Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Dimensi-Dimensi dalam Ibadah


Bismillah. Allah dan Rasulullah telah menurunkan agama Islam sebagai agama yang sempurna; universal, komprehensif dan integral. Mengakomodasi dimensi akhirat dan duniawi sekaligus, khaliq dan makhluq, jiwa dan raga, materi dan immateri, nikmatnya surga dan sengsaranya neraka dll. Semua yang berada di alam penciptaan dengan kedua sisinya mempunyai ‘tempat’ dalam agama Islam.

Untuk menghindari dikotomi dua sisi di atas maka kita harus belajar mengenali dimensi apa saja yang ada di dalam ibadah dan amalan-amalan dalam agama Islam. Sehingga keberadaan dimensi tersebut tidak dipelajari secara terpisah tapi menyeluruh. Dengan mengetahui keberadaan multidimensi dalam sebuah amal ibadah, kita akan melihat suatu ibadah pada porsinya, terhindar dari ifrath maupun tafrith, ghuluw maupun tasahul.

Misal, cara pemahaman dan pendekatan da’i-da’i klasik biasanya terlalu mengedepankan maqashid ukhrawiyah, cara penyampaiannya pun cenderung dominan dengan dogma maupun doktrin. Keterangan yang disampaikan seringkali mengesampingkan aspek-aspek humaniora. Bahasa dan istilah yang dipaparkan terlalu definitif atau terlalu hitam putih.

Kali ini kami ingin mencoba menggambar klasifikasi atau dimensi apa saja yang ada dalam setiap ritual ibadah seorang muslim, kami tekankan dengan kata-kata ‘ritual’ karena sesuatu yang multidimensi tadi biasanya melekat pada ibadah-ibadah dhahiriyah atau ibadah jawarihiyah, amal ibadah yang dilakukan secara terlihat kasat mata atau melibatkan anggota badan.

Beberapa dimensi yang biasanya melekat pada ritual ibadah tadi kami istilahkan dengan niat/ghayah – faidah/manfa’ah – adawat; tujuan – manfaat – fasilitas. Niat adalah azm atau tujuan utama dalam amal ibadah, atau alasan utama dalam mengerjakan sesuatu adalah untuk Allah semata, apapun, bagaimanapun dan kapanpun kondisinya. Tanpa tendensi materi, pragmatisme, keterkaitan emosional dengan pihak lain, murni hanya untuk Allah. Dan, bagaiamanapun Allah meresponnya. Tingkat ibadah yang didasari niat suci biasa tidak akan terpengaruhi faktor apapun.

Ibadah yang sarat dengan dimensi ini biasanya adalah ibadah mahdhah atau ibadah yang masuk kategori ghairu ma’qulatil ma’na, totalitas tanpa batas. Bahkan ketika sebuah ibadah mempunyai beberapa faidah dan manfaat dhahir baginya, tatkala ia tidak merasakan atau belum mendapatkan manfaat  itu, derajat penghambaannya dalam melaksanakan ibadah tersebut tidak berkurang sedikitpun.

Misal salah satu faidah dari shalat tahajud adalah kesehatan, bahkan ia menyembuhkan beberapa penyakit fisik seperti kanker maupun jantung. Ketika seseorang sedang ditimpa musibah berupa sakit, dan dia juga rajin mengerjakan shalat tahajud, akan tetapi Allah belum berkenan memberikan kesembuhan kepada hamba tersebut, maka insyaAllah indikasi niat suci dan murni itu ada pada orang tersebut. Misal lain, bila kita bersedekah maka Allah akan memudahkan dan melipatgandakan harta atau rezeki kita, tapi ketika seorang hamba rajin bersedekah dan mungkin penghasilan bulanannya lebih sedikit dari orang lain yang kikir, tetapi di waktu yang sama ia rajin bersedekah dengan ikhlas, maka insyaAllah hamba tersebut mempunyai indikasi niat dan ghayah hanya kepada Allah semata.

Sedangkan manfaat adalah sisi lain atau dimensi turunan yang muncul dari ibadah tersebut, atau kadang juga diistilahkan dengan hikmah, hikmah tasyri’/filosofi hukum Islam. Tentunya pembahasan ini masih menyisakan ruang diskusi untuk mempelajari perbedaan antara hikmah dan ‘illah. Kembali pada contoh di atas, bahwa salah satu manfaat atau hikmah tahajud adalah penguatan sistem imunitas tubuh ataupun efek positif pada neurologi otak kita.

Bila berbicara tentang manfaat atau alasan konkrit dalam suatu ibadah, biasanya amalan ibadah yang sarat dengan manfaat yang kasat mata biasanya diistilahkan dengan ibadah ghairu mahdhah atau ibadah ma’qulatul ma’na. Misal ibadah sahur, salah satu manfaat yang jelas terkandung dari sahur adalah agar kita kuat untuk menjalani puasa, oleh karena itu dihukumi sunah. Dan banyak sekali ibadah-ibadah dalam Islam yang mendatangkan manfaat yang lahir maupun batin.

Perlu sedikit catatan tambahan dalam poin ini, bagaimanapun juga, ibadah seseorang haruslah dititikberatkan pada perintah dan larangan yang datang dari Allah swt. maupun Rasulullah saw. secara an sich atau apa adanya. Namun demikian, bila kita kaitkan dengan cara dakwah da’i-da’i modern dewasa ini maka kita patut bersyukur bahwa kajian-kajian yang mengungkap dimensi manfaat atau hikmah dari sebuah ibadah tengah digalakkan. Inilah yang akhirnya melengkapi cara dakwah Islam, agar mengintegralkan antara perintah langit dengan manfaat yang tercecer dalam ritual ibadah manusia bumi. Dan memang masyarakat modern mempunyai cara berfikir yang lebih kompleks, dimana misteri sains, manfaat humaniora dan dimensi-dimensi keilmuan dewasa ini memang layak digali dari khazanah keislaman itu sendiri.

Kajian yang perlu dikembangkan dalam hal ini adalah islamisasi sains sudah diinisiasi oleh beberapa tokoh seperti; Ismail Raji al-Faruqi, Syaid Naquib al-Attas, Ziauddin Sardar, Hussain Nasr. Tokoh tambahan yang juga getol mengeksplorasi sains berbasis wahyu adalah Dr. Zaghlul an-Najjar, Agus Purwanto, D.Sc dll. Atau beberapa penelitian dari tokoh-tokoh sains yang beberapanya terekam dalam artikel http://www.eajaz.org.


Dimensi terakhir yang biasanya terkait dengan ritual ibadah kita adalah adawat atau perangkat penunjang dalam beribadah. Dimensi di luar ibadah yang keberadaannya kadang wajib atau sekedar sunah. Keberadaanya kadang bersifat dhoruri atau tahsini. Seorang Da’i yang mempunyai aktifitas padat, harus intensitas mobile alias wira-wiri yang tidak bisa lagi dihindari membutuhkan perangkat penunjang yang memudahkannya untuk beraktifitas, seperti mobil, motor, ihsan dari untuk transportasi dll, termasuk berdemokrasi dalam menegakkan nilai-nilai Islam di bumi nusantara. Tentunya hal-hal yang sifatnya demikian tadi harus disikapi dengan mentalitas zuhud dan wara’, sehingga sesuatu yang dasarnya sekedar penunjang jalannya ibadah atau dakwah, jangan sampai beralih maqam menjadi niyyah atau ghayah.

Ini ada contoh link dimana ajaran Islam dimaknai sangat dikotomis, akhirnya proses-proses atau pelatihan ritual ibadah yang memberi manfaat bagi banyak dimensi dikebiri sedemikian rupa, akhirnya justifikasi sesat, menyimpang, bid’ah, sinkretisme bertebaran dimana-mana. Ayat al-Quran dan hadits Rasulullah saw. diparadekan, ditampilkan secara berjejer, tapi minus istinbath dalil, wajhud dilalah dll: https://abufahmiabdullah.wordpress.com/2009/12/26/penyimpangan-abu-sangkan-dengan-bukunya-pelatihan-sholat-khusyu/
Selasa, 27 Oktober 2015
Posted by Alamin Rayyiis

Cara Pandang Akomodatif


Sebelumnya maaf bila telat dari momen yang seharusnya. Saya tergelitik dengan fenomena bc tentang Hari Kartini (dan sampai sekarang tidak ada Hari Kartono sebagai representasi ‘harinya’ para lelaki). Saya tidak ingin  membahas tentang konten dan sikap atas Hari Kartini, yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana seharusnya kita menyikapi wacana-wacana nasionalisme dengan loyalitas terhadap agama Islam. Tema yang klasik memang.

-Kenapa Harus Kartini?-

BC atau broad cast pertama yang bermunculan di media sosial, yaitu tanggal 21 April sebagai Hari Kartini, berisi tentang sanggahan atas ditetapkannya RA. Kartini (mungkin juga Harum namanya J) sebagai ikon perempuan yang bangkit melawan dominasi priyayi plus menggalakan emansipasi wanita dan perlawanan atas penjajah. Di BC tersebut dikatakan bahwa Kartini tidak seharusnya mendapat ‘perlakuan istimewa’ seperti itu.

Menurut opini itu Kartini tidak lain hanya seorang perempuan Jawa yang memang sudah intens menjalin komunikasi terhadap pihak Belanda, dan yang menjadikan Kartini seolah-olah pahlawan emansipasi wanita tidak lain adalah orang-orang Belanda sendiri. Kartini diceritakan sebagai inlander yang hanya mengekor penjajah dengan kemewahan-kemewahannya. Dimunculkannya Kartini tidak lain agar wanita Indonesia bisa tumbuh seperti wanita-wanita Belanda yang jauh dari agama Islam, norma dan budaya Indonesia.

-Tidak Hanya Kartini-

Bisa dikatakan BC yang lain merupakan tandingan dari opini sebelumnya. Bila sebelumnya Kartini diopinikan dan didiskreditkan sebagai antek Belanda maka BC tandingan berikutnya mempunyai konten dukungan terhadap putri Jepara-Rembang tersebut. Dikatakan bahwa Kartini adalah sosok kritis yang berani terhadap para penguasa Belanda atau penguasa pribumi, termasuk ayahnya sebagai bupati Jepara. Bahkan Kartini merupakan murid dari tokoh agama terkenal bernama Kyai Sholeh Darat (guru Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari). Bahkan beliau meminta kepada Kyai tersebut agar menerjemahakan al-Fatihah ke bahasa Jawa agar para pribumi bisa mempelajari al-Quran.

Di sisi lain tersebutlah nama pejuang-pejuang wanita yang tidak kalah –atau lebih- dahsyat dengan Kartini. Sebut saja Cut Nyak dien, Cut Nyak Meutia, Teungku Fakinah, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren dan Cutpo Fathimah dan Malahayati di Aceh , Dewi Sartika di Bandung, Rohana Kudus di Padang, dan Siti Aisyah We Tenriolle di Sulawesi Selatan dan lain sebagainya. Eh versi sejarah Islam klasik juga ada lho; Nushaibah, Nailah, Khaulah, Ummu Sulaim dll. ra.
----------

Intinya, ‘Kenapa Harus Kartini’ memberi respon konfontratif sedangkan ‘Tidak Hanya Kartini’ memberi kesan akomodatif. Respon konfrontatif muncul ketika bentuk apresiasi tidak merata kepada pihak-pihak yang mempunyai kontribusi yang sama. Istilah kasarnya adalah perlakuan diskriminatif. Di saat pejuang wanita tidak hanya seorang, dan bahkan bisa jadi kontribusi perjuangannya melebihi yang lain, kemudian adanya bentuk apresiasi yang berlebihan ke pihak lain, maka akan memunculkan sikap di atas.

Apalagi bila isu kepahlawanan berimbas kepada isu sensitif sektarian, antara Jawa dan Luar Jawa. Kartini adalah orang jawa, dan banyak pejuang perempuan yang lahir di luar jawa, dimana intensitas perjuangan dan pemberdayaan masyarakat di luar jawa bisa jadi mempunyai  tantangan yang lebih berat.

Kesan akomodatif adalah ketika kita tetap menghargai Kartini sebagai tokoh pergerakan nasional di awal kemerdekaan Indonesia, sekaligus sebagai ikon perempuan yang memberdayakan kaum wanita agar mendapat hak-hak kemanusiaannya secara sejajar dengan kaum lelaki (syarat dan ketentuan berlaku, Bro). Di sisi lain, kita juga harus ingat dan memberikan apresiasi yang sesuai haknya kepada para pahlawan perempuan sekaligus muslimah-muslimah yang juga telah bertetes keringat dan berkucur darah. Mereka adalah perempuan-perempuan hebat yang bila tidak mendapatkan tempat yang layak dalam pembelajaran nasionalisme dan sejarah Indonesia, bisa jadi kita tidak akan mengenal wanita Indonesia selain Kartini.

Itu kenapa tulisan-tulisan dengan cara pandang akomodatif sebenarnya mewakili cara pikir yang moderat dan integral. Dan ini seharusnya dijadikan pijakan dalam memaknai dan menjalankan roda pergerakan yang heterogen. Jangan terlalu mudah menafikan kontribusi orang lain yang memang benar-benar sudah berkontribusi hanya karena ingin kontribusi pihak lain diakui. Dan sebagai ‘penguasa’ atau para pemegang kendali di lini manapun, seharusnya tahu diri agar kontribusi orang lain tidak dikebiri atau sengaja untuk dilupakan.

Dan ini penting agar pembangunan negara tidak lagi tercerai-berai, terkotak-kotak antara nasionalisme dan agama. Cara pandang yang akomodatif, integral dan moderat mengharuskan siapa saja yang ingin merawat Indonesia agar merangkul semua pihak dengan latar belakang yang ada. Dan sekali lagi, syarat dan ketentuan berlaku.

#penulis: mahasiswa ushuludin yang bukan sejarawan

#link tambahan
1. Tiar Anwar Bahtiar, MA, “Mengapa Harus Kartini?”, di: http://republika.co.id/koran/155/42947/Mengapa_Harus_Kartini
3. http://www.kompasiana.com/pakcah/terlalu-banyak-pahlawan-perempuan-bukan-hanya-kartini_54f78de4a33311747a8b4721

Sumber Tambahan:
http://id.wikipedia.org/wiki/Rohana_Kudus
http://strategi-militer.blogspot.com/2012/07/laksamana-malahayati-adalah-laksamana.html
http://lenteratimur.com/we-tenri-olle-ratu-cendekia-dari-tanete/

http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/295-pahlawan/657-dewi-pendidikan-dari-cicalengka
Rabu, 05 Agustus 2015
Posted by Alamin Rayyiis

Jangan Persempit Makna Ukhuwah


Suatu ketika di momen jilsah, bertempat di masjid Abu Bakar Ikadi. Tema tausiyah dari seorang teman adalah ‘Ukhuwah Islamiyah’. Beliau menukil surat al-Hujurat: 10 “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” Usai pemaparan singkat, biasanya teman-teman langsung mengkomentari materi yang disajikan. Komentar kami tidak selalu bernada anti-tesa dari sebuah wacana, kadang berbentuk pertanyaan yang menggugah, tambahan informasi sekalipun kadang juga perlu adanya pembenaran sikap agar lebih tepat dan sesuai dengan konteks di lapangan.

Ulasan menarik yang pertama adalah susunan atau tarkib ayat, dimana Allah berfirmn yang artinya ‘SESUNGGUHNYA orang beriman itu BERSAUDARA maka DAMAIKANLAH saudaramu’. Kata إنما dalam ilmu balaghah mempunyai fungsi حصر atau pembatasan, bisa juga berarti تأكيد  atau penekanan. Dalam fungsi pembatasan, sebuah kata yang disusun setelah perangkat itu bisa dimaknai dengan ‘tidak ada lagi yang lain selain makna tersebut’. Bila perangkat tersebut mengawali kata-kata bersaudara, maka titik tekan dalam pemahamannya adalah; persaudaraan merupakan hakikat utama dan dasar bagi orang-orang beriman, tidak membuka ruang lain selain persaudaraan.

Akan tetapi susunan kata setelah itu adalah ‘damaikanlah antara kedua saudaramu’; فأصلحوا بين أخويكم. Ada sebuah ruang yang menyisakan kemungkinan bertikai dalam tubuh saudara seiman sendiri. Sekalipun perintah untuk mendamaikan itu tidak harus selalu diawali dengan adanya pertikaian, seperti pesan orang tua kepada anaknya yang hendak bepergian pakai motor ‘Jangan kencang-kencang’, padahal si anak belum menghidupkan motor. Perintah seperti di atas lebih dimaknai sebagai pesan preventif agar kita berjaga-jaga. Bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan keluar dari madhmun ukhuwah, maka perdamaian adalah solusinya.

Mungkin di antara kita banyak yang mengeluhkan perbedaan yang muncul dalam tubuh umat Islam. Perbedaan ormas, negara, kebijakan, pendapat madzhab fikih maupun akidah dan lain sebagainya. Banyaknya corak pemikiran dan kompleksnya dinamika kehidupan manusia meniscayakan keberagaman dalam hal-hal di atas. Nash-nash al-Quran dan bahkan riwayat dari Rasulullah sejak dulu menggambarkan kemajemukan tersebut, tentang pluralitas dan bukan pluralisme. Bahkan Allah sendiri menegaskan kalau saja Allah berkehendak maka kita akan dijadikan sebagai umat yang satu, tetapi ketidak-satuan umat ini adalah takdir yang sudah digariskan agar kita berlomba dalam kebaikan.

Bila secara psikologis kita tidak siap, dan secara pemahaman keagamaan kita terlalu ghuluw, ekstrim ataupun radikal, kita akan terjebak dalam ilusi kebenaran tunggal di ranah khilafiyah, dan ini harus dihindari. Berbeda dengan hal-hal ushul yang harus kita sepakati bersama.

At-Takalluf fil Ukhuwwah, ungkapan menarik dari seorang ustadz.Terlalu memaknai ukhuwah dengan ekstrim akan menempatkan kita dalam kesempitan dan kaku dalam bermuamalah. Takutnya kita justru menghilangkan ukhuwah itu sendiri. Karena bila seseorang yatakallaf fil ukhuwah dia akan mengartikan persatuan dengan segala sesuatu harus satu corak, satu gerakan, satu jalan, ini yang harus dihindari. Ukhuwah dalam perpektif saya bukanlah satunya warna bendera, ormas ataupun partai, tapi lebih pada kesatuan respon dan sikap dalam prinsip-prinsip mewujudkan perintah agama. Sedangkan cara dan warna bendera memungkinkan untuk berbeda.

Tenangkan diri anda ketika masih melihat tetangga yang bertegur sapa, ramadhan yang saling berbagi maaf, bertakziyah, sholat berjamaah di masjid yang sama atau hal-hal simpel dan remeh di mata kita, tapi sebenarnya itu adalah gambaran dari esensi ukhuwah yang sebenarnya.


Mari kita optimis dengan mengatakan ikhwah antara pihak yang tahlil dan tidak tahlil, antara partai kuning dan biru adalah ikhwah, mereka yang babat alas mendatangi rumah-rumah dan berwasiat dalam kebenaran adalah ikhwah, mereka yang berdasi dan duduk di ruangan-ruangan komisi adalah saudara, mereka yang memanjangkan jenggot dan mengatungkan celana adalah saudara, mereka yang berniaga di pasar-pasar dan berinvestasi saham di sebuah perusahaan adalah saudara. Mari kita kuatkan ukhuwah dengan saudara-saudara kita. Karena kita sejatinya orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah kedua saudaramu.
Selasa, 05 Mei 2015
Posted by Alamin Rayyiis

Mencari Lagu Arab Fusha


Alhamdulillah. Saya sebagai fans of Arabic Fusha Song merasa beruntung mendapat kiriman lagu di grup w.a kami yg keren abis, Glory.Mind. Tribute for Ust. Ari Suharyadi, bos wedus  dan praktisi bisnis, sekaligus pengelola situs islami.

Hari2 ini ada beberapa teman yg bertanya lagu arab apa yang cocok untuk diajarkan santri/santriwati, karena sejak dulu saya merasa cemburu atas kelangkaan lagu arab fusha, lagu mesir, libanon, syiria yg bergenre pop sama sekali jauh dari nuansa arab fasih. berbeda dengan lagu2 inggris yg begitu mudah di dapat, enak di dengar dan pas untuk pengajaran peserta didik di mapel bahasa inggris.

Hingga akhirnya saya bertemu dengan Humood al-Khudher, ketika saya populerkan di salah satu lembaga pendidikan di Sragen (DIMSA; Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen) dan di Tengaran MA IT (Nurul Islam), anak-anak terlihat suka mendengarkan lagu pop tersebut. bukan maksud mengesampingkan lagu2 bergenre HIDA' yang tanpa musik, sekalipun banyak dan menggunakan bahasa arab fushah tapi tingkat penerimaan peserta didik terhadap genre tersebut tidak semassif pop atau nasyid pada umumnya.

Kita tidak bisa memaksa cinta Arab dengan stimulus2 yang melangit, harus diawali dengan hal-hal sederhana yang tepat dan sesuai dengan kecenderungan dan minat bakat peserta didik kita.

Selamat untuk Bro Nadia Mahfuzoh yang membawakan (atau mungkin juga membuat liriknya) lagu Cinta Sejati - OST Habibi Ainun Versi Arab. melihat latar belakang beliauwati sebagai mahasiswi di sebuah univ negeri (UIN MALIKI) bukan di Arab/Timur Tengah, tidak berlebihan kalau saya rate 9 bintang (tur jangan dikait2kan ke NU/Walisongo lho ya). Ada baiknya bila ybs melihat dan mendengar lirik dan lagu2 Arab yang dibawakan oleh orang-orang Arab. darinya mungkin bisa diambil  pelajaran tentang TARKIB KALIMAT, MUFRODAT atau gaya2 selingkung.

______________
#Sorry to post such this content on my pure thought and opinion blog, yet the unformated text i wrote. But i see that main ide inside this article is value enough to post here :D.

- https://soundcloud.com/alamin-rayyiis/cinta-sejati-arab-nadia-mahfuza (DENGERIN SINI)
- http://humaniora.uin-malang.ac.id/berita/393-bsa-berkarya-ost-habibi-ainun-versi-arab.html (SUMBER)
- http://habbilima.blogspot.com/2014/05/lagu-habibi-ainun-versi-arab.html (LIRIK)


Rabu, 18 Februari 2015
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

PEMBELAJARAN BAHASA ARAB MELALUI MEDIA ELEKTRONIK RADIO


  1. PENTINGNYA BAHASA ARAB; FAKTOR KEAGAMAAN DAN FAKTOR GLOBALISASI
Hal mendasar yang kita tahu tentang al-Quran adalah, bahwa segala yang termaktub di dalamnya merupakan wahyu Allah swt., kosakata, uslub, penempatan ayat, urutan surat dan bahasa, semuanya didasarkan pada grand design. Kemampuan editing dan layouting dari lauful mahfudz oleh Yang Mahatahu menjadikan al-Quran  sebagai kitab segala rujukan.
Sebuah kata yang, sekedar tersebut di dalam al-Quran saja seharusnya sudah membuat para pembaca memberikan perhatian penuh terhadap kosakata itu; buah tin, zaytun, jahe, semut, laba-laba, gajah, bumi, bintang, matahari dan lain sebagainya. Sangat tidak mungkin bila sebuah kata termuat dalam al-Quran dan hanya dimaksudkan sebagai penghias dan pelengkap EYD saja. Ada keajaiban-keajaiban yang seiring berjalannya waktu akan terungkap, sisi sains maupun humaniora.
al-Quran yang menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa tunggal mempunyai alasan tersendiri, faktor holistik, faktor alam dan kemanusiaan lainnya turut menjadi hikmah yang menegaskan keajaiban al-Quran. إنا أنزلناه قرأنا عربيا لعلكم تعقلون ‘Sesungguhnya telah kami turunkan al-Quran menggunakan bahasa Arab agar kalian memahaminya’. Korelasi ayat di atas menarik bila kita kaji lebih lanjut, penggunaan bahasa Arab dalam al-Quran disinkronkan dengan tujuan agar kita memahaminya.
Di beberapa terjemahan kementerian agama tertulis menggunakan redaksi ‘agar kalian memahami/mengerti’, tapi bila kita kembalikan ke makna bahasa تعقلون mempunyai arti spesifik dan berbeda dari sekedar memahami. ‘Aqlun adalah ikatan , artinya segala sesuatu mempunyai standar keabsahan tersendiri, tentang kebaikan maupun keburukan. Dari pemahaman terminologi di atas bisa kita hipotesakan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan gama; akidah, syari’at ataupun kisah-kisah dalam al-Quran sejatinya mempunyai dasar pemahaman awal atau al-ma’na al-qarîb dalam al-Quran yang dimanifestasikan dari bahasa Arab.
Faktor di atas paling tidak mewakili dimensi holistik dari bahasa Arab. Faktor lain yang juga menguatkan adalah, bahwa bahasa Arab merupakan bahasa akhirat. Sejak alam barzakh, padang mahsyar hingga digiringnya manusia menjadi dua kelompok besar, ashâbul yamîn dan ashâbus syimâl.
Lebih dari itu, dalam dimensi ilmu bahasa atau linguistic bahasa Arab mempunyai peran tersendiri dalam berkembangnya studi etnologi, melacak bagaimana perkembangan etnis dan budaya di atas bumi ini. Kita banyak menemukan bahasa-bahasa serapan yang bersumber dari bahasa Arab, hal itu bisa ditegaskan dari pengakuan Zigrid Hunge dalam Syamsul ‘Arab Tastha’ alal Gharb, bisa dikatakan sebagai pakar ethnologi berkebangsaan Prancis yang dengan jeli memperhatikan transformasi istilah yang berkembang antara Arab dan bangsa lain yang secara tidak langsung ter-asimilasi-kan dengan kesamaan istilah dalam bahasa mereka.
Berbicara tentang bahasa Arab tentu tidak lengkap bila tidak menyertakan pakar linguistik kenamaan, pengarang  fiqhul lughoh. Keunikan bahasa ini hampir terdapat pada seluruh komponen, per-huruf, per-kata, per-uslub. Balaghoh, badi’, ma’ani-nya mempunyai pembahasan tersendiri. Struktur bahasa yang hampir tidak disamai dengan bahasa lainnya.
Pembahasan di atas mewakili pentingnya mempelajari bahasa Arab dari segi holistik al-Quran, bahasa Tuhan, ethnologi maupun linguistic bahasa Arab itu sendiri. Terlepas dari itu, apakah bahasa Arab mempunyai daya tawar tersendiri dalam kancah global? Ataukah ia hanya menjadi pemanis ustadz-ustadz dalam ceramah mereka saat mengutip bait-bait indah syair Imam Syafi’i?
Perlu kita ketahui bahwa Arab tidaklah terbatas pada Arab Saudi saja seperti yang diduga oleh orang awam kebanyakan. Arab sebagai bahasa atau bangsa terbentang dari benua Asia dan Afrika. Sedangkan Arab sebagai semangat beragama atau sebagai icon Islam tersebar secara massif di seluruh dunia. Artinya, bahasa Arab sejak awal sudah mempunyai potensi global.
Potensi bangsa-bangsa Arab selama ini dipandang sebagai negara dengan padang tandus, panas, berdebu, hitam kecoklatan atau perpektif pasif lainnya. Tapi sebenarnya dibalik itu Arab mempunyai sumber alam yang spesial, ibarat pepatah don’t judge the book by it’s cover, maka jangan menilai negara Arab dari permukaan. Jauh di dalam timbunan padang tandus tersebut, alamnya melimpah ruahkan sumber energi bagi manusia. Perut buminya mengalirkan minyak bumi dan menyimpan jutaan kubik gas yang bahkan membuat bangsa Eropa dan Amerika iri dan perlu untuk mengambilnya, dengan cara apapun, investasi maupun invasi.
Melihat daftar kekayaan sumber daya alam bangsa Arab yang demikian memukau, hal itu membuat siapa saja yang ingin mencicipi kekayaan mereka mengharuskan menguasai bahasa Arab, dan perlu ditekankan bahwa, penguasaan terhadap bahasa adalah pengetahuan tentang budaya mereka, tentang karakter penduduk, kearifan lokal, papan-sandang-pangan mereka dan lain sebagainya.
Disamping itu, kemampuan bangsa Arab sendiri masih terbatas, bagaimana mereka mengolah dan mengeksplorasi hasil bumi mereka, pastilah mereka membutuhkan peran ‘luar’ sebagai partner bekerja. Dan kebutuhan bahasa Arab dalam mengkomunikasikan antar pihak itulah yang kami anggap penting dan menjadi sebuah keniscayaan. Tentunya dibarengi dengan kapasitas negara dan bidang apa yang membutuhkan. Pembantu rumah tangga, investasi perusahaan seperti yang dilakukan oleh Elang Group pada perusahaan Sadco, home staff atau local staff di kedutaan, perusahaan pengeboran minyak dll.
Sebaliknya, bahasa Arab juga menjembatani para investor Arab yang ingin menanamkan modal mereka di Indonesia, Malaysia atau negara muslim lainnya. Perlu kita tahu bahwa para pelancong negara Arab ternyata lebih memilih Malaysia sebagai tempat wisata mereka ketimbang Indonesia, hal itu bisa diindikasikan dari banyaknya hotel syari’ah, kafe syari’ah atau fasilitas-fasilitas umum yang lebih bernuansa islami. Maka banyak sekali investor-investor Arab yang berkepentingan dalam ‘Arabisasi’ perusahaan di Indonesia.
Hal tersebut terbukti dalam skala internasional, dimana perusahaan sponsor klub bola seperti Barcelona dengan Qathar Charity, Manchester City dengan Etihad, Arsenal dengan Emirate, bahkan secara kepemilikan saham mereka berani menanamkan modal besar-besaran. Atau dalam skala nasional di Indonesia, penulis dalam sementara waktu pernah bergabung dalam sebuah group kecil yang memfasilitasi dan memediasi antara investor Qathar dengan target tanah, hotel dan perusahaan di Indonesia. Semuanya tidak terlepas dari proposal-proposal sponshorship yang berbahasa Arab.
Kita juga tahu bahwa banyak dana sosial yang dikucurkan oleh negara-negara Arab melalui WAMY, AMCF, atau dermawan-dermawan yang tidak masuk dalam intansi apapun, mereka membutuhkan komunikasi dengan bahasa Arab ketika berinteraksi dengan masyrakat Indonesia, secara dialog harian, laporan-laporan administrasi, semuanya tidak bisa terlepas dari latar belakang kemampuan berbahasa Arab.

  1. KOMUNITAS BAHASA ARAB DI INDONESIA
Keberadaan bahasa Arab di bumi Indonesia mempunyai umur yang sama panjangnya dengan nenek moyang kita, versi sejarah yang sudah tereduksi menyebutkan baru-baru saja di abad 13 masehi, akan tetapi menurut testimoni sejarawan-sejarawan muslim lain disebutkan keberadaan bahasa Arab di Indonesia adalah sejak masa-masa khulafaur rasyidin yaitu abad 7 masehi.
Bahkan ulama kita zaman dahulu lebih memilih bahasa jawa yang ditulis menggunakan huruf-huruf Arab sebagai media penulisan buku-buku agama, Arab pegon. Para Kyai seperti Bishri Musthofa dengan Tafsir al-Ibriz, Mishbah Musthofa dan lain sebagainya sudah menggunakan Arab pegon sebagai media tulisan ilmiah mereka. Dan hal itu dipelajari sejak dulu hingga sekarang, pembelajaran model klasik seperti sorogan dengan menggunakan diktat berbahasa Arab.
Pondok-pondok modern atau klasik, yang berformat formal swasta (MTs/MA sederajat) maupun pondok tradisional ala ‘kalong’ (menimba ilmu formal di luar) dan menimba ilmu keagamaan di dalam asrama pondok, dari dulu hingga sekarang masih menunjukan eksistensinya dengan bahasa Arab sebagai bahasa utama untuk diajarkan. Dan lebih dari itu, sekolah-sekolah formal dibawah kementerian agama, MTsN/MAN juga menjadikan pembelajaran-pembelajaran bahasa Arab sebagai salah satu materi inti.
Tidak cukup sampai di situ, kursus-kursus intensif seperti yang ada di Kampung Ingrris, Pare, juga cukup menggeliat, pembelajaran bahasa Arab di tingkat perguruan tinggi juga tidak terhitung lagi jumlahnya, entah di jurusan sastra Arab maupun jurusan Agama Islam. Semuanya mensyaratkan bahasa Arab sebagai materi inti yang harus dipelajari.
Artinya, komunitas bahasa Arab di Indonesia tidak bisa lagi dipandang sebelah mata, jutaan orang sudah mengenal pembelajaran bahasa Arab di instansi mereka masing-masing, dengan fluktuasi kemampuan yang bisa dibilang mencolok. Peserta didik di Gontor misalkan, setelah menguasai bahasa Arab hingga level membaca Arab gundul ternyata harus dihadapkan dengan dasar-dasar bahasa Arab lagi, dan itu justru ketika ia naik di jenjang pendidikan perguruan tinggi di fakultas keagamaan maupun sastra Arab. Atau peserta didik di Mts maupun MA yang bisa jadi kemampuan bahasa Arab mereka terbatas pada kosakata ism, maupun dialog harian seperti greeting atau dialog dasar lainnya.
Oleh karena itu, perlu ada pembiasaan berbahasa Arab di jenjang yang lain, dengan fasilitas yang lebih mudah terjangkau, menghibur, dan familiar di masyarakat. Kita harus menghindari stigma; setelah lulus dari pondok atau MA maka bahasa Arab tersebut nganggur karena tidak mendapatkan ruang lingkup yang dengannya mereka menyalurkan bakat bahasa. Fasilitas kita dalam mengapresiasi kemampuan berbahasa Arab masih terbatas pada batasan-batasan formal seperti lomba pidato tiga bahasa. Belum menyentuh tataran bawah. Maka, sangat disayangkan apabila pengenalan dan kemampuan bahasa Arab yang selama ini didedikasikan oleh para pendidik hilang begitu saja setelah mereka keluar dari lembaga pendidikan tersebut.

  1. RADIO SEBAGAI MEDIA ELEKTRONIK YANG FLEKSIBEL
Radio adalah salah satu media elektronik yang familiar di hati masyarakat, keberadaannya yang sudah lama membersamai masa-masa senggang, menjadi sumber dan rujukan informasi, hingga sebagai media pembelajaran; agama, bahasa atau tema-tema humaniora. Keberadaannya mudah dijangkau oleh ekonomi masyarakat manapun, kaum tani maupun mahasiswa di Harvard University, semuanya bisa menikmati hidangan para DJ yang mengudara.
Maka tidak jarang, fenomena sosial masyarakat kita erat hubungannya dengan apa yang dibawakan oleh radio. Apa yang mereka dengar turut membentuk kepribadian masyarakat, secara sadar atau bawah sadar. Berbagai ungkapan dan gaya bicara sedikit banyak juga dipengaruhi oleh media elektronik ini. Di ruang itulah kita sebagai media dakwah agama dan pembelajaran bahasa masuk di sela-sela hiruk pikuknya aktifitas masyarakat.
Dari pihak penyelenggara pun tidak membutuhkan peralatan berat layaknya stasiun televisi. Hanya dibutuhkan antena trasmiter, ruang studio untuk rekaman, mixer dan komputer operator, maka seorang  penyiar sebagai DJ lagu, pengajar, penceramah, entertainer dan sebagainya sudah mampu mengudarakan materi yang ingin mereka sampaikan. Oleh karena itu keberadaan stasiun radio mempunyai frekuensi kwantitas yang lebih banyak dari stasiun televisi. Di tingkat kabupaten, bisa kita temukan berbagai radio lokal yang mengudara.
Bila perangkat radio zaman dahulu masih berupa combo besar yang sulit untuk dibawa kemana-mana, maka radio sekarang sudah dalam bentuk yang lebih mini dan efisien. Radio sekarang sudah masuk dalam komponen hp, mp3 maupun streaming internet. Hal itu tentunya, lebih memudahkan audience untuk selalu stay tune di radio kesayangan mereka masing-masing.

  1. METODE PEMBELAJARAN BAHASA MELALUI RADIO
Impian untuk mengudarakan bahasa Arab dan membumikan bahasa al-Quran ini bisa kita mulai dengan menempatkannya sebagai materi acara di sebuah stasiun radio. Acara-acara edukasi tersebut tentunya harus tetap menimbang kemampuan dari komunitas audience. Format yang dibawakan bisa dalam bentuk pembelajaran formal maupun bentuk entertaiment. Bisa dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Arab, sekalipun tentunya porsi penyampaian dengan bahasa Arab harus lebih dominan.
1.      Request lagu dan kirim salam
2.      Biografi sahabat
3.      Cerita inspiratif
4.      Drama
5.      Berita
6.      Talk Show
7.      Terjemah Fauri buku tafsir – Syarh Hadits
8.      Kuis atau tebak-tebakan

Format program di atas tentunya harus dirancang seprofesional mungkin; penanggungjawab acara, materi, penyiar, komunitas pendengar, sehingga keberadaan acara tersebut tetap mempunyai bargaining dan branding position. Program-program di atas bisa dikemas dalam acara inti sebuah radio maupun sebagai sesi pelengkap di sela-sela acara.
Jumat, 22 Agustus 2014
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

3M: 'Meteor' Memang Merusak


‘Meteor’ itu jatuh tergeletak di atas meja makan kami, warung Pekalongan, entah sengaja atau tidak, koran itu terpampang jelas di hadapanku sehingga aku mengambilnya karena memang judul di halaman utamanya berupa kalimat provokatif dan jelas-jelas parno. Sekilas teman saya melihat bagian-bagian dalam, dia menemukan tanya jawab yang menggunakan bahasa arab, matan hadits, fatwa ulama’ yang juga menggunakan bahasa arab. Masih di koran yang sama lembaran demi lembaran di buka hingga di akhir halaman secara bersamaan mataku melirik salah satu kolom khusus tausiyah, ditulis oleh salah satu ustadz ternama di Solo.

Lembar pertama koran di atas menyediakan kolom khusus cerita dewasa, frase dewasa hanyalah pemanis kata yang mengelabui publik, karena hakikatnya akan selalu menjadi cerita mesum. Terlebih judul cerita yang diangkat adalah “A** Mengh***ili Tan**ku”, jijik memang. Judul itu tidak hanya memberikan kesan halal berzina, tapi lebih dari itu, menggauli seorang mahram. Di halaman tengah secara tiba-tiba kami dikejutkan dengan kolom khusus yang memuat beberapa pertanyaan dengan bahasa Arab. Sangat kontras dengan yang pertama yang memuat cerita mesum, di halaman tengah itu dimunculkan bahasan khusus keagamaan. Disertakannya kalimat-kalimat arab seolah-olah memberi kesan keagaaan yang kuat, bagaimanapun juga literatur arab adalah icon dari agama islam, dari segi keilmuan bahasa arab juga menjadi domain utama dalam referensi agama.

Yang lebih mencolok lagi adalah di halaman terakhir, dimana Ust. Ahmad Sukino memberi taushiyah sekaligus tanya jawab yang berkenaan dengan tema sensitif.  Punggawa Majlis Tafsir Al-Quran ini membahas tentang hukum yasinan dalam kaca mata agama islam. Tidak ada yang spesial dalam pembahasan itu, karena memang seperti biasa, tidak disertakannya pendapat ulama-ulama lain yang lebih mumpuni, karena memang pembahasan yasinan, amalan orang hidup untuk mayit mempunyai akar pembahasan dalam buku-buku fikih.

Sekarang kita ingin membicarakan desain pemikiran yang melatarbelakangi rubrikasi atau redaksi koran yang oleh beberapa teman mengatakan “Oalah, meteor, wajar kalau kayak gitu”. Sekalipun dalam prinsip saya selalu saya katakan bawa kewajaran bukanlah syarat mutlak diboleh sesuatu, wajar bukanlah legitimasi, dia hanya pemakluman kausalitas. Rubrikasi yang kontras dan sangat mencolok seperti di atas tidak mungkin hanya sekedar oleh berita dan informasi, set-plan yang ada menunjukan ada kecenderungan untuk membentuk pola berpikir yang salah. Konten koran yang seperti pecel atau gado-gado, cenderung tanpa prinsip, atau bahkan berprinsip, tapi apa dan bagaimana prinsipnya?

Meteor seolah-olah ingin memanfaatkan pangsa pasar dari pembaca masyarakat awam dan pinggiran, karakter pornonya membidik mereka dengan menghadirkan cerita mesum seperti di atas. Lebih khusus mereka ingin membidik kaum muslim yang merupakan penduduk mayoritas Indonesia, mereka ingin menggarap dan mentransfer pola pikir pecel kepada masyarakat muslim yang awam, maka dimunculkanlah ikon-ikon islam seperti hadits atau kutipan-kutipan arab langsung dengan menggunakan abjad hijaiyyah. Sedangkan dimunculkannya tausiyah oleh Ust. Ahmad Sukino (AS) juga syarat cuci otak. Ust. AS tersebut merepresentasikan sebuah lembaga kajian yang semakin meluas masyarakatnya sekalipun kajiannya melawan mainstream yang ada. Paling tidak kita mempunyai 3 kata kunci; liberal, arab/islam dan ekstrem.

Koran ini ingin membangun citra bahwa kehidupan yang lumrah atau wajar adalah, tidak mengapa kita membaca cerita-cerita mesum seperti itu, sekarang adalah era terbuka, bebas, liberalisme. Sehingga orang-orang awam semakin kehilangan rasa pakewuhnya dengan konten-konten seperti itu, apalagi di koran yang sama ditampilkan konten islami, ustadz dan lainnya. Seolah-olah semua variable di atas halal, biasa dan bisa berjalan berdampingan. Di sisi lain, yang merupakan lawan liberal adalah konten ekstrim (tasyadud) pemuatan tausiyah oleh AS itu sendiri. Konten ini mewakili pemikiran ekstrim yang dengan mudahnya mengharamkan amalan-amalan ibadah, dan jarang sekali mengedepankan adabul khilaf. Secara tidak langsung, mslim liberal akan semakin liberal karena mendapat konten pornografi dengan mudahnya dan di tempat terbuka, sedangkan muslim ekstrim akan semakin ekstrim dengan fatwa-fatwa AS.


Dan yang membuat saya heran, kenapa AS merestui tausiyahnya dipublikasikan koran meteor yang mana halaman utamanya memuat cerita mesum? Redaksi Meteor memang canggih, licin dan pintar.
Jumat, 17 Januari 2014
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

al-Mutasyaddiduun = the eXtremes


Sehari yang lalu im diajak bareng sama teman untuk pengajian menghadiri muadharah syaikh salafy, di tengah perjalanan menuju lokasi, kami melewati salah satu toko yang di bagian depannya tertulis kullu 'am wa antum bi khoir, bimunasabati maulid nabawy as syarif, sebuah ucapan doa terkait mendekatnya peringatan maulid nabi. Sahabatku menunjuk-nunjuk sambil menertawakan banner yang dipasang di depan toko tersebut, serasa keheranan ia pun mengajakku untuk bersama-sama menertawakan, entah apa maksudnya, im pun hanya bisa mengiyakan, ayyuwah ana asyufu ana 'arif.

Sekembalinya dari acara kami menaiki metro anfaq, bila di perjalanan berangkat ia tadi memperlihatkan banner ucapan selamat dalam rangka maulid nabi, tanpa maksud pamer  im keluarkan buku cover merah dengan harga murah unyuk im baca di sela-sela perjalanan pulang, temanku pun bertanya buku apa gerangan yang im buka, dengan senang hati aku tengadahkan buku karangan mufti Mesir Syaikh Ali Jum'ah, dijual dengan harga 6 pond didistribusikan salah satunya di Maktabah Mujallad Araby, tanpa maksud menyindir ia pun dengan antusias membuka halaman demi halaman buku dengan judul al-Mutasyaddidun atau dalam file Msword yang im terjemahkan, im save as dengan nama the eXtremes.
Rabu, 25 Januari 2012
Posted by Alamin Rayyiis

Klaim Kafir dalam Islam (1)

Ahlu Sunah wal Jama’ah adalah istilah yang muncul untuk menunjukan siapa saja yang berada di atas manhaj Salafus Solih dengan berpegang teguh pada al-Quran, Sunnah, dan atsar yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw. dan para Sahabat Ra. agar bisa dibedakan dan terpisah dari madzhab bid’ah dan sahwat. Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata dalam bukunya al-Ghunyah li Thalibil Haqq; Sunnah adalah apa yang ditradisikan oleh Rasullah Saw. dan para jama’ah dari para sahabat yang sepakat atas apa saja yang ada pada masa Khulafaur Rasyidin. Syaikh Abul Fadhl bin Abdus Syakur dalam bukunya al-Kawakib al-Lamma’ah; Ahlu Sunah wal Jama’ah adalah yang senantiasa berada pada tradisi Nabi dan jalan para sahabat dalam akidah, ritual keagamaan dan akhlaq dalam batin.

Rasul Saw. bersabda; Telah terpecah orang Yahudi menjadi 71 atau 72 golongan, demikian pula orang Nashrani, dan telah terpecah umatku menjadi 73 golongan, dikeluarkan oleh Tirmidzi. Dan di Riwayat lain ada tambahan; Semuanya di neraka kecuali satu milah saja, mereka para sahabat berkata, siapakah mereka ya Rasulullah? Rasul pun menjawab; Mereka adalah yang berpegang pada apa yang ada padaku dan para sahabatku. Imam Manawi dalam Faidhul Qadir berkata; berkata Zain alIraqi dalam sanadnya orang-orang yang jayyid, dan Hakim meriwayatkannya dari berbagai thuruq kemudian berkata sanad-sanad ini berlaku dengannya sebuah hujjah, dan mengitungnya sebagai derajat mutawatir. Imam Baghdadi dalam bukunya al-Farqu baynal Firaq berkata; Hadits yang membicarakan tentang perpecahan umat mempunyai sanad yang banyak, dan telah diriwayatkan dari Nabi golongan dari para sahabat seperti; Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Darda’, Jabir, Abu Sa’id al-Khudry, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Amru bin Ash, Abu Umamah, Watsilah bin Asqa’ dan lainnya.

Para ulama berbeda pemahaman dalam hadits tersebut, sebagian memahami pembatasan golongan islam yang terpecah seperti jumlah angka yang tersebut, sedang sebagian lain memahami bahwa hadits ini sekedar mengisaratkan sebuah jumlah yang banyak dan tidak menunjuk ke angka yang tersebut, karena golongan yang ada sampai sekarang adalah lebih banyak dari angka yang terdapat dalam nash.
Sabtu, 04 Juni 2011
Posted by Alamin Rayyiis

Mengenal Turats (Mukadimah Makhthutat)

NB: Editorial majalah Sinar Muhamadiyah edisi 51


Turats, segala sesuatu yang ditinggalkan oleh manusia pada masa lampau, hingga keberadaannya masih eksis hingga sekarang. Dengan definisi umum diatas tentunya setiap manusia mempunyai warisannya tersendiri . Tentunya yang akan kita bincangkan disini tidak serta merta menyeluruh dari semua aspek yang ada pada manusia atau lingkungannya, ada batasan dan skala prioritas yang kita sajikan dalam bahasan ini. Sebagaimana turats selalu identik dengan warisan Islam; budaya, pemikiran, manuskrip, sistem dan bahkan sumber beragama. Namun begitu, kita harus jujur bahwa warisan/ turats yang ada tidaklah terbatas dalam lingkup itu saja. Dari agama: Kristen, Budha, Majusi dll meninggalkan warisan tersendiri. Peradaban dan negara pun mempunyai suatu keistimewaan khusus yang secara turun temurun diwariskan kepada penerusnya.

Bukan tanpa hikmah bila mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah al-Quran yang tersimpan secara suthûr dan sudûr. Rasa-rasanya penting bila kita kerucutkan pembahasan ini pada warisan Islam berupa tuliskan manuskrip-manuskrip yang ditinggalkan oleh para ulama pendahulu. Pasalnya, bukti keotentikan kodifikasi dan budaya ilmiah yang terkandung di dalamnya selalu bisa dipertanggungjawabkan secara proporsional dan objektif. Banyak alasan kenapa kajian manuskrip Islam tetap eksis dan malah cenderung naik daun bersamaan dengan kebangkitan kajian keislaman lainnya.
Rabu, 16 Maret 2011
Posted by Alamin Rayyiis

Linguistik (Ilmu Bahasa)

Linguistik dikenal sebagai ilmu yang mempelajari bahasa manusia. Lantas, apakah bahasa itu sendiri? Kalau merujuk ke suatu istilah akan kita temukan definisi yang beragam, tapi kesemuanya terkumpul dalam kata kunci 1) perangkat, sistem, kode, ucapan dll, 2) perwakilan, penuturan, pengucapan, penggunaan dan penyampaian, 3) gagasan, ide, maksud dan tujuan. Linguistik mempunyai 3 unsur utama yang meliputi; bentuk, makna dan konteks. Seperti kata ‘kenapa’, secara bentuk dia terdiri dari 3 morfem/ suku kata, memiliki makna mempertanyakan alasan, dalam konteks yang berbeda kalimat tersebut bisa bermakna lain seperti menunjukan pertentangan/ istifham inkari.

“The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.” Itu menurut The New Oxford Dictionory of English, 2003. Sengaja ada bagian yang saya un-bold karena sebenarnya hal tersebut lebih kepada contoh terapan dan derivasi cabang dari bahasa itu sendiri.

Sederhananya, bahasa adalah alat yang digunakan untuk mengutarakan sesuatu, kullu wasilatin yu’abbiru kullu qaumin maqâsidahu.
Sabtu, 12 Maret 2011
Posted by Alamin Rayyiis

Definisi Peradaban [2]

Definisi Turunan

Sedangkan culture, dalam bahasa Jerman merujuk makna peradaban, akan tetapi mayoritas bahasa Inggris dan Perancis lebih merujuk kepada makna budaya, dan bukan peradaban. Oxford Advanced menyebutkan term ini sebagai; 1) kemajuan kekuatan manusia secara mind atau pun body. 2) bukti atau peninggalan kemajuan keintelektualan. 3) keadaan dimana kemajuan keintelektualan dicapai oleh sekelompok manusia. 4) semua seni, kepercayaan, institusi social beserta karaktersitik.

Term ini baru berkembang luas di Eropa sektiar abad 18. Sebagaimana istilah lainnya, culture (to inhabit, to cultivate, or to honor)  berasal dari bahasa Latin colere yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Bersinonim dengan culture  di bahasa Inggris, budaya dianggap kata yang pas untuk bahasa Indonesia. Secara akar kata ia berasal dari bahasa sansekerta budhayyah sebagai bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal.
Sabtu, 09 Oktober 2010
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Definisi Peradaban [1]

Mukaddimah

Segala sesuatu yang mencakup alam wujud pasti mempunyai nama sebagai tanda keberadaanya. dan maklum kita ketahui bahwa di belahan bumi manusia ini bahasa yang mereka gunakan untuk me-nama-kan sesuatu tidaklah sama.  Sehingga di beberapa keadaan, benda dan wujud lainnya kita menemukan lebih dari satu nama untuk ‘sesuatu’ yang sama. Namun begitu, esensi wujud tersebut sebenarnya tetaplah sama sekalipun mempunyai kata-kata yang berbeda. Terlebih untuk sesuatu yang menjadi kepemilikan bersama atau, sesuatu yang wujudnya bisa dirasakan, diraba, dilihat atau dipelajari oleh semua orang.

Menindaklanjuti mukaddimah di atas, penulis ingin menyederhanakan definisi peradaban secara berurut dari bahasa ke istilah. Dari bahasa pun ‘peradaban’ mempunyai banyak derivasi dan gabungan. Dan tidak berhenti sampai disitu, akan tetapi term yang kita bahas ternyata mempunyai beberapa istilah sinonim dan bahkan sebutan lain yang belum baku dan hanya digunakan di sebagian tempat saja. Beberapa keyword yang ingin disampaikan berkenaan dengan definisi peradaban ialah: hadharah, ‘umran, tamaddun, civilization, culture, peradaban dll. Secara garis besar yang akan kita bedah adalah bahasa utama Arab, Inggris dan Melayu.

Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Facebook, Yahudi dan Israel :-??

Tentang fatwa, kok ada isu kayak gini kembali digulirkan, gimana sih. Kalau emang mau berfatwa tentang haram, makruh, mubah dan halalnya jejaring sosial kenapa tidak sedari dulu ketika ada FS, MP, Blog, YM, hp bahkan, dan lainnya. Dimana jejaring sosial yang dicontohkan diatas juga tidak menutup kemungkinan menyimpan mudhorat yang sama dengan apa yang mereka khawatirkan; khalwat via dunia maya, menunda waktu prioritas untuk ibadah, bermalas-malasan di depan komputer dan seabreg mudhorot lainnya yang dijadikan alasan digulirkannya isu tentang hukum ber-FB.

Prinsipnya simpel, segala sesuatu kalau berlebihan emang diharamkan, tanpa menafikan fasilitas maya yang disandang oleh jejaring sosial tersebut diatas: silaturahim, sharing status (baca: curhat), tuker ide kayak gini :p dll.
_____________________________________

Stop, sampai sini saja, karena emang yang ingin im bahas bukan masalah fatwa, tetapi sisi lain FB yang, menurut im juga patut diselediki, hehe sebagai langkah awal. Bermula dari... isu, yops alias kabar burung/ manuk/ thair/ bird...$#T%%#^.... bahwa FB ini katanya punya wong Yahudi/ Jews.

1.
Pernah kebayang ga kawan kenapa PENGISTILAHAN yang dipakai oleh admin FB ini memakai kata "Dinding/ Wall" sebagai tempat kita nulis-nulis komen dan status.... Dan kalau im inget isu diatas rasa-rasanya ada yang ngganjel di otak (bukan tumor, bukan juga abis kejedot). Si Jews soale punya kaitan erat dengan istilah diatas; dinding/ wall, tepatnya DINDING Ratapan/ Wailing WALL/ Western WALL.

Konon kata-nya (dhomir 'nya' kembali ke; wikipedia dan wesite lain yg sempet kebuka...:p) Dinding Ratapan adalah tempat penting bagi kaum Yahudi dan Islam, dikatakan demikian karena dinding tersebut disebutkan sebagai sisa peninggalan bangunan yang dibangun di era Raja Salomo atau, menurut kita; Nabi Sulaiman.

Oleh orang Yahudi, dinding ini dijadikan sebagai tempat meratapi dosa-dosa mereka, itu kenapa mereka menamakannya dengan Dinding Ratapan, juga mereka menyisipkan corat-coret yang berisi doa dan ratapan. Orang Yahudi Ortodoks membagi blok tersebut menjadi dua tempat untuk laki-laki dan perempuan ketika berdoa, karena mereka meyakini bahwa tidak boleh berdoa bersama-sama di tempat sama antara laki dan perempuan (ga boleh ikhtilath gitu kali yah).

Keyakinan lain bagi mereka yaitu tidak hancurnya tembok tersebut karena disanalah bersemayamnya Tuhan. Walaupun berkali-kali mengalami penguasaan dan penghancuran, khusunya penyerbuan Romawi di tahun 70 Masehi, dan yang tersisa pun kini tinggal 60 meter dari sebelumnya 480 meter. Penguasaan silih berganti atas wilayah ini dan sekitarnya yang tercatat antara lain; Spanyol, Turki dan di era kita ini tentunya antara negara Arab Mesir -Jordnia - Palestina - Israel. Walaupun sejak perang 6 hari kepenguasaan tersebut dimiliki oleh Israel, tapi secara kepengurusan Palestina/ Yordania memegangnya (halah, sawa' pakot jalik ihna majluum)

Nah bagi orang Muslim, WALL ini konon katanya juga merupakan tempat bertolaknya Nabi Muhammad Saw. ketika mengadakan safari indah mi'raj ke langit sekaligus sebagai pondasi bangunan Masjidil Aqsa dan Qubbah Shakhra.

Dinding ratapan=....#$%$^..... status FB.....%$^......komen...... curhat........catatan..... R U confused...... cuman pengen mecut otak saja...hwahaha.

2.
Lagi, sekarang masalah warna. Warna apa yang didominasi oleh si FB KITA ini...? bagi yang masih muda dan ngefuns sama juz gazar depan darasah pasti akan bilang; warna dominasi FB adalah BIRU dan PUTIH (bukan BIRU dan ITEM lho yah, klw itu mah Inter bangee.. ). Dan kembali lagi otak im kada ngganjel karena jadi inget bendera yang klebet-klebet di pemukiman Palestina yang terjajah oleh ISRAEL/ Yahudi. Ya, dominasi warna FB kita persis dengan warna bendera Israel, garis lurus atas bawah dan logo dengan warna BIRU, dan sisanya PUTIH.

3.
Contoh lain, baru saja kepikiran googling, eh dapat ini:
http://www.kematian.biz/article/teknologi/facebook-takluk-pada-yahudi.html

________________________________________

Nomor satu dan dua secara singkatnya adalah paparan tentang demonstrasi akan eksistensi suatu kelompok dengan logo - simbol - jargon ataupun pengistilahan-pengistilahan khas dengan kelompok itu. Memang ada kebanggaan tersendiri bila sekelompok tersebut dengan leluasanya mendominasi masyarakat awam dengan kode-kode semacam itu, seolah-olah eksistensinya juga ikut mewarnai lingkungan disekitarnya. Kayak kita laah, punya baju dibordir dengan tulisan GLORIUS kek/ BLITZA kek atau WALAPA680 :P.


#_^:
Jadi heran nih, ujian2 kok malah banyak hal2 mletik di kepala yah...
Senin, 25 Mei 2009
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

'Nafs Wahidah' Bagian I* (Perspektif Klasik dan Kontemporer Penciptaan Wanita)


Prolog

Seseorang yang jalan-jalan di sebuah toko perhiasan biasanya akan jeli meneliti 'bahan' apa yang dibuat oleh pengrajin suatu perhiasan tersebut. Kalau dia melihat di toko emas maka dia pun akan menanyakan berapa karat kah kandungan emas dalam cincin atau kalung yang akan dia beli, dia taku kalau yang ia terima nanti justru imitasi dan bukan asli seperti yang diharapkan. Bila seseorang berjalan di toko sepatu maka dia pun akan menanyakan bahan apa yang dibuat, asli dari kulit atau imitasi dari karet. Hal seperti diatas adalah wajar sebagai pembeli, dia akan memantapkan bahan pembuatan sebelum dia membelinya, karena bahan akan erat kaitannya dengan kualitas yang akan dia terima. Rupa-rupanya, si pembeli tidak lantas berhenti setelah menanyakan bahan cikal-bakal sepatu dibuat, karena setelah itu si pembeli menanyakan siapa pembuat atau 'made in' manakah sepatu yang dia incar?

Penciptaan dan Kesalahan Steorotip

Sudah maklum bahwa adanya sebuah penciptaan akan diperhitungkan pula bahan dan yang membuat suatu 'cipta' tersebut, tentunya selama yang mencipta cipta tersebut
adalah manusia yang notabenenya terbatas dengan kemampuan dan selalu terikat dengan ketergantungan-ketergantungan lainnya. Namun begitu, akan berbeda bila yang menciptakan cipta tersebut sebuah kekuatan yang kemampuannya tidak terbatas dantidak pula terikat dengan ketergantungan, karena Dia adalah Maha Pencipta.

Mempertimbangkan penciptaan atas dasar bahan materi dan pencipta adalah wajar bila konteks yang dibicarakan adalah wilayah sosial kemasyarakatan seperti yang dicontohkan dalam prolog di atas. Tetapi bila kita membincang masalah penciptaan sakral keagamaan, maka cara berpikir desakralisasi laiknya kita peritimbangkan lagi. Ajaran langit dalam agama tentu bukan berarti tidak memungkinkannya dijamah pemikiran bumi, namun sejauh mana otoritas berpikir itu mewakili etensitas nash-nash yang sedari awal sudah tertata dengan penjagaan kuat laiknya isnad. Mempersoalkan bias gender yang sementara ini lagi ngetrend, sekelompok orang mengaitkannya dengan awal penciptaan manusia, Adam dan Hawa.

Kami katakan sekelompok orang karena steorotip yang digambarkan nanti memang dipandang sebagai sebuah pencitraan subordinasi yang tidak bersumber jelas. Dampaknya adalah keputusan yang terburu dengan outline pembahasan yang bias visi. Dikatakan dalam ulasan mereka, bahwa adanya subordinasi pemahaman masyarkat yang menomorduakan perempuan dalam posisi mereka sebagai makhluk yang seharusnya 'sederajat' dengan kaum lelaki rupa-rupanya tidak terlepas dari pemahaman masyarakat yang salah terhadap nash agama dalam penciptaan.

Namun sayang, dalam hal ini, kemunculan sumber yang mengatakan hal tersebut tidak jelas. Hingga suatu saat nanti bangunan yang ada dalam kaidah berpikir/worldview Islam akan dengan leluasa goyah dikarenakan methode berpikir yang selalu mengikuti fenomena kemasyarakatan. Apalagi bila hal yang dijamah adalah hal-hal irratio/suprarational dalam agama. Karena perlu kita ketahui bahwa kehidupan berpikir dalam agama disana ada wilayah-wilayah akal yang tidak semuanya bisa ia capai. Dalam hal ini Quraish Shihab membagi wilayah akal dalam agama; Rational, Irrational dan Suprarational.

Pendapat sementara yang dimaksud adalah, kaitan penciptaan Hawa yang menjadi icon perempuan dengan, adanya subordinasi steorotip masyarakat dalam memposisikan wanita secara derajat sosial dan fungsional sebagai second person. Pengulasan tersebut beranjak dari kritik nash yang diback-up dengan kritik penafsiran dari ayat al-Quran dan Hadits Shohih.

Materi Penciptaan dan Posisi Kemanusiaan

Bila yang mereka maksud adalah demikian, maka bagaimana posisi mereka -penyetara gender- dalam menghadapi fenomena penciptaan manusia pasca Adam dan Hawa yang tidak lain diciptakan dari setetes mani yang hina. Apakah lantas manusia bumi yang diciptakan dari setetes mani hina ini dikategorikan dengan posisi second-creation-Nya Allah, atau lantas derajat kita juga dinisbahkan dengan bahan materi penciptaan tersebut.

Secara derajat kenabian memang tidak disangsikan lagi bahwa Adam akan lebih mulia dari manusia biasa yang dicipta dengan mani, tetapi bila membincang imam para Nabi, Muhammad Saw. maka tidak disangsikan lagi bahwa derajat Nabi Muhammad -yang juga dicipta dari mani- menjadi beda dengan derajat Nabi Adam. Dan lagi, bila posisi dan kualitas manusia hanya diukur dengan penciptaan/ kelahiran, maka bagaimana dengan mereka yang terlahir non-Islam dan kemudian menjadi seorang muallaf, apakah tertutup kemungkinan muallaf tersebut mempunyai derajat keimanan yang lebih kurang dari orang yang terlahir sebagai muslim?

Dengan analogi real diatas maka, bagaimana penyetara gender tersebut mamahami dan menafsirkan nash agama yang menyebut secara manthuq 'dan mafhum' "lelaki adalah qawwâmûna 'ala al-rijâl". Siasat bagaimana lagi ketika mereka menemukan bahwa pembagian asas dalam hak waris anak lelaki dan perempuan adalah 2:1. Dan masih banyak lagi ketentuan agama yang secara dhohir terlihat membedakan antara lelaki dan perempuan. Tetapi apakah kaum lelaki akan juga berpikiran demikian –menyamaratakan perbedaan hak perjenis- , ketika wilayah-wilayah keagamaan dan kemasyarakatan hanya berpihak bagi perempuan dan ruang bagi lelaki terbatas baginya. Seyogyanya kita paham bahwa disana ada bagian-bagian yang selazimnya hanya berpihak pada lelaki atau sebaliknya, dimana hak tersebut hanya berpihak pada perempuan tentunya dengan tidak dirugikannya kedua belah pihak, hirâsatu al-fadhîlah.

*Bagian pertama dari tulisan ini membahas tentang perspektif yang dilontarkan dalam journal tersebut dari segi subordinasi pemahaman masyarakat seperti yang mereka dakwakan. Sedangkan bagian II nanti insyaAllah lebih menekankan tentang membincang dalil perseteruan di al-Quran dan Sunnah serta pemahaman ulama klasik dan kontemporer, semoga.
Selasa, 07 April 2009
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Pendidikan Indonesia dan Wacana Kebangkitan Bangsa

Satanic circle, atau ‘lingkaran setan’, suatu gambaran dari lingkaran problematika yang tidak kunjung usai. Terlebih ketika komponen pembentuk lingkaran tersebut adalah problem-problem yang saling merugikan. Sebut saja krisis moneter (baca: ekonomi) yang menjadi komponen pertama dalam ‘lingkaran setan’ ini.

Ekonomi mengalami kemorat-maritan dengan melambungnya harga kebutuhan, inflasi keuangan, kenaikan BBM, kenapa bisa terjadi? Karena kancah perpolitikan yang tidak stabil dan dikuasai oleh para elite yang tidak paham akan nasib rakyat. Kenapa elite politik bisa seperti itu? Karena praktek politik mereka berdasarkan uang dan bukan pendidikan? Kenapa system pendidikan bisa menelurkan petinggi negara yang korup dan jauh dari nilai-nilai pendidikan itu sendiri? Karena untuk meraih pendidikan dibutuhkan biaya mahal dan mustahil bagi mereka yang non-elit bisa mendapat pendidikan. Lagi-lagi kembali ke ekonomi, kerusakan ekonomi disebabakan ketidakstabilan perpolitikan, ketidakstabilan perpolitikan disebabkan pendidikan yang tidak benar, dan seterusmya. Ilustrasi tersebutlah yang memunculkan ide akan adanya istilah satanic circle atau ‘lingkaran setan’. (Suatu waktu di aula Pondok Modern Darussalam Gontor. Oleh; Ust. Nur Hadi Ihsan. MIRKH ketika pembekalan kelas 6 2006.)

Saat lingkaran tersebut semakin lama menjadi sebuah bola salju yang makin membesar maka, ‘faktor pendidikan’ lah yang akan kita pangkas sebagai pemutus lingkaran problematika tersebut. Pertanyaan selanjutnya “Pendidikan yang bagaimanakah yang ingin ditawarkan, sehingga menjadi sebuah solusi konkrit dari multi-problem tersebut?”
Coba kita renungkan, tahun 2007 silam Indeks Pembangunan Pendidikan (Education Development Indek) yang dikeluarkan UNESCO, menempatkan Indonesia turun pada posisi 58 menjadi 62. Nilai yang diperoleh Indonesia turun dari 0,938 menjadi 0,935. Begitu pula bila kita melihat indeks pembangunan manusia (IPM), layak mawas diri, karena Indonesia berada di urutan 107. Pencapaian Human Development Index (HDI) ini sungguh merosot bila dibanding tahun 1997. Tahun itu kita berada pada urutan 99. Bahkan, yang mencemaskan, urutan HDI kita masih tertinggal bila dibanding dengan Vietnam yang berada di peringkat 105.
Pendidikan merupakan sarana utama dalam segala pembentukan masa depan, dalam bidang apapun, kapanpun pendidikan selalu menjadi actor utama. Untuk melanggengkan kemakmuran suatu negara pendidikan menjadi sebuah kekuatan untuk terus bisa mengeksistensikan negara tersebut. Dan bahkan, bagi negara-negara ketiga ia juga menjadi solusi utama dalam pembangunan. Banyak sejarah telah membuktikan bahwa eksistensi suatu negara tidak akan bertahan lama bila ditopang dengan idealisme non-pendidikan. Jerman runtuh dengan hebohnya NAZI dan Hitler, pertahanan negara runtuh justru ketika back up-nya militer. Rusia pun tak pelak runtuh dengan ideology komunismenya.

Perlunya prioritas sektor tersebut bukan suatu ide kebetulan belaka, karena pendidikan adalah proses pendewasaan suatu individu, pun juga dalam skala komunal, negara. Indonesia yang sejak terlepas dari penjajahan (baca: agresi militer) Belanda dan Jepang masih saja mengalami penjajahan non-militer seakan belum sadar bahwa butuh solusi lain untuk bisa mengentaskan multi-krisis yang sampai sekarang masih melanda Indonesia. Sumber daya alam (natural resource) yang melimpah -dan justru inilah yang dijadikan alasan kenapa bangsa kita dijajah- masih belum bisa dijadikan jalan keluar lantaran sumber daya manusia (human resource) yang masih dibawah standar. Yang perlu diingat adalah bahwa, sumber daya alam hanyalah kumpulan bahan mentah dan mati, maka untuk bisa menjadikannya sumber kekayaan pendongkrak kemiskinan dibutuhkan sumber daya hidup yang professional dalam pengolahan yaitu, sumber daya manusia, pendidikan.

Flash back dan cerminan sejarah dari Jepang, negara penjajah yang mengalami kehancuran total di tangan Amerika justru bisa bangkit dalam kurun waktu yang tidak lama. Sektor pendidikan lah yang menumubuh-kembangkan sektor lainnya, pendidikan menghidupkan bagaimana industri bisa berjalan sesuai rancangan pembangunan negara, hingga manipulasi agraria yang banyak terinovasi dari Jepang juga diawali dengan pendidikan.

Berbanding balik dengan negeri kita sendiri. Selama dasawarsa terakhir, dunia pendidikan Indonesa secara kuantitatif telah berkembang dengan cepat. Tahun 1965 jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 3.233 dengan jumlah murid dan guru sebesar 11.577.943 dan 274.545 telah meningkat pesat menjadi 150.921 SD dan 25.667.578 murid serta 1.158.004 guru (Pusat Informatika, Balitbang Depdikbud, 1999). Jadi selama kurun 30 tahun kuantitas pendidikan Indonesia mengalami peningkatan hampir 300%. Sayangnya kuantitas tersebut masih belum menyelaraskan dengan kualitas yang masih belum merata di skala pembangunan nasional. Disana masih ada perbedaan antara pendidikan kota-desa, negeri-swasta, Jawa-Luar Jawa apalagi kesenjangan antara peserta didik yang kaya dan miskin.

Dengan cerminan diatas, standarisasi dan peran pendidikan nasional dipandang masih belum bisa menyelesaikan krisis nasional yang sudah lama dan mengakar sampai ke mental masyarakat Indonesia, mental terjajah. Sebuah paradigma bahwa yang dirasakan selama ini adalah pendidikan justru menjadi sebuah penghambat laju ekonomi atau pembangunan bangsa. Pendidikan nasional sistem persekolahan tidak bisa berperan sebagai penggerak dan loko pembangunan, bahkan Gass (1984) lewat tulisannya berjudul Education versus Qualifications menyatakan pendidikan telah menjadi penghambat pembangunan ekonomi dan teknologi, dengan munculnya berbagai kesenjangan: kultural, sosial, dan khususnya kesenjangan vokasional (lapangan pekerjaan) dalam bentuk melimpahnya pengangguran terdidik.

Ada yang salah dengan peran pendidikan yang dipraktekan oleh bangsa ini, sekalipun dalam tataran teoritis pun juga praktis. John C. Bock, dalam Education and Development: A Conflict Meaning (1992), mengidentifikasi peran pendidikan tersebut sebagai : a) memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai sosio-kultural bangsa, b) mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan mendorong perubahan sosial, dan c) untuk meratakan kesempatan dan pendapatan. Peran yang pertama merupakan fungsi politik pendidikan dan dua peran yang lain merupakan fungsi ekonomi.

Dari Problem Ke Solusi
Menyangkut kondisi bangsa yang semakin hari memasuki perkembangan zaman yang tak bisa lagi terelakkan, dan konskwensi logis dari hal tersebut adalah adanya hal-hal yang dituntut untuk diadakannya rekontruksi ulang, tak terkecuali dalam sektor pendidikan
1. System KBK
Berbicara tentang pendidikan di Indonesia, pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan baru tentang pendidikan. Dua kebijakan pokok yang telah ditetapkan pemerintah untuk mendongkrak kualitas pendidikan yaitu melalui "Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan". Gerakan ini juga diharapkan bisa menumbuhkan kecakapan anak didik sesuai dengan kebutuhan lokal dalam perspektif global ( act locally think globally ). Pertama, hal yang menyangkut efisiensi pengelolaan pendidikan, pemerintah telah menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Kedua, untuk lebih memacu akselerasi peningkatan mutu, pemerintah juga telah merancang systim KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi).

System yang dikembangkan adalah sebuah rumusan yang mengunggulkan adanya output lebih dari peserta didik. Sebagaimana yang dilansir oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depertemen Pendidikan Nasilnal tahun 2000; bahwa salah satu kelemahan system pendidikan di Indonesia adalah kurangnya perhatian pada output. Sehingga guru dan sarana pendidik hanya berorientasi pada ‘selesainya’ target administratif sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis), hal ini menyebabkan jauh ke depan, tidak diketahui dengan ukuran konkrit hasil yang dicapai oleh peserta didik.

Dengan diberlakukannya system tersebut, diharapkan dua standar pendidikan bisa dicapai. Standar akademis (academic content standards) dan Standar kompetensi (performance standards). Standar Akademis merefleksikan pengetahuan dan ketrampilan esensial setiap disiplin ilmu yang harus dipelajari oleh seluruh peserta didik. Sedangkan Standar Kompetensi merefleksikan bentuk proses hasil dari kegiatan yang didemonstrasikan oleh peserta didik sebagai penerapan dari pengetahuan dan ketrampilan yang telah dipelajari.

Beralihnya pemerintah dari Kurikulum Dasar 1994 ke Kurikukum Berbasis Kompetensi (KBK) memberikan jalan setapak untuk dimulainya harapan-harapan baru dalam pembangunan Sumber Daya Manusia serta bebas dari kebodohan. Alasan mendasar yang menjadikan pilihan kurikulum, sebagaimana tersebut diatas, adalah bahwa KBK lebih menitik beratkan kepada output peserta didik hingga, hasil dari proses tersebut bisa diamati secara kasat mata. Berbeda dengan Kurikulum Dasar 1994 yang dinilai masih banyak berkutat dengan aplikasi-aplikasi pembelajaran teoritis dan input belaka, siswa hanya menerima susupan dogma-dogma pendidikan. System pendidikan yang hanya berbasis pada input dan proses dipandang kurang dinamis, kurang efisien dan mengarah pada stagnasi pegagogik (Dr. E. Mulyasa, M.pd.: Kurikulum Berbasis Kompetensi). Hingga stagnasi dan tidak dinamisnya system pendidikan tersebut akan menjadikan kejumudan dan tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang tiap tahunnya mengalami perubahan.

System KBK akan lebih bisa berinteraksi dengan Tri Pusat Pendidikan, suatu istilah pendidikan yang pertama kali dipopulerkan oleh Ki Hajar Dewantoro. Tri Pusat Pendidikan meliputi; Sekolah, Keluarga dan Masyarakat. dikatakan KBK bisa bekerjasama dengan Tri Pusat Pendidikan mengingat, beberapa karakteristik dari system tersebut adalah tidak rigidnya sumber pendidikan dan pengajaran, melainkan juga sumber lain yang bernilai educatif, long life education, KBK berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes), dan penekanan akan tercapainya kompotensi siswa secara individual atau komunal, juga memperhatikan spesifikasi dan bakat individu setiap peserta didik. Sehingga kehidupan bermasyarakat dalam pendidikan sekolah juga ikut andil dalam pendewasaan peserta didik, dengan kata lain, tata kehidupan bermasyarakat adalah juga tata kehidupan dalam pendidikan dan pengajaran.

Hilangnya konteks sosial dan emosi dalam sistem pendidikan kita menyebabkan proses belajar mengajar di sekolah terpisah dari proses di luar sekolah. Beberapa kelemahan menyertai sistem pendidikan kita. Pertama, pelajaran di sekolah terpisah dengan kehidupan sehari-hari siswa dan masa depan mereka. Kedua, pembelajaran ruang kelas tak membantu siswa untuk menentukan targetnya sendiri sesuai dengan bakat dan kemampuan individu dll.

2. Pendidik Yang Kurang Berkompeten;
a. Pemahaman Guru Ideal
Selama ini kita menyikapi profesi guru sebagai hard profession, dengan prosedur baku, dengan muatan standar, dalam mengajar. Atmosfer pembelajaran kering dari kreativitas kehilangan sentuhan ’’seni’’, athariqatu ahammu minal madah belum sepenuhnya dijadikan sebagai juklak dan juknis dalam praktek belajar-mengajar di kelas. Pembelajaran di ruang kelas kita digerakkan kecemasan-kecemasan standardisasi kelulusan, dan bersifat inhuman. Kita memperlakukan sistem pendidikan sebagai proses industri, bahkan lebih dari tataran tersebut, praktek industrisasi ijazah palsu (baca: jual-beli) juga semakin menambah tinta hitam di wajah pendidikan Indonesia.

Mestinya, sistem pendidikan kita menempatkan guru sebagai soft profession. Pembelajaran tak memerlukan penjabaran secara detail dan pasti. Langkah dan tindakan pembelajaran ditentukan secara kontekstual, bahkan mungkin situasional. Lulusan dibekali dengan kemampuan yang harus ditingkatkan, selaras dengan pembangunan masyarakat. Dalam proses belajar mengajar, guru mengembangkan keleluasaannya untuk mengembangkan suasana kelas bagi siswa.

b. Sertifikasi Guru
Seorang ‘yang digugu dan ditiru’ (baca: guru) harusnya mempunyai kategori selected person, kira-kira itulah yang menjadi landasan bagi system pendidikan Indonesia dengan diterapkannya sertifikasi guru. Bab IV Bagian Kesatu UU Nomor 14 Tahun 2005 hal-hal yang menyangkut tentang kualifikasi dan sertifikasi guru, namun begitu, secara mendetail aplikasi dan pelaksanaan sertifikasi baru diatur Peraturan Menteri Pendidkan Nasional (Permendiknas) Nomor 18 Tahun 2007.

Sertifikasi guru pada hakikatnya merupakan penerapan standar pendidik dan tenaga kependidikan. Sebagaimana kita ketahui, pasal 2 ayat (1) PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan 8 standar nasional pendidikan, yakni (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. Telah dijelaskan pula bahwa dalam Pasal 8 UU Nomor 14 Tahun 2005 disebutkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dengan kata lain, guru merupakan profesi seperti profesi lain, misalnya dokter, akuntan, pengacara, apoteker, dan sebagainya. Pembuktian profesionalitas guru perlu dilakukan. Seorang akuntan harus mengikuti pendidikan profesi terlebih dahulu demikian juga untuk profesi lainnya, termasuk profesi guru.

3. Pendidikan Agama = Pendidikan Moral
Eropa yang dulu pernah mengalami age of dark seolah tidak puas dengan hanya agresi militer selama 350 tahun, warisan berupa ‘phobia agama’ seolah juga ikut disisakan bersamaan dengan masa pendudukan selama menjajah Indonesia. Generalisasi dan penilian yang terburu (sur’atu ta’mim) merupakan kesalahan dalam ilmu logika, Islam yang mempunyai konsep syamil dan bisa mewakili seluruh lini kehidupan sosial-masyarakat dan termasuk di dalamnya pendidikan, tidak bisa disejajarkan dengan ‘kebijakan-kebijakan gereja’ di Eropa. Maka merupakan kesalahan dalam system pendidikan kita adalah mengesampingkan urgensi pelajaran agama.

Seperti yang dikutip oleh seorang pengamat pendidikan asal Medan, Universitas Sumatera Utara (USU), Zulnaidi, MHum, mengatakan bahwa, saat ini rata-rata pelajaran agama disekolah hanya dua jam dalam seminggu. Ini berbanding terbalik dengan pelajaran lain seperti bahasa, matematika maupun pelajaran sosial lainnya.
“Ironisnya saat ini pelajaran agama tidak lagi masuk sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional(UN). Ini seolah-seolah menunjukkan pada kita bahwa pendidikan agama tidak lagi menjadi kebutuhan utama dalam sistem pendidikan”. Mengingat pendidikan agama yang sangat urgen, maka pendidikan agama harus dikembalikan menjadi salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam UN dan termasuk didalamnya menambah jam pelajaran.

Usaha untuk berbenah dalam ranah agama di pendidikan nasional memang ada, terkait system pendidikan nasional yang mengatur akan kompetensi guru adalah ketentuan yang mengatur tentang hak setiap murid untuk mendapatkan pengajaran agama dari guru yang seagama. Bila kita cermati justru kebijakan seperti inilah yang memiliki nilai positifisme dalam pengembangan pengajaran, kompetensi guru dalam pengajaran justru menjadi lebih terjamin secara kurikulum dan teratur. Amat disayangkan bila kita introspeksi atas pro-kontra yang sempat memanas 5 tahun yang lalu. Perilah Sisdiknas yang mengatur akan kompetensi guru dalam bidang agama sebenarnya sudah lama, tepatnya ditetapkan di nomor 2 sejak tahun 1989, dan RUU Sisdiknas yang secara implisit mengatur pengajarmateri agama baru tahun kemarin disahkan dengan resiko yang sama, banyak penentang dari kubu non-Islam.
Sabtu, 11 Oktober 2008
Posted by Alamin Rayyiis

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © RAYYIIS -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -