu tujuan yaitu ridha Allah swt.

Allah memberi sebuah permisalan dalam surat az-Zumar: 29:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Seseorang yang mempunyai satu majikan akan mendapatkan ketenangan dalam jiwanya, semua perintah yang disampaikan oleh majikannya dilakukan dengan hikmat dan sempurna, sehingga majikannya pun puas dengan hasil yang dicapai oleh budak atau hambanya. Berbeda dengan seorang budak yang mempunyai banyak majikan, terlebih bila majikan-majikan itu mempunyai perintah dan permintaan yang berbeda-beda, si budak pun akan kualahan menunaikan perintah mereka. Dalam kondisi itu, apakah si budak mendapatkan ketentraman dalam jiwanya?

2.       Al-Quwwah ar-Ruhiyah, kekuatan ruh. Ruh memang materi yang tidak kasat mata, tidak bisa dindera oleh kulit tangan dan kaki kita. Namun demikian, ruh lah yang menjadi unsur utama dalam diri manusia. Manusia dikatakan hidup ketika ruh masih bersamayam di dalam dirinya, dan ia dikatakan mati ketika ruh meninggalkan tubuhnya. Oleh karena itu, kuat dan lemahnya jasad, daging, kulit, tulang dan semua yang terkait dengan anggota badan tidak bisa terlepas dari kuat lemahnya ruh.
Bilal bin Rabah adalah contoh dari sosok yang mempunyai kekuatan ruhani yang sangat dahsyat. Bilal adalah hamba sahaya, budak dari Umayyah bin Khalaf. Kala Islam merasuk dadanya, ia pun mendapat berbagai macam siksaan berupa diarak dan dihinakan dihadapan publik, dibaringkan di atas panasnya gurun serta dihimpit batu besar yang panas. Semua itu ditanggapi oleh bilal dengan keteguhan hati untuk tidak menjadi musyrik lagi. “Ahad, ahad, ahad...”
3.       Al-Istimrar fil Amal, istiqamah dalam beramal. Seorang mukhlis adalah orang yang beramal hanya untuk Allah semata, dengan semua iming-imingan berupa cinta kepada Pencipta, berharap surga dan takut akan neraka-Nya. Bukan kategori ikhlas bila seorang beramal hanya terbatas pada orientasi perut, harta dan kehormatan di hadapan manusia.
Orang yang orientasi amalnya tidak murni Allah, besar kemungkinan ia bakal pensiun dari amal shalih ketika tidak mendapatkan pragmatisme duniawi yang ia harapkan. Sedangkan seorang yang mukhlis dalam beramal, ia senantiasa melakukan ritual shalihnya hingga maut menjemput.
4.       Tahwilul Mubahat wal Adiyat ilal Ibadat, aktivitas yang mubah dan biasa dengan sendirinya akan ter-upgrade menjadi ‘amal shalih’ ketika aktivitas tersebut murni ditujukan untuk mengharap ridha Allah. Makan yang awalnya adalah aktivitas biologis semata, jika kemudian diniatkan agar badan sehat dan akhirnya bisa melakukan kewajiban dan sunnah secara maksimal, maka aktivitas makan tadi dinilai sebagai ibadah. Begitu juga olahraga, skill atau hobi.

5.       Kamaluts Tsawab Bi’adami Tamamil ‘Amal, mendapatkan kesempurnaan pahala sekalipun amalnya tidak sempurna. Hadits Rasulullah banyak yang menunjukan hal itu; mendapat pahala jihad sekalipun meninggal di tengah perjalanan, mendapatkan pahala jihad sekalipun meninggal di atas dipan, mendapatkan pahala perang Tabuk sekalipun tidak ikut serta dalam rombongan perang, mendapatkan pahala qiyamullail sekalipun tertidur tidak sengaja. Kemurahan Allah swt. semua itu hanya berlaku bagi orang-orang yang shidqun niyyah dan berazam tinggi.


Ikhwani hayyakumullah. Beberapa faidah atau buah keikhlasan tadi patut untuk kita renungkan, khususnya sebagai indikator untuk bermuhasabah terhadap amal kita. Apakah amalan kita selama ini sudah didasari dan mempunyai kategori ikhlas atau selama ini kita beramal karena sekedar kebiasaan dan rutinitas.
Jumat, 13 Mei 2016
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Dimensi-Dimensi dalam Ibadah


Bismillah. Allah dan Rasulullah telah menurunkan agama Islam sebagai agama yang sempurna; universal, komprehensif dan integral. Mengakomodasi dimensi akhirat dan duniawi sekaligus, khaliq dan makhluq, jiwa dan raga, materi dan immateri, nikmatnya surga dan sengsaranya neraka dll. Semua yang berada di alam penciptaan dengan kedua sisinya mempunyai ‘tempat’ dalam agama Islam.

Untuk menghindari dikotomi dua sisi di atas maka kita harus belajar mengenali dimensi apa saja yang ada di dalam ibadah dan amalan-amalan dalam agama Islam. Sehingga keberadaan dimensi tersebut tidak dipelajari secara terpisah tapi menyeluruh. Dengan mengetahui keberadaan multidimensi dalam sebuah amal ibadah, kita akan melihat suatu ibadah pada porsinya, terhindar dari ifrath maupun tafrith, ghuluw maupun tasahul.

Misal, cara pemahaman dan pendekatan da’i-da’i klasik biasanya terlalu mengedepankan maqashid ukhrawiyah, cara penyampaiannya pun cenderung dominan dengan dogma maupun doktrin. Keterangan yang disampaikan seringkali mengesampingkan aspek-aspek humaniora. Bahasa dan istilah yang dipaparkan terlalu definitif atau terlalu hitam putih.

Kali ini kami ingin mencoba menggambar klasifikasi atau dimensi apa saja yang ada dalam setiap ritual ibadah seorang muslim, kami tekankan dengan kata-kata ‘ritual’ karena sesuatu yang multidimensi tadi biasanya melekat pada ibadah-ibadah dhahiriyah atau ibadah jawarihiyah, amal ibadah yang dilakukan secara terlihat kasat mata atau melibatkan anggota badan.

Beberapa dimensi yang biasanya melekat pada ritual ibadah tadi kami istilahkan dengan niat/ghayah – faidah/manfa’ah – adawat; tujuan – manfaat – fasilitas. Niat adalah azm atau tujuan utama dalam amal ibadah, atau alasan utama dalam mengerjakan sesuatu adalah untuk Allah semata, apapun, bagaimanapun dan kapanpun kondisinya. Tanpa tendensi materi, pragmatisme, keterkaitan emosional dengan pihak lain, murni hanya untuk Allah. Dan, bagaiamanapun Allah meresponnya. Tingkat ibadah yang didasari niat suci biasa tidak akan terpengaruhi faktor apapun.

Ibadah yang sarat dengan dimensi ini biasanya adalah ibadah mahdhah atau ibadah yang masuk kategori ghairu ma’qulatil ma’na, totalitas tanpa batas. Bahkan ketika sebuah ibadah mempunyai beberapa faidah dan manfaat dhahir baginya, tatkala ia tidak merasakan atau belum mendapatkan manfaat  itu, derajat penghambaannya dalam melaksanakan ibadah tersebut tidak berkurang sedikitpun.

Misal salah satu faidah dari shalat tahajud adalah kesehatan, bahkan ia menyembuhkan beberapa penyakit fisik seperti kanker maupun jantung. Ketika seseorang sedang ditimpa musibah berupa sakit, dan dia juga rajin mengerjakan shalat tahajud, akan tetapi Allah belum berkenan memberikan kesembuhan kepada hamba tersebut, maka insyaAllah indikasi niat suci dan murni itu ada pada orang tersebut. Misal lain, bila kita bersedekah maka Allah akan memudahkan dan melipatgandakan harta atau rezeki kita, tapi ketika seorang hamba rajin bersedekah dan mungkin penghasilan bulanannya lebih sedikit dari orang lain yang kikir, tetapi di waktu yang sama ia rajin bersedekah dengan ikhlas, maka insyaAllah hamba tersebut mempunyai indikasi niat dan ghayah hanya kepada Allah semata.

Sedangkan manfaat adalah sisi lain atau dimensi turunan yang muncul dari ibadah tersebut, atau kadang juga diistilahkan dengan hikmah, hikmah tasyri’/filosofi hukum Islam. Tentunya pembahasan ini masih menyisakan ruang diskusi untuk mempelajari perbedaan antara hikmah dan ‘illah. Kembali pada contoh di atas, bahwa salah satu manfaat atau hikmah tahajud adalah penguatan sistem imunitas tubuh ataupun efek positif pada neurologi otak kita.

Bila berbicara tentang manfaat atau alasan konkrit dalam suatu ibadah, biasanya amalan ibadah yang sarat dengan manfaat yang kasat mata biasanya diistilahkan dengan ibadah ghairu mahdhah atau ibadah ma’qulatul ma’na. Misal ibadah sahur, salah satu manfaat yang jelas terkandung dari sahur adalah agar kita kuat untuk menjalani puasa, oleh karena itu dihukumi sunah. Dan banyak sekali ibadah-ibadah dalam Islam yang mendatangkan manfaat yang lahir maupun batin.

Perlu sedikit catatan tambahan dalam poin ini, bagaimanapun juga, ibadah seseorang haruslah dititikberatkan pada perintah dan larangan yang datang dari Allah swt. maupun Rasulullah saw. secara an sich atau apa adanya. Namun demikian, bila kita kaitkan dengan cara dakwah da’i-da’i modern dewasa ini maka kita patut bersyukur bahwa kajian-kajian yang mengungkap dimensi manfaat atau hikmah dari sebuah ibadah tengah digalakkan. Inilah yang akhirnya melengkapi cara dakwah Islam, agar mengintegralkan antara perintah langit dengan manfaat yang tercecer dalam ritual ibadah manusia bumi. Dan memang masyarakat modern mempunyai cara berfikir yang lebih kompleks, dimana misteri sains, manfaat humaniora dan dimensi-dimensi keilmuan dewasa ini memang layak digali dari khazanah keislaman itu sendiri.

Kajian yang perlu dikembangkan dalam hal ini adalah islamisasi sains sudah diinisiasi oleh beberapa tokoh seperti; Ismail Raji al-Faruqi, Syaid Naquib al-Attas, Ziauddin Sardar, Hussain Nasr. Tokoh tambahan yang juga getol mengeksplorasi sains berbasis wahyu adalah Dr. Zaghlul an-Najjar, Agus Purwanto, D.Sc dll. Atau beberapa penelitian dari tokoh-tokoh sains yang beberapanya terekam dalam artikel http://www.eajaz.org.


Dimensi terakhir yang biasanya terkait dengan ritual ibadah kita adalah adawat atau perangkat penunjang dalam beribadah. Dimensi di luar ibadah yang keberadaannya kadang wajib atau sekedar sunah. Keberadaanya kadang bersifat dhoruri atau tahsini. Seorang Da’i yang mempunyai aktifitas padat, harus intensitas mobile alias wira-wiri yang tidak bisa lagi dihindari membutuhkan perangkat penunjang yang memudahkannya untuk beraktifitas, seperti mobil, motor, ihsan dari untuk transportasi dll, termasuk berdemokrasi dalam menegakkan nilai-nilai Islam di bumi nusantara. Tentunya hal-hal yang sifatnya demikian tadi harus disikapi dengan mentalitas zuhud dan wara’, sehingga sesuatu yang dasarnya sekedar penunjang jalannya ibadah atau dakwah, jangan sampai beralih maqam menjadi niyyah atau ghayah.

Ini ada contoh link dimana ajaran Islam dimaknai sangat dikotomis, akhirnya proses-proses atau pelatihan ritual ibadah yang memberi manfaat bagi banyak dimensi dikebiri sedemikian rupa, akhirnya justifikasi sesat, menyimpang, bid’ah, sinkretisme bertebaran dimana-mana. Ayat al-Quran dan hadits Rasulullah saw. diparadekan, ditampilkan secara berjejer, tapi minus istinbath dalil, wajhud dilalah dll: https://abufahmiabdullah.wordpress.com/2009/12/26/penyimpangan-abu-sangkan-dengan-bukunya-pelatihan-sholat-khusyu/
Selasa, 27 Oktober 2015
Posted by Alamin Rayyiis

Perempuan Simbol Keteguhan


Bila kita membuka dan membaca beberapa ayat dalam surat Ali Imran maka akan kita dapati kisah-kisah para wanita yang menjadi lambang keteguhan atau ats-tsabât. Dan sepertinya bukan kebetulan belaka kenapa kisah-kisah inspiratif dari 3 perempuan tersebut tercantum dalam surat Ali Imran yang mempunyai arti ‘Keluarga Imran’. Oleh karena itu, beberapa kata kunci yang akan kita pelajari bersama di sajian kali ini adalah tentang perempuan, keteguhan, keluarga dan khidmah untuk Islam itu sendiri.

Ketiga perempuan dalam lingkaran Keluarga Imran itu adalah Istri Imran, Istri Zakariya dan Bunda Maryam. Secara ringkas termaktub dalam surat Ali Imran ayat 35-47.

Istri Imran ketika itu mendamba seorang keturunan, layaknya seorang perempuan yang sudah lama meniti kehidupan berkeluarga, tidak lengkap rasanya bila kedua tangan lembutnya belum menggendong bayi dan menimang sosok mungil dari keturunannya. Rasa inginnya tidak berhenti pada batas itu semata, dengan doa khusyuk istri Imran bernadzar bahwa ketika anaknya lahir kelak, ia akan menjadikannya sebagai hamba sholeh yang mengabdi pada Allah di Baitul Maqdis.

Keluarga Imran paham akan keadaan politik di negerinya, Palestina ketika itu berada di bawah pendudukan bangsa pagan Dinasti Romawi, dan Imran beserta keluarganya merupakan keturunan darah biru yang secara turun temurun mempunyai tanggungjawab untuk mempertahankan maslahat umat dan agama nenek moyangnya. Komplek Baitul Maqdis yang juga terdapat Kuil Sulaiman merupakan simbol agama samawi yang berdasar pada tauhid, mengesakan Allah. Keberadaan Romawi yang menduduki komplek tersebut memicu semangat sang ibu untuk tetap mempertahankan ajaran tauhid dari rongrongan para penyembah berhala.

Waktu yang dijanjikan pun tiba, Maryam al-‘Azdra ‘Maryam Sang Perawan’ lahir sebagai bayi perempuan. Redaksi yang diungkapkan istri Imran tatkala itu sangat santun ketika mengutarakan keterkejutannya atas bayi yang ia lahirkan yang ternyata perempuan, “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan”. Anak yang beliau damba untuk mengabdi di Baitul Maqdis sekaligus simbol resistensi atas pendudukan dinasti pagan adalah lelaki yang beliau siapkan untuk berjuang mengangkat senjata, tapi Allah berkehendak lain. Semua itu tidak lantas membuatnya putus asa dan mengacuhkan anugrah Allah, Maryam sekalipun perempuan tetap dijadikan sebagai seorang hamba yang mengabdikan diri kepada Allah di tempat peribadatannya.

 Maryam pun tumbuh menjadi gadis dewasa di bawah pengasuhan Zakariya as. ‘Tersandera’ dengan nadzar ibunya, Maryam banyak menghabiskan waktunya di dalam mihrab untuk ber-tahanuts beribadah kepada Allah semata, Allah pun memanjakannya dengan makanan dan buah-buahan segar yang selalu tersaji begitu saja di tempat ia beribadah. Bahkan Zakariya pun terkejut dengan fenomena itu, terkejut sekaligus insyaf bahwa Allah adalah Tuhan yang maha segalanya, dan ia pun tak patah arang untuk kembali meminta agar dikaruniai seorang putra sekalipun sang istri sudah uzur usia. Dari Istri Zakaria lahirlah seorang nabi pemberani yang oleh Allah disifati dengan sayyidan wa hashûran, yaitu Yahya as.

Keteguhan apa yang akan kita pelajari dari seorang Bunda Maryam? Telah kita sebutkan bahwa Maryam adalah seorang ahli ibadah yang menjaga diri dari semua perangai buruk, apalagi keberadaannya sebagai keluarga Imran yang dimuliakan dan dihormati oleh masyarakat membuatnya harus hati-hati dalam berperilaku. Di saat ia menjaga mati-matian kesucian dan kehormatannya sebagai mahkota perempuan, saat itu pula ternyata Allah mengujinya dengan sesuatu yang mengancam kesucian dan kehormatan yang telah ia jaga, Maryam as. mengandung bayi tanpa adanya suami, bahkan tanpa adanya ‘pembuahan’ dari lawan jenis sekalipun.

Selama mengandung, selama itu pula hujatan, makian dan tuduhan miring dari orang-orang Israel/Yahudi diarahkan kepadanya. Keluarga Imran yang dikenal sebagai keluarga yang baik dan mempunyai integritas tinggi di mata publik Yahudi tak luput dari cemoohan. Semua itu dijalani oleh Maryam dengan sabar dan tetap mengikatkan diri dan bersimpuh dihadapan Allah. Hingga setelah kelahiran Isa as. semua tuduhan itu terbantahkan dengan sendirinya, bayi mungil itu berbicara dan memberikan kesaksian akan mukjizat Allah yang selama ini sebenarnya ditujukan kepada mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Mereka adalah perempuan-perempuan suci yang kisahnya diabadikan dalam al-Quran. Sirah nabawiyah yang kaya akan hikmah juga tidak luput merekam jejak para perempuan yang turut andil dalam membela agama Allah. Tersebutlah Ummu Sulaim (nama panggilan lainnya adalah Rumaisha dan Ghumaisha) ibu dari Anas bin Malik seorang Anshar yang menjadi pelayan atau abdi Rasulullah sejak kecil.

Kisah heroik Ummu Sulaim terekam jelas di beberapa hadits periwayatan Imam Bukhari. Kala itu Uhud sedang berkecamuk, perang sengit antara kaum muslimin dan orang kafir menemui klimaksnya. Barisan muslimin kacau balau lantaran menyalahi instruksi Rasulullah, dan beberapa prajurit muslim lari tungganglanggang, melihat fenomena memalukan itu Ummu Sulaim berkata, “Wahai Rasulullah, bunuhlah orang-orang yang telah Engkau bebaskan di hari Penaklukan Makkah, sekarang mereka telah lari meninggalkanmu”. Seorang perempuan, seorang istri dari petarung hebat Abu Thalhah sekaligus seorang ibu dari Anas bin Malik, berdiri menggenggam parang seraya berteriak membakar semangat para prajurit lelaki yang kocar-kacir di tengah pertempuran.


Sebagai seorang muslim kita harus bangga bahwa Allah memberi kesempatan bagi siapa saja untuk berjuang dan bangkit di barisan pejuang Islam. "…..Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik". (Ali Imran: 195)
Kamis, 21 Mei 2015
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Peran Perempuan Dalam Islam


Sebuah kisah masyhur akhir-akhir ini banyak memenuhi media-media sosial seperti broad cast dari maupun tulisan hikmah di koran nasional. Bercerita tentang kehidupan keluarga Amirul Mukminin Umar bin Khathab atau al-Fârûq dengan istrinya. Bahwa suatu ketika seorang sahabat ingin bertamu dan bertemu dengan Amirul Mukminin Umar guna mengeluhkan sikap istrinya yang sering memarahinya.

Sahabat tersebut sampai di depan rumah dan mendengar langsung kejadian yang ia alami juga dialami oleh Umar bin Khathab. Sahabat mendengar bagaimana ternyata beliau juga dimarahi oleh istrinya. Saat Umar keluar rumah, beliau melihat sahabat tersebut berbalik ingin pulang ke rumah lantaran merasa tidak perlu menanyakan sesuatu masalah kepada orang yang juga tertimpa masalah yang sama. Spontan, Umar pun memanggilnya dan menanyakan apa tujuan beliau mendatanginya. Sahabat pun menjawab tujuan datang ke rumahnya sekaligus alasan kenapa ia hengkang hendak pulang.

Mendengar pemaparan sahabat, Umar kemudian tersenyum. Dia pun mengisahkan kepada lelaki itu mengapa Umar yang keras begitu sabar menghadapi istrinya. “Wahai, saudaraku, aku tetap sabar menghadapi perbuatannya karena itu memang kewajibanku.” Umar malah menceritakan betapa besar jasa istrinya dalam kehidupannya di dunia. “Bagaimana aku bisa marah kepada istriku karena dialah yang mencuci bajuku, dialah yang memasak roti dan makananku, ia juga yang mengasuh anak-anakku, padahal semua itu bukanlah kewajibannya,” tambahnya.

Sahabat Aitam yang dirahmati Allah. Mungkin kita sering mendengar kata bijak ‘Dibalik kesuksesan seorang pria, ada perempuan hebat yang menyertainya’. Secara sekilas saya tidak bisa memastikan dari siapakah kata bijak tersebut pertama kali muncul. Tapi esensi yang terkandung di kalimat tersebut menurut penulis sangat benar adanya. Kisah di atas menjadi bukti bagaimana kebesaran Umar yang dielu-elukan umat ternyata tidak bisa terlepas dari kehebatan seorang istri yang ia akui sendiri. ‘Ketundukan’ Umar kepada istrinya mengindikasikan bahwa perempuan pun mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan rumah tangga, sebagai penyeimbang ritme aktifitas dari suami, sebagai sekolah pertama bagi anak-anak, dan mengutip ungkapan puitis Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail terkait dengan istri, perempuan adalah ‘pintu’ bagi sebuah kehidupan rumah tangga.

Terkait dengan tema ini Ust. Felix Siaw dalam sebuah presentasi mengatakan bahwa, kata-kata “wanita adalah tiang suatu negara” tampaknya bukanlah sesuatu yang berlebihan, bahkan dengan tegas ia menambahkan “wanita adalah tiang peradaban”. Banyak sekali hadits yang mengabarkan keutamaan wanita. Ini bisa dilihat pada fungsi seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya. Anak adalah cerminan orangtua, seorang anak yang besar biasanya lahir dari keluarga yang baik. Dan ibu memegang peranan yang sangat penting dalam pengajaran ini. Oleh Allah swt. seorang ibu telah ditempatkan pada kemuliaan yang sangat tinggi menyangkut masalah pendidikan anak. Itulah mengapa tolak ukur seorang anak ditentukan dari ibunya. Bahkan penelitian yang sekarang ada menemukan bahwa anak-anak yang kurang atau mendapatkan belaian dan pelukan dari ibunya akan lebih mudah terserang penyakit daripada yang sering dibelai dan dipeluk ibunya. Pendidikan yang baik sejak dini akan melahirkan generasi yang taat pada Allah dan merindukan tegaknya Islam.

Baru-baru ini dunia kedokteran merelease penelitian baru tentang gen carier kecerdasan seorang anak. Dan ternyata penelitian itu menyimpulkan bahwa kecerdasan seorang anak diturunkan dari gen seorang ibu. Artinya, keberlanjutan kapasitas otak dan kecerdasan keturunan anak cucu kita faktor dominannya terdapat pada seorang perempuan atau ibu. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Dr. Ben Hamel "Pengaruh itu sedemikian besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu". Sekalipun kecerdasan warisan bukanlah satu-satunya penentu maju mundurnya sebuah peradaban, faktor lain berupa lingkungan dan pendidikan rumah tangga juga turut berperan. Penelitian tersebut semakin menegaskan keilmiahan sebuah riwayat dari Abdullah bin Umar ra., dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “….dan seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka..” (HR Bukhari Muslim)


Walhasil, peran seorang muslimah dalam menyongsong kebangkitan umat sangatlah luar biasa dan mulia. Peran tersebut memang sebuah peran yang luar biasa berat, oleh karena itulah peran ini haruslah ditanggung dan dilaksanakan secara berjama’ah, dan bersama-sama. Dan yakinlah bahwa kita adalah umat terbaik yang telah dilahirkan diantara manusia, dan apa-apa yang Allah wajibkan kepada muslimah pastilah dapat dikerjakan karena sesungguhnya secara fitri setiap muslimah telah dilengkapi dengan keistimewaan-keistimewaan tertentu untuk meraih kemuliaan yang telah dijanjikan Allah. Oleh karena itu. tolok ukur berhasil atau tidak peran wanita dalam kebangkitan mestilah diukur dengan tolok ukur yang Islami dan khusus buat wanita, dan tidak boleh dengan tolok ukur yang lain. Ketika pria dan wanita sama-sama menjalankan peran mereka, maka dengan pembinaan yang intensif, pengopinian yang kontinu dan pembentukan jaringan yang kokoh, maka akan terjadi peningkatan taraf berfikir dalam masyarakat dan insya Allah Islam akan bangkit.
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Jangan Persempit Makna Ukhuwah


Suatu ketika di momen jilsah, bertempat di masjid Abu Bakar Ikadi. Tema tausiyah dari seorang teman adalah ‘Ukhuwah Islamiyah’. Beliau menukil surat al-Hujurat: 10 “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” Usai pemaparan singkat, biasanya teman-teman langsung mengkomentari materi yang disajikan. Komentar kami tidak selalu bernada anti-tesa dari sebuah wacana, kadang berbentuk pertanyaan yang menggugah, tambahan informasi sekalipun kadang juga perlu adanya pembenaran sikap agar lebih tepat dan sesuai dengan konteks di lapangan.

Ulasan menarik yang pertama adalah susunan atau tarkib ayat, dimana Allah berfirmn yang artinya ‘SESUNGGUHNYA orang beriman itu BERSAUDARA maka DAMAIKANLAH saudaramu’. Kata إنما dalam ilmu balaghah mempunyai fungsi حصر atau pembatasan, bisa juga berarti تأكيد  atau penekanan. Dalam fungsi pembatasan, sebuah kata yang disusun setelah perangkat itu bisa dimaknai dengan ‘tidak ada lagi yang lain selain makna tersebut’. Bila perangkat tersebut mengawali kata-kata bersaudara, maka titik tekan dalam pemahamannya adalah; persaudaraan merupakan hakikat utama dan dasar bagi orang-orang beriman, tidak membuka ruang lain selain persaudaraan.

Akan tetapi susunan kata setelah itu adalah ‘damaikanlah antara kedua saudaramu’; فأصلحوا بين أخويكم. Ada sebuah ruang yang menyisakan kemungkinan bertikai dalam tubuh saudara seiman sendiri. Sekalipun perintah untuk mendamaikan itu tidak harus selalu diawali dengan adanya pertikaian, seperti pesan orang tua kepada anaknya yang hendak bepergian pakai motor ‘Jangan kencang-kencang’, padahal si anak belum menghidupkan motor. Perintah seperti di atas lebih dimaknai sebagai pesan preventif agar kita berjaga-jaga. Bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan keluar dari madhmun ukhuwah, maka perdamaian adalah solusinya.

Mungkin di antara kita banyak yang mengeluhkan perbedaan yang muncul dalam tubuh umat Islam. Perbedaan ormas, negara, kebijakan, pendapat madzhab fikih maupun akidah dan lain sebagainya. Banyaknya corak pemikiran dan kompleksnya dinamika kehidupan manusia meniscayakan keberagaman dalam hal-hal di atas. Nash-nash al-Quran dan bahkan riwayat dari Rasulullah sejak dulu menggambarkan kemajemukan tersebut, tentang pluralitas dan bukan pluralisme. Bahkan Allah sendiri menegaskan kalau saja Allah berkehendak maka kita akan dijadikan sebagai umat yang satu, tetapi ketidak-satuan umat ini adalah takdir yang sudah digariskan agar kita berlomba dalam kebaikan.

Bila secara psikologis kita tidak siap, dan secara pemahaman keagamaan kita terlalu ghuluw, ekstrim ataupun radikal, kita akan terjebak dalam ilusi kebenaran tunggal di ranah khilafiyah, dan ini harus dihindari. Berbeda dengan hal-hal ushul yang harus kita sepakati bersama.

At-Takalluf fil Ukhuwwah, ungkapan menarik dari seorang ustadz.Terlalu memaknai ukhuwah dengan ekstrim akan menempatkan kita dalam kesempitan dan kaku dalam bermuamalah. Takutnya kita justru menghilangkan ukhuwah itu sendiri. Karena bila seseorang yatakallaf fil ukhuwah dia akan mengartikan persatuan dengan segala sesuatu harus satu corak, satu gerakan, satu jalan, ini yang harus dihindari. Ukhuwah dalam perpektif saya bukanlah satunya warna bendera, ormas ataupun partai, tapi lebih pada kesatuan respon dan sikap dalam prinsip-prinsip mewujudkan perintah agama. Sedangkan cara dan warna bendera memungkinkan untuk berbeda.

Tenangkan diri anda ketika masih melihat tetangga yang bertegur sapa, ramadhan yang saling berbagi maaf, bertakziyah, sholat berjamaah di masjid yang sama atau hal-hal simpel dan remeh di mata kita, tapi sebenarnya itu adalah gambaran dari esensi ukhuwah yang sebenarnya.


Mari kita optimis dengan mengatakan ikhwah antara pihak yang tahlil dan tidak tahlil, antara partai kuning dan biru adalah ikhwah, mereka yang babat alas mendatangi rumah-rumah dan berwasiat dalam kebenaran adalah ikhwah, mereka yang berdasi dan duduk di ruangan-ruangan komisi adalah saudara, mereka yang memanjangkan jenggot dan mengatungkan celana adalah saudara, mereka yang berniaga di pasar-pasar dan berinvestasi saham di sebuah perusahaan adalah saudara. Mari kita kuatkan ukhuwah dengan saudara-saudara kita. Karena kita sejatinya orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah kedua saudaramu.
Selasa, 05 Mei 2015
Posted by Alamin Rayyiis

Menjaga Semangat Hidup


Masih ingatkah tentang mahakarya Kang Abik tentang novel megabestseller Ayat Ayat Cinta? Di cover-cover terbitan selanjutnya beberapa novel beliau selalu distempel dengan ‘Penggugah Jiwa’.  Bahkan beberapa novelis lain ketika menerbitkan sebuah karya dengan genre motivasi islami juga dibubuhi jimat penglaris yang sama; ‘Penggugah Jiwa’. Apa sebenarnya yang terjadi dengan jiwa sehingga ia butuh digugah? Pernahkah jiwa mengantuk lantas tertidur, atau bahkan mati sebelum saatnya tiba? Wal’iyadzu billah.

Hampir semua hal yang berkaitan dengan karakter atau sifat abstrak (spirit) manusia mempunyai tingkatan-tingkatan yang berbeda, bahkan tidak luput dari deraan fluktuasi bertambah dan berkurang. Sepertihalnya iman yang dijadikan pondasi awal, ia pun terkena sindrom bertambah dan berkurang; yazdâd bi thâ’ah wa yanqush bil ma’shiyah. Takut dan berani, sedih dan bahagia, minder dan bangga atau sifat abstrak lainnya mempuyai siklus dan fluktuasi yang berbeda antar manusia. Bisa jadi suatu kejadian menjadikan seseorang sedih, tapi di waktu lain, kejadian yang serupa ternyata sama sekali tidak menjadikannya gundah gulana, jiwanya telah berevolusi.

Semangat Hidup Harus Dijaga. Karena semangat sama dengan sifat abstraksi manusia lainnya, kadang naik di zenith teratas dan kadang turun di nadir terendah atau bahkan mati di tengah kehidupan. Semangat seseorang berbeda dengan orang lainnya dan semangat seesorang berbeda dari waktu ke waktu. Misal sederhana, seorang santri akan semangat belajar di kelas ketika menu pagi hari adalah ikan tuna, bagi santri lain hal itu dianggap biasa, karena semangat belajar di kelasnya lebih pada mata pelajaran favorit yang akan diajarkan oleh gurunya. Ketika seseorang mendengar iqra’ bismi rabbikalldzi khalaq maka ia akan semangat mengambil mushaf dan mentadaburinya, tapi bisa jadi di lain waktu ketika mendengar lantunan ayat yang sama ia belum bisa menggerakan semangat tilawahnya.

Orang yang patah semangat dalam hidupnya biasanya dipengaruhi oleh faktor dalam jiwanya sendiri maupun faktor dari luar.

Perasaan  bersalah. Sebenarnya, merasa bersalah adalah sikap yang positif, karena dengan sikap itu seseorang mudah untuk bermuhasabah dan introspeksi diri. Sensitifitas jiwanya mengarahkan kepada kehati-hatian dalam bertindak, terlebih ketika ia berbaur bersama banyak orang dan berinteraksi dengan orang-orang yang beragam karakternya. Akan tetapi, perasaan bersalah akan  menjadi boomerang bagi kita sendiri bila segala sesuatunya dimaknai secara berlebihan. Bila demikian, maka yang lahir bukan lagi instrospeksi diri tapi perasaan inferior atau rendah diri yang pada akhirnya menjadikan seseorang tersebut lemah semangat dalam menjalani hidup. Lebih bahaya lagi bila timbul perasaan berdosa tetapi malah membuatnya tidak berbuat apa-apa, serta menganggap bahwa jatuh dalam dosa adalah titik awal untuk sekaligus berbuat dosa selamanya.

Sedangkan faktor luar yang bisa menggerus semangat hidup kita adalah adanya ‘orang lain’. Dunia bukan hanya dihuni oleh Anda sendiri, ada dia dan mereka, kamu dan kita, semuanya mempunyai peluang untuk berkompetisi, memunculkan kebaikan masing-masing, maka di saat itulah seharusnya semangat hidup kita lebih terpacu, karena semakin kita bergerak maka jantung kita pun semakin berdetak. Bagi mereka yang menyukai pergerakan, momen inilah yang justru memunculkan hal-hal yang luar biasa. Adanya ‘the other’ dalam hidup jangan lantas merasa bahwa rumput tetangga lebih hijau, tapi katakan kepada diri bahwa rumput kita lebih berwarna.

Tidak ada kata terlambat untuk jiwa yang sedang lesu, tertidur atau mati. Karena selama ruh dan jasad kita masih menyatu, maka di setiap detik terdapat kesempatan kedua untuk memulai langkah-langkah baru. Kenapa demikian?

(SATU)  Kamu Terlahir Dengan Modal Sempurna. Kehidupan adalah anugerah Allah swt., dalam surat Shod: 72 dan al-Hijr: 29 Allah berfirman “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan Aku telah meniup kan kedalamnya ruh(ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” Sempurna fisik, sempurna jiwa.

Dengan modal yang demikian agung yang kita dapatkan dari Allah swt. maka tidak ada alasan bagi kita untuk menyianyiakan kehidupan di dunia, apalagi dihamparkannya bumi bagi manusia lagi-lagi untuk menerima bonus lain yang lebih besar,  kekal di surga adalah impian kita. Namun demikian, bukan manusia bila tidak terkena sindrom nisyân alias lupa. Begitu banyak untung yang didapat ternyata segera sirna hanya karena sedikit cobaan dan ujian yang melanda. Maka futur (lemah semangat) mendera, semangat untuk hidup pun  sirna. Ingatlah selalu modal terbesar yang telah diberikan Allah padamu, niscaya jiwamu berkobar laksana pasukan Badar bersama junûdun lam tarauhâ

(DUA) Mudamu Hanya Sekali. Siklus hidup manusia secara global hanya ditentukan dengan tiga masa; anak, dewasa dan tua. Bila kita timbang dari segi kekuatan jasad dan kesemangatan jiwa maka tiga masa itu adalah; lemah, kuat dan kembali lagi menjadi lemah, hal itu sebagaimana termaktub dalam surat ar-Rûm ayat 54, artinya masa kuat hanya dijatah sekali seumur hidup. Bukan tanpa alasan kenapa Roma Irama menyanyikan lagu dengan judul Darah Muda, karena periode itu adalah satu-satunya masa dimana Allah menitipkan kekuatan-Nya kepada manusia. Dengan kekuatan itu Pemuda Usamah bin Zaid memimpin pasukan, Muhammad al-Fatih membuka Konstantinopel dan Ashabul Kahfi yang teguh mempertahankan iman. 

(TIGA) Allah Menimbang Proses Beramal, Bukan Sekedar Hasil Akhir. Bukankah Allah menegaskan dalam kitab suci bahwa, tidaklah manusia akan mendapatkan kecuali dengan kadar amalnya? Dan di akhirat kelak tidak ada balasan bagi amalnya kecuali kesempurnaan baginya. Tidak peduli berapa kali terjerembab maka bangkitlah untuk kemudian melangkah dan mencoba lagi. Untuk apa kita meratapi kegagalan masa lampau bila usaha untuk mewujudkannya saja sudah dihitung pahala. Hidup terlalu mubadzir untuk tidak bermimpi, dan langkah tepat untuk mewujudkan mimpi adalah bekerja untuk membangunnya. Selama hidup di dunia maka selama itu juga kita jaga semangat bekerja. Karena ad-Dunya dârul ‘amal wal akhiratu dârul jazâ’; Dunia adalah negeri para pekerja dan akhirat adalah negeri mendulang pahala.
Kamis, 12 Maret 2015
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Semangat Hidup Bersama al-Quran


Awal dakwah Rasulullah saw. adalah periode merintis pengentasan zaman gelapnya jahiliyah menuju era penuh kerlip cahaya, merintis dakwah bukanlah hal yang mudah, ibarat menolong orang yang sudah terkatung di pinggir jurang, perlu kekuatan penuh untuk mengangkatnya dan di saat yang sama nyawanya juga terancam ikut jatuh ke dalam. Kafir Quraisy adalah orang-orang yang terjerembab dalam lumpur kebodohan, tapi mereka tidak merasa. Seperti inilah tantangan dakwah Rasulullah, dan seperti itulah tantangan dakwah semua utusan Allah.

Di beberapa riwayat Asbabun Nuzul surat ad-Dhuha karangan Imam Suyuthi mengisahkan bahwa, kesedihan Rasulullah sesaat muncul ketika wahyu Allah yang biasa dibawa oleh Jibril ‘terlambat’ datang kepadanya. Wahyu bagi Nabi ibarat tongkat penyangga saat penat melanda, wajar apabila dua hingga tiga hari Rasulullah tidak terlihat bangun di malam hari, kegundahan dirasakan lantaran seolah-olah beliau ditinggal oleh Jibril yang selalu membersamainya. Dan kondisi itu justru menjadi bahan hinaan oleh kafir Quraisy kepada Muhammad saw., bahkan mengatai-ngatai dengan “‘setan’nya Muhammad telah meninggalkannya”. Padahal tidak demikian, sehingga setelah Allah bersumpah menegaskan bahwa “Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu”. Dan di tengah rasa galau seperti itu, Allah mengakhiri surat tersebut dengan janji-janji kenikmatan yang dianugrahkan kepada kaum muslimin.

‘Amul Huzn’ adalah tahun kesedihan bagi Rasulullah, dimana di tahun itu beliau ditinggal oleh paman dan istrinya tercinta. Bukan tanpa alasan kenapa sebuah tahun di kehidupan Rasulullah mendapatkan istilah seperti itu, mengingat peran kedua orang tercinta Rasulullah saw. adalah orang-orang yang pasang badan dalam membentengi beliau. Abu Thalib adalah penguat Muhammad saw. dari desakan orang-orang luar, sedangkan Khadijah as. adalah penyelimut beliau saat Rasulullah berbagi keluh kesah. Dan sesaat keduanya meninggal. Setelah itu semua, datanglah Allah menghibur kekasihnya. Rasulullah melakukan safari rohani dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian darinya bertolak ke Arsy bersama Jibril.
Bila lemah semangat dalam hidup karena kesedihan atas hilangnya sesuatu yang kita cintai maka, Allah akan memberikan balasan yang lebih mulia bagi hambanya yang bersabar dan bertakwa. Bila lemah semangat dalam hidup karena kemalasan dan enggan untuk beramal maka, sesungguhnya setan sedang menjadikan masa-masa itu sebagai kenikmatan dan ketenangan semu belaka. Mari kita mendeteksi jiwa-jiwa kita bila sedang dilanda futur, apakah karena sedih atau memang karena malas? Sedih menunjukan adanya sifat rahmah atau kasih sayang dalam diri manusia, dan itu baik, masih ada kemungkinan membalikan kesedihan menjadi harapan kepada Allah swt. Tapi malas mengindikasikan bahwa jiwa kita sedang digerogoti oleh virus-virus setan, lemah semangat seperti inilah yang sejatinya memasuki level kronis.

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (Yusuf: 87)

Mari berkaca kepada sosok Ya’qub as., seorang Nabi bagi kaum Yahudi sekaligus seorang Ayah bagi ke-12 anak-anaknya. Yusuf dan Bunyamin adalah dua anak yang berbakti kepadanya, sedangkan 10 saudara lainnya adalah para  pembangkang yang sering menipu kedua orangtuanya. Kehilangan kedua anak yang berbakti merupakan pukulan psikologis yang luar biasa, sampai Nabi Ya’qub meratap sedih atas kehilangan Yusuf hingga kedua mata beliau menjadi  putih dan tidak mempunyai pandangan yang jelas.

Namun begitu, Ya’qub as. tetap bersikukuh untuk mencari Yusuf dan mencari Bunyamin yang lagi-lagi tersandera karena ‘ulah’ saudara-saudara mereka. Tersakiti oleh anak sendiri dan kehilangan Yusuf sosok penerus misi  ilahi membuat jiwa Ya’qub begitu haru. Tapi lihatlah, dia sama sekali tidak kehilangan asa untuk mencari. Tidak mudah kehilangan harap, bahwa suatu hari nanti ia akan kembali bertemu dengan anak kesayangannya, terlebih Allah menguatkannya dengan mimpi. Di usia  yang setua itu, saat jasad mulai melemah, tapi tidak lantas membuat ruh dan spiritnya mati begitu saja.
Dengan yakin, ia menyeru kepada anak-anaknya ‘Jangan kalian berputus asa, karena tidak ada orang yang berputus asa melainkan ia berada dalam kekafiran’. Sedemikian kerasnya peringatan yang disampaikan, berputus asa bisa menggiring dalam kekufuran, karena sejatinya orang berputus asa adalah orang yang mendahului takdir dan kekuasaan Allah. Karena Allah yang menentukan akhir dari segala usaha dan prasangka, ketika seorang hamba telah memutuskan untuk tidak berusaha dan mati dalam semangat untuk menggapai citanya, maka hamba tersebut telah menetapkan sesuatu yang bisa jadi Allah tidak berkenan terhadapnya.

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 139)

Semangat dalam hidup berbanding lurus dengan keimanan seorang hamba. Secara literal dan tersurat, larangan agar menghindari lemah semangat ternyata langsung datang dari Allah. Dan itu terkait langsung dengan status keimanan, dalam sudut pandang penulis, hal itu bukan berarti ketika seseorang tertimpa futur atau kesedihan lantas mengeluarkannya dari keimanan secara 100% alias menjadi kafir. Yang kami pahami adalah, keimanan seseorang akan tergerus sedikit demi sedikit, semakin sering dan semakin dalam seseorang tertimpa musibah futur dan sedih secara berlarut, maka tingkatan keimanan yang sudah lama dibangun akan roboh sedikit demi sedikit. Wal’iyâdzu billâh.

Menjaga semangat hati (penulis sebenarnya cenderung membahasakannya sebagai jantung) agar senantiasa hidup. Bagaimana membuat hati selalu hidup? Munculkan sensitifitas. Diam atau gerak hati tergantung bagaimana kita merespon sekeliling kita, menanggapi kejadian di lingkungan, kata-kata yang kita dengar atau aktifitas abstrak yang kita rasa. Ketika kita ngeh dengan keadaan sekitar maka sebenarnya hati kita sedang hidup, tentunya setelah itu diikuti dengan tadabur-tadabur, mengambil  hikmah dan pelajaran dari sebuah kejadian. Hikmah adalah sumber kekuatan bagi hati untuk senantiasa hidup, darinyalah manusia menjalankan saraf-saraf anggota tubuh untuk bergerak, berkata, mendengar atau melihat. Jangan terbiasa dengan sikap yang nihil atau netral, karena bila muara semuara perkara adalah baik dan buruk, maka netral adalah adalah sikap yang buruk. Selalu tumbuhkan rasa simpati dan empati terhadap sesama, selalu bersyukur atas nikmat Sang Pencipta, dari itu semua mari kita bergerak dan menggerakan jiwa untuk selalu berkobar dan bermanfaat bagi manusia. Allahumma Âmîn.



Posted by Alamin Rayyiis

Tips TAHFIDZ - TILAWAH - TADABUR al-Quran


10 Jurus Hapalan Al-Quran:

1.       1 Mushaf saja, jangan gonta-ganti
2.       25 Kali Pengulangan, Pasti Hafal
3.      30 Menit Sehari, Insya Allah Cukup
4.      Pelajarilah Varian Metode dalam Menghapal
5.      Mulai dengan Juz yang Mudah
6.      Perhatikan Ayat-Ayat yang Mirip
7.      Lancarkan Dulu, Baru Menambah Hafalan
8.      Setorkan Hafalan Anda
9.      Kapanpun, Dimanapun & Bagaimanapun, bawalah Al-Qur`an
10.   Ikuti Musabaqah Hifzil Qur’ân

10 Jurus Tilawah/Tartil Al-Quran
1.       Hiasilah lisan dengan nada dan suara yang merdu. Yaitu dengan bermulazamah dengan bacaan salah satu syaikh favorit
2.       Ikutilah komunitas yang konsisiten dalam tilawah Al-Quran. Misal ODOJ (One Day One Juz)
3.      Seriuslah dengan mempraktekan Makhraj Al-Huruf, Shifat Al-Huruf dan Ahkâm At-Tajwîd. Hal itu agar menambah keberkahan dan menghindari rasa bosan
4.      Luangkanlah waktu dan jadwal khusus untuk Al-Quran, jangan menunggu waktu luang
5.      Cobalah Variasi Bacaan Al-Quran, seperti; Tahqiq - Tartil - Tadwir – Hadr
6.      Gunakan Varian Mushaf Sesuai dengan Kebutuhanmu
7.      Luangkan waktu untuk sesekali mengoreksi tilawah secara bersamaan
8.      Biasakan membaca di tempat yang tenang dan penuh keberkahan
9.      Buatlah target khatam dalam pekanan atau bulanan
10.   Ulangilah bacaan ayat yang menggugah jiwamu
11.    Buatlah list surat dan ayat yang terakhir dibaca

10 Jurus Tadabur Al-Quran
1.       Memahami ayat yang dibaca dengan terjemah atau tafsir
2.       Tandai beberapa ayat penting seperti hukum, cerita maupun ayat-ayat yang sesuai dengan suasana hatimu
3.      Refleksikan ayat yang ditadaburi dengan menyampaikan kepada orang lain maupun menulis ringkasannya
4.      Carilah hadits yang sama dengan ayat Al-Quran yang dibaca
5.      Galilah informasi tambahan tentang ayat sejarah atau tempat kejadian
6.      Targetkan satu atau dua ayat untuk ditadaburi tadabur dalam sehari
7.      Gunakan varian mushaf yang mempunyai konten ensiklopedi
8.      Mentadaburi ayat yang sering dibaca ketika shalat
9.      Mentadaburi ayat yang populer dalam ceramah maupun ritual keagamaan

10.   “Bukan golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an dan mengeraskannya”. (HR. Al-Bukhori)

#Catatan ini ditulis dalam rangka melengkapi konten varian pembatas al-Quran dari salah satu penerbit al-Quran.
Jumat, 16 Januari 2015
Posted by Alamin Rayyiis

Hanya Adam Yang Tidak Dilahirkan


Hanya Adam yang tidak dilahirkan. Allah menciptakan manusia diawali dengan gumpalan tanah bumi yang dibentuk menjadi sosok makhluk bernama Adam alaihissalam. Dan setelah itu diciptakanlah seorang calon ibu bernama Hawa. Keduanya tidak mempunyai orangtua yang harus ditaati, melainkan hanya diperintahkan menghamba dan mengesakan Sang Pencipta. Setelah itu, keduanya adalah orangtua dari anak cucunya, dan sejak saat itulah, setelah Allah mengajarkan ketauhidan, Allah menambahkan ajaran pokok dalam agama-agama samawi dalam bentuk ‘berbakti kepada orang tua’, ajaran itu berlaku bagi semua anak manusia yang pernah dilahirkan dari rahim sang bunda.

Allah berfirman di surat al-Isra’ ayat 23-24 yang artinya: (23) Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (24)  Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil".

Ada beberapa kata kunci penting terkait dengan ayat di atas, antaranya adalah 1). Larangan menyekutukan Allah 2). Berbuat baik pada Orang Tua 3). Larangan berkata ‘ah’ dan berlaku kasar 4). Berbagi kasih sayang pada mereka.

Mengesakan Allah dan larangan menyekutukan-Nya merupakan ajaran inti semua agama samawi, wasiat yang telah diserukan oleh Adam hingga Muhammad saw. Berpegang pada tauhid dan menjauhi praktik syirik adalah satu-satunya kunci dimana seorang manusia ditentukan tempat kembalinya, surga atau neraka? Logika manusia, psikologi jiwa dan wahyu Allah telah menetapkan bahwa sudah fitrah bagi manusia untuk menghamba pada Tuhan Yang Esa. Tidak sekedar beribadah kepada Allah, kita juga tetap dilarang menyekutukannya, artinya tidak ada ruang campuran antara menghamba kepada Allah tapi di waktu yang sama masih menghamba pada dzat lainnya.

Setelah firman tentang ketauhidan, Allah menyambungnya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua. Penempatan sebuah ayat seperti itu tentunya bukan tanpa alasan, urutan kata-kata yang sedemikian rupa mempunyai titik tekan harmonisasi munasabah tersendiri. Dimana berbuat baik kepada orang tua ‘disejajarkan’ dengan perintah mengesakan Allah swt., hal itu bisa kita pahami bahwa dua perintah itu mempunyai nilai agung serta mempunyai muatan kewajiban yang sama. Bukankah Rasul juga berfirman bahwa ‘Ridho Allah terletak pada ridho orang tua, dan murka Allah terletak pada murka orang tua’. Ada garis vertikal yang menyambungkan struktur ketaatan dari seorang anak terhadap orang tua hingga berlanjut pada ketaatan Allah swt.

Satu lagi yang perlu ditekankan adalah, bila kita diperintahkan menghamba Allah dan diwaktu yang sama dilarang untuk menyekutukannya, maka dalam konteks berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, kita juga harus menghindarkan semua perbuatan yang mendurhakai keduanya. Sebenarnya ketika Allah berfirman dengan -wa bil wâlidaini ihsanan-, dan berbuat baiklah kepada orang tua, hal itu sudah cukup dipahami bahwa berbuat tidak baik kepada mereka merupakan hal yang dilarang, kesimpulan itu bisa kita ambil dengan pemahaman baliknya atau mafhum mukhâlafah; perintah berbuat baik kepada orang tua lawannya adalah larangan berbuat buruk kepada keduanya. Tapi untuk konteks orangtua sepertinya Allah memberikan tempat spesial di dalam kalam-Nya, karena perintah dan larangan di atas keduanya tersebut secara eksplisit.

Ketika Allah menyeru semua anak manusia agar taat dan berbuat baik kepada kedua orangtuanya, Allah sebagai Dzat Mahatahu paham bahwa kedua orangtua kita adalah sosok manusia. Allah tidak memerintahkan kita agar menganggap ayah dan ibu sebagai malaikat dalam arti sebenarnya, ayah dan ibu dalam kapasitasnya sebagai manusia bukanlah malaikat yang tidak mempunyai salah dan dosa. Ayah dan ibu yang kepadanya diperintahkan untuk taat adalah ayah ibu yang memungkinkan berbuat salah dan alfa.

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa bertambahnya umur orang tua kita maka, berjalanlah sunah kauniyah terhadap keduanya. Setiap manusia akan mengalami siklus dan periode dimana mereka pertama kali dilahirkan sebagai bayi yang lemah, dewasa menjadi kuat, kemudian bertambah tua bersama kembalinya kelemahan yang dulu ada. Di masa tua inilah orang tua kita rentan terhadap kelemahan-kelemahan fisik, wajah teduh yang terbalut kulit keriput, pendengaran dan penglihatan yang berkurang, langkah kaki yang kembali tertatih, dan cengkeraman tangan yang tidak lagi berotot. Semuanya serba merepotkan si anak. Tapi justru di masa-masa inilah Allah mengingatkan seorang anak untuk lebih berhati-hati dalam merawatnya.

Wa lâ taqul lahumâ uff. Dan janganlah kamu berkata ‘ah’. ‘Ah’ adalah ungkapan penolakan yang paling ‘santun’ bila dibanding dengan ungkapan lain yang mengekspresikan penolakan terhadap orangtua. Tapi seperti itulah Allah memuliakan kedua orangtua, sekedar berkata ‘ah’ saja tidak diperbolehkan bagi seorang anak ketika menolak perintah atau anjuran dari mereka, bahwa terkadang kita tidak bisa dan tidak mampu melakukan semua perintah ayah maupun ibu, haruslah hal itu diungkapkan dengan kata-kata yang baik, ungkapkan keengganan kita dengan tutur kata yang lembut dan sertakan alasan kenapa kita tidak bisa melakukan perintah mereka. ‘Ah’, dua huruf itu sangat tidak pantas untuk berapologi terhadap dua orangtua kita.

Maka, Mahabenar Allah dengan sabda Rasul-Nya; Suatu ketika datang seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang siapakah yang berhak mendapatkan cinta dan kasih sayangnya. Rasul pun menjawab ‘ibumu’, tatkala sahabat melanjutkan pertanyaan yang sama, Rasul pun mengulangi jawaban yang sama sebanyak 3 kali secara berurutan, baru setelah itu ‘ayah’lah orang yang harus kita berikan cinta dan kasih sayang kepadanya.


#Outline Syari’at:
  1. Al-ummu madrasatun idza a’dadtaha …
  2. Ya rasulullah man ahaqqu bi mushohabati …
  3. Ibu melahirkan anak adalah jihad
  4. Lelaki mencari nafkah untuk keluarga adalah jihad
  5. Surat al-Isra’; wa qadha rabbuka … wa la taqul lahuma uffin …
  6. Ridhallah fi ridhal walidaini …


Selasa, 06 Januari 2015
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © RAYYIIS -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -