Tampilkan postingan dengan label Hari Raya. Tampilkan semua postingan

BOLEHKAH SHALAT ‘ID DUA KALI? - Abu Akmal Mubarok


Pada masa kini kadang kala terjadi perbedaan pendapat antara satu organisasi Islam dengan organisasi Islam yang lainnya, dalam menentukan tibanya hari raya (‘Idul Fitri atau ‘Idul Adha). Sehingga ada sebuah keluarga yang mudik kemudian shalat ‘Id lebih dulu dari pada orang tuanya kemudian keesokan harinya ia shalat ‘Id lagi karena tidak enak hati dan menghormati orang tuanya. Bolehkah dua kali melaksanakan shalat ‘Id ?

Sebagian orang buru-buru menjawab : “Yah itu urusan masing-masing”. Memang, pada zaman sekarang masalah agama menjadi uruasan masing-masing. Namun tidak ada salahnya jika sikap kita bukan berlandaskan logika semata melainkan perlu memahami duduk perkaranya dan mengetahui landasan atau alasan masing-masing.

Sebenarnya hal ini tidak akan menjadi persoalan jika umat Islam sepakat mengakui pemerintah sebagai Ulil Amri yang berhak menetapkan perbedaan yang timbul. Karena Al-Qur’an pun memerintahkan agar mentaati ulil amri :

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 59)

Ada yang menyahut : “Ulil Amri yang bagaimana dulu?” Ya, ya karena pada zaman sekarang ini berbeda dengan zaman khalifah muslim dulu, dimana zaman dulu, ulil amri mendapat legitimasi untuk memutuskan perkara politis sekaligus juga masalah agama. Sedangkan zaman sekarang, akibat dari konsep sekuler yang memisahkan antara agama dan politik, (hal ini mengikuti pada perkataan kitab kaum non-muslim yang mengatakan berikan hak raja untuk raja dan hak pendeta untuk pendeta) maka wajar jika  pemerintah pada zaman sekarang tidak digugu tidak dituruti dalam mengatur masalah agama. Karena agama zaman saekarang adalah urusan pribadi, paling maksimal agama adalah urusan masing-masing jama’ah dan organisasi. Dengan logika sekuler ini, keputusan soal agama adalah hak asasi tiap pribadi, dan paling maksimal ia akan menuruti tokoh masyarakat, imam masjid, keputusan jama’ah atau organisasi.

Maka jangan menggerutu dan menyalahkan orang yang tidak mau mengikuti pemerintah dalam masalah agama karena toh kita juga yang menyepakati konsep sekularisme ini. Di satu sisi mereka mengatakan “jangan campur adukkan antara agama dan politik” lalu “negara kita bukan negara agama” namun di sisi lain menuntut umat agar manut dan nurut pada pemerintah dalam masalah agama? Ya plin-plan namanya. Baiklah, pembahasan masalah ulil amri ini kita bahas kapan-kapan saja.

Kembali pada soal perbedaan pendapat dalam penentuan waktu hari Raya, hal ini telah terjadi sejak zaman Rasulullah s.a.w. namun pada masa itu, beliau s.a.w. menjadi pemimpin negara Madinah, sekaligus sebagai pemimpin spiritual atau agama. Sehingga masalah perbedaan ini selesai dan diputuskan oleh Rasulullah s.a.w. dan semua pihak tidak ada yang menyempal atau bertindak semaunya sendiri. Dalam sebuah hadits diceritakan sekelompok orang bersaksi melihat hilai (akhir Ramadhan) lalu Rasulullah s.a.w pun memutuskan untuk menetapkan akhir Ramadhan atau awal 1 syawal aman damai tak ada perbedaan dalam hal ini :

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ja’far bin Abu wahsyiyah dari Abu ‘Umair bin Anas dari paman-pamannya yang juga sahabat Rasulullah s.a.w. bahwa suatu rombongan datang kepada Nabi s.a.w., mereka bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka beliau memerintahkan mereka (masyarakat) untuk berbuka puasa, dan keesokan harinya, mereka berpagi-pagi menuju ke tempat shalat (untuk melaksanakan shalat hari raya Idul Fitri).” (H.R. Abu Daud No. 977) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, serta Khalaf bin Hisyam Al Muqri`, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Manshur dari Rib’i bin Hirasy dari seorang sahabat Nabi s.a.w., ia berkata; orang-orang berselisih mengenai akhir hari Ramadhan. Kemudian terdapat dua orang badui yang datang dan memberikan persaksian di hadapan Nabi s.a.w. dengan nama Allah, sungguh mereka telah menyaksikan Hilal ( 1 syawal) kemarin sore. Kemudian Rasulullah s.a.w. memerintahkan orang-orang agar berbuka. Khalaf menambahkan dalam haditsnya; dan agar mereka pergi ke lapangan. (H.R. Abu Daud No. 1992) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Namun setelah Rasulullah s.a.w. wafat perbedaan dalam menentukan waktu ini pun terjadi perbedaan pendapat dan masing-masing boleh berpegang pada pendapatnya. Hal ini misalnya terjadi perbedaan antara Ibnu Abbas r.a. yang berada di Madinah dengan Mu’awiyyah yang kala itu menjabat sebagai gubernur wilayah Syam :

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far, telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Abu Harmalah, telah mengabarkan kepadaku Kuraib, bahwa Ummu Al Fadhl binti Al Harits telah mengutusnya pergi kepada Mu’awiyah di Syam. Ia berkata; aku datang ke Syam, dan menunaikan keperluannya, kemudian telah nampak hilal Ramadhan sementara aku berada di Syam. Kami melihat hilal pada malam Jum’at kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan. Lalu Ibnu Abbas bertanya kepadaku. -kemudian ia menyebutkan hilal. Kemudian Ibnu Abbas berkata; kapan kalian melihat hilal? Aku katakan; aku melihatnya pada malam Jum’at. Ia berkata; apakah engkau melihatnya? Aku katakan : “ya, dan orang-orang pun melihatnya”. Mereka berpuasa dan Mu’awiyah pun berpuasa. Ibnu Abbas berkata : “ Akan tetapi kami melihatnya pada malam sabtu, dan kami masih berpuasa hingga kami menyempurnakan tiga puluh hari atau kami melihat hilal”. Aku (Kuraib) katakan; tidakkah engkau cukup dengan (ru`yah) yang dilihat Mu’awiyah dan puasanya? Ia (Ibnu Abbas) berkata : “ tidak, demikianlah Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami”. (H.R. Abu Daud No. 1985 Muslim No. 1918, Nasa’i  No. 2084, Ahmad No. 2653)

Hadits di atas ada yang menafsirkan bahwa wilayah yang berjauhan memiliki ketetapan sendiri karena posisi kemunculan bulan berbeda. Inilah yang dimaksud dengan perkataan mengapa ia tidak mengikuti ru’yat Mu’awiyah ? Ibnu Abbas menjawab : Tidak. Demikianah Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami. Maknanya adalah orang Madinah tidak melihat hilal, adapun Mu’awiyah melihat hilal di wilayah Syam tidak bisa dipakai sebagai patokan bagi penduduk Madinah. Maka yang utama adalah melihat hilal tersebut pada masing-masing wilayah. Maka perbedaan ini dibolehkan jika wilayahnya jauh.

Namun pada zaman sekarang ini perbedaan terjadi pada wilayah yang sama bahkan satu kota yang sama bisa melaksanakan shalat Id dua kali. Bolehkah ini dilakukan ?

Boleh Melaksanakan Shalat ‘Id Keesokan Harinya

Menyikapi perbedaan waktu hari raya, sebenarnya ada beberapa alternatif. Belum tentu ia harus melaksanakan shalat ‘Id dua kali, karena sebenarnya walaupun seseoran meyakini hari raya jatuh pada hari ini, shalat ‘Idul fitri boleh ditunda beberapa hari esoknya. Apalagi jika hari raya ‘Idul Adha maka shalat ‘Id bisa dilaksanakan sampai 3 hari berikutnya (hari tasyrik).

Jika kita melihat hilal pada sore hari menjelang maghrib pada hari ini, maka malamnya kita melakukan takbir dan keesokan harinya kita melaksanakan shalat ‘Id.

Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, ” Abdullah bin Umar mengutus seseorang untuk melihat hilal, bila hilal terlihat maka besok berarti hari Ied, namun bila tidak terlihat (hilal) dan tidak ada mendung ataupun asap yang menutupi pandangannya, maka keesokan harinya ia berbuka (tidak berpuasa), namun bila ada mendung atau asap yang menutupi pandangannya maka pada keesokan harinya ia berpuasa.” (H.R. Ahmad No. 4258)

Namun suatu ketika Rasulullah s.a.w. pernah baru mengetahui bahwa kemarin sudah terlihat hilal, berarti seharusnya hari ini sudah melaksanakan shalat ‘Id namun beliau masih berpuasa karena tidak tahu. Maka hari itu beliau memerintahkan berbuka dan baru pada keesokan harinya lagi melaksanakan shalat ‘Id. Ini berarti shalat ‘Id di adakan selang 2 hari setelah terlihatnya hilal (kemarin lusa).

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bisyr dari Abu Umair bin Anas dari kebanyakan para sahabat Nabi s.a.w.  bahwa serombongan orang datang kepada Nabi s.a.w., kemudian mereka bersaksi bahwa mereka kemarin melihat hilal, lalu beliau menyuruh orang-orang untuk berbuka dan agar besoknya mereka keluar (untuk shalat id).” Syu’bah berkata; “Aku mengiranya saat itu terjadi di akhir siang (sore).” (H.R. Ahmad No. 19670 No. 19675) Hadits ini munkar karena tidak disebutkan atau tidak jelas Umair bin Anas mendengar dari sahabat siapa sampai kepada Nabi s.a.w.

Namun hadits di atas mendapat syahid (kesaksian) yang menguatkan dari hadits lain yang lebih shahih

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Abu Umair bin Anas bin Malik ia berkata; telah menceritakan kepadaku paman-pamanku dari kalangan Anshar -mereka adalah para sahabat Rasulullah s.a.w. mereka berkata, “Kami tidak dapat melihat hilal bulan Syawal, maka pada pagi harinya kami masih berpuasa, lalu datanglah kafilah di penghujung siang, mereka bersaksi di sisi Nabi s.a.w. bahwa kemarin mereka melihat hilal. Maka Rasulullah s.a.w. pun memerintahkan mereka berbuka, dan keluar untuk merayakan hari rayanya pada hari esok. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1643 Abu Daud No. 977) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadist ini shahih.

Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin ‘Ali dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya dia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya, bahwa ada suatu kaum yang melihat hilal (bulan Sabit, masuknya bulan Syawal), lalu mereka datang kepada Rasulullah s.a.w.. Kemudian beliau s.a.w. memerintahkan mereka untuk berbuka puasa setelah hari agak siang dan keluar ke tempat shalat Id (hari raya) besoknya. (H.R. Nasa’i  No. 1539)

Hal ini karena Rasulullah s.a.w. baru mendengar (bahwa kemarin sore sudah muncul hillal) pada siang atau sore hari sehingga tidak memungkinkan melaksanakan shalat ‘Id pada sore hari. Maka boleh melaksanakan shalat ‘Id pada keesokan harinya lagi.

Maka berdasarkan hadits di atas mayoritas ulama berpendapat boleh menunda melaksanakan shalat ‘Id pada keesokan harinya lagi (2 hari sejak terlihatnya hilal) (Lihat Ad-Durr Al Mukhtar Jilid 1 hal 782, Tabyiin Al Haqaa’iq Jilid 1 Hal 226), Al Fatawa Al Hindiyah Jilid 1 Hal. 142, Al Muhadzdzab Jilid 1 Hal. 131, Al Mughni Al Muhtaaj Jilid 1 Hal 215, Al Mughni Jilid 2 Hal. 291 dan Kasysyaf Al-Qinaa’ Jilid 2 Hal 56)

Namun jika diketahuinya kabar terlihat nya hilal pada hari sebelumnya itu masih pagi hari maka harus dilaksanakan shalat  ‘Id hari itu juga (Hasyiah Syarwani, Jilid III Hal. 55, Fiqhul Islam Jilid II Hal. 368)

Maka madzhab Maliki berpendapat tidak boleh melaksanakan shalat ‘Id pada keesokan harinya jika sudah mengetahui kemarin terlihat hilal dan hari ini bisa melakukan shalat ‘Id, kecuali hal itu terjadi seperti Rasulullah s.a.w. karena tidak tahu dan tidak memungkinkan melaksanakan shalat ‘Id pada hari itu karena sudah sore (Al-Qawaaniin Al-Fiqhiyyah hal. 85)

Boleh Melaksanakan Shalat Yang Sama Dua Kali

Boleh juga jika melaksanakan shalat ‘Id pada hari ini kemudian melaksanakan lagi shalat ‘Id pada hari berikutnya. Hal ini karena pertama, pada dasarnya shalat ‘Id itu masih bisa dilakukan selama beberapa hari ke depan. Kedua, karena jangankan shalat sunnah, shalat fardlu lima waktu pun boleh dilaksanakan beberapa kali misalkan untuk mendampingi orang lain agar dapat pahala shalat berjamaah. Hal ini pernah dilakukan pada zaman Rasulullah s.a.w. :

Suatu ketika Mu’adz pernah shalat Isya berjamaah dengan Rasulullah s.a.w. namun ketika kembali ke kaumnya ia mengimami lagi shalat berjamaah :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Ghundar berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru berkata, Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah berkata : “Mu’adz bin Jabal pernah shalat bersama Nabi s.a.w., dia lalu kembali pulang dan mengimami kaumnya shalat ‘Isya “ (H.R. Bukhari No. 660)

Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu ‘Ajlan telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidulloh Bin Muqsim dari Jabir bin Abdullah “sesungguhnya Muadz Bin Jabal sholat isya’ bersama Rasulullah s.a.w., kemudian mendatangi kaumnya lalu sholat menjadi imam mereka sholat isya’ juga”. (H.R. Ahmad No. 13723)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Ma’n bin Isa dari Sa’id bin As-Sa`ib dari Nuh bin Sha’sha’ah dari Yazid bin Amir dia berkata : Saya pernah datang ke Masjid sementara Nabi s.a.w. dalam keadaan shalat. Saya lalu duduk dan tidak shalat bersama mereka. Lalu Rasulullah s.a.w. pergi dan melihat Yazid sedang duduk. Beliau bersabda: “Apakah kamu belum masuk Islam wahai Yazid.” Dia menjawab; Tentu wahai Rasulullah, saya telah masuk Islam. Beliau bersabda: “Lalu apa yang menghalangimu untuk shalat bersama jama’ah?” Dia menjawab; Saya telah shalat di rumahku dan saya menyangka kalian telah selesai shalat. Maka beliau bersabda: “Apabila kamu datang ke shalat jama’ah, lalu kamu mendapati orang-orang sedang shalat, maka shalatlah bersama mereka, meskipun kamu telah shalat, shalatmu itu sebagai nafilah (shalat sunnah) bagimu, dan yang ini (yang sebelumnya) menjadi yang wajib.” (H.R. Abu Daud No. 489 Ahmad No. 18209)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim, Duhaim Ad Dimasyqi telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Hassan bin ‘Athiyyah dari Abdurrahman bin Sabith dari Amru bin Maimun Al Audi dia berkata; Mu’adz bin Jabal mendatangi kami sebagai utusan Rasulullah s.a.w. Dia (Mu’adz) berkata; Rasulullah s.a.w. pernah bersabda kepadaku: “Apa yang akan kalian lakukan apabila pemimpin kalian nanti melaksanakan shalat bukan pada waktunya?” Saya berkata; Apa yang engkau perintahkan kepadaku apabila aku mendapatinya wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Shalatlah pada waktunya, dan jadikanlah shalat kamu bersama mereka sebagai nafilah (tambahan).” (H.R. Abu Daud No. 368 Ad-Darimi No. 1200)

Pada hadits di atas disebutkan fatwa dari Rasulullah s.a.w. bahwa apabila penduduk suatu negeri semuanya terlambat shalat tidak tepat pada waktunya, maka shalat lah sendirian tepat pada waktunya kemudian boleh mengikuti shalat lagi berjamaah bersama penduduk negeri tersebut dan status shalatnya adalah sebagai nafilah (shalat sunnah).


Wallahua’lam

SORRY. KALI INI COPAS.
https://seteteshidayah.wordpress.com/2013/08/17/bolehkah-shalat-id-dua-kali/
Rabu, 23 September 2015
Posted by Alamin Rayyiis

Khutbah Idul Fithri 1435 H (Miri-Papringan)


الله أكبر و لله الحمد
الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا
لا إله إلا الله و حده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده
لا إله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين و لو كره الكافرون

الحمد لله رب العالمين و به نستعين و على أمور الدنيا و الدين.  الحمد لله نحمده و نستعينه نستغفرو نعوذ بالله من شرور أنفسنا و من سيئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له و من يضلله فلا هادي له. إن أصدق الحديث كتاب الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم. الحمد لله الذى جعل رمضان شهرا أنزل فيه القرأن هدى للناس و بينات من الهدى و الفرقان. و الحمد لله الذى أنزل على عبده الكتاب و لم يجعل له عوجا – قيما لينذر بأسا شديدا من لدنه و يبشر المؤمنين الذين يعملون الصالحات أن لهم أجرا حسنا. و الحمد لله خلق عبده و خير أمة أخرجه و أمة و سطا جعله.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده و نبيه و رسول الله

و الصلاة و السلام على خاتم الأنبياء و إمام الرسل النبي الأمي محمد صلى الله عليه و سلم و على أله و أصحابه أجمعين. أما بعد.

ياأيها الناس اعبدوا ربكم الذى خلقكم و الذين من قبلكم لعلكم تتقون – ياأيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و أنتم مسلمون – و تزودوا فإن خير الزاد التقوى و اتقون ياأولى الألباب – اتقوا الله حيثما كنت و أتبع السيئة الحسنة تمحها و خالق الناس بخلق حسن.

Laa ilaaha illallah; Tiada sesembahan yang berhak selain Allah. Allahu akbar; Allah Mahabesar dari semua ciptaanya di alam. Subhanallah; Mahasuci Allah dengan segala keindahan yang telah Dia ciptakan, birunya laut, hijaunya padang rumput, jerninhnya embun pagi, indahnya pelangi.

Di awal hilal bulan syawal, di awal dhuha pagi hari ini dan di awal fithrah manusia, marilah senantiasa kita panjatkan puja-puji dan syukur kita ke hadirat Allah swt. Rabb pemilik segala, Rabb yang menciptakan bumi-langit dan seisinya. Kita bersyukur atas limpahan rahmat dan kasih sayangnya berupa islam, iman dan ihsan, nikmat kesehatan jiwa dan raga serta rizki yang melimpah, nikmat bernafas dengan segarnya udara serta nikmat menguningnya tanaman padi di sawah. Maka, tidak pantas bagi kita untuk tidak melantunkan do’a;
ربنا أوزعنا أن نشكر نعمتك التى أنعمت علينا و على والدينا و أن نعمل صالحا ترضاه و ادخلنا برحمتك فى عبادك الصالحين.

Sholawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada nabi junjungan Muhammad saw.

Ahlan wa sahlan wa marhaban ilal ‘aidiina li buyuutihim
Ahlan wa sahlan wa marhaban ilar ruhhal
Ahlan wa sahlan wa marhaban kepada para pemudik yang pulang ke kampung halaman
Ahlan wa sahlan wa marhaban kepada mereka yang masih jauh di mata tapi dekat di hati
Semoga kebaikan selalu Allah curahkan kepada mereka yang berada di kampung halaman maupun yang masih di tanah perantauan.

Allahu akbar, walillahil hamd.
Ikhwani rahimkumullah, barakallah fiikum.

Agama Islam adalah agama pamungkas, penyempurna ajaran-ajaran sebelumnya, satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah swt. disampaikan kepada nabi junjungan Muhammad saw. untuk diajarkan kepada seluruh umat manusia hingga kelak berakhirnya alam dunia kita. Sebagai agama yang rahmatan lil’alamin; musliman kaana au kafiran; muslim dan kafirnya.

Islam berisi tuntunan kehidupan di semua bagian. Islam menuntun kita bagaimana seharusnya berdagang, bercocok tanam, mendidik anak di sekolahan, bertetangga dengan orang yang tidak dikenal dan lain sebagainya. Sebagaimana Islam juga menuntun kita bagaimana meraih kebahagiaan di akhirat kelak, mengajari bagaimana meraih firdaus al-a’la, taat dan tunduk pada firman ilahi dan sabda nabi. Islam harus tegak di manapun dan kapanpun, harus siap dengan semua halang rintang yang harus bersama kita singkirkan.

هو الذى أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله و لو كره الكافرون و لو كره المشركون

Namun begitu selalu ada orang yang tidak suka akan agama kita, di antara mereka ada yang sadar akan pentingnya toleransi, berbeda agama tapi saling menghargai. Mereka sadar bahwa untuk hidup berdampingan tidak harus beragama sama, tapi cukup menjadi manusia yang sadar akan pentingnya berdamai dengan sesama, menjalin ukhuwah, merajut ketenangan di tengah masyarakat, memupuk rasa aman dan menyuburkan keadilan dan kesejahteraan bersama.

Tapi sungguh,  ketika islam sebagai minoritas maka agama kita pun diporakporandakan, dihancurkan, dibakar bahkan dibumihanguskan secara masal. Bahkan di zaman yang dikatakan modern penjajahan atas nama agama masih berlangsung hingga sekarang. Muslim palestina harus menanggung luka akibat kekejaman zionis Irael, Afrika Tengah menjadi saksi bagaimana pembunuhan masal atas kaum muslim di depan mata dunia, muslim Rohingnya harus terlunta-lunta antara bertahan tapi diburu laiknya binatang atau menyebrang laut ke negeri tetangga sekalipun setibanya di sana diusir untuk kedua kalinya, muslim di Mesir harus berjuang melawan kediktatoran militer yang sekuler dan masih banyak saudara kita yang menjalani ujian jihad dan perjuangan dari Allah swt.

Kepada merekalah Allah berfirman:
÷Pr& óOçFö6Å¡ym br& (#qè=äzôs? sp¨Yyfø9$# $£Js9ur Nä3Ï?ù'tƒ ã@sW¨B tûïÏ%©!$# (#öqn=yz `ÏB Nä3Î=ö6s% ( ãNåk÷J¡¡¨B âä!$yù't7ø9$# âä!#§ŽœØ9$#ur (#qä9Ìø9ãur 4Ó®Lym tAqà)tƒ ãAqß§9$# tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ¼çmyètB 4ÓtLtB çŽóÇnS «!$# 3 Iwr& ¨bÎ) uŽóÇnS «!$# Ò=ƒÌs%  (البقرة: 214)
214.  Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Kapan datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Oleh karena itu, sadarlah bahwa wujud kita yang mayoritas adalah anugrah besar dari Allah swt. Islam sebagai mayoritas adalah buah perjuangan pahlawan kemerdekaan, kaum santri, para kyai dan kaum muslim yang selalu gigih melawan penjajahan di atas bumi ini. Islam sebagai mayoritas bukanlah faktor kebetulan semata, bukan hanya karena faktor kelahiran ayah ibu kita. Islam tegak di bumi Indonesia tidak terlepas dari jasa para pendakwah, penceramah, dan orang-orang yang lahir batinnya adalah agama Islam.

Allahu akbar wa lillahil hamd
Ikhwani fillah, barakallah fiikum

Islam senantiasa terjaga karena kita masih leluasa membangun masjid, memakmurkan dan menjadikannya sebagai pasar-pasar kebaikan, ia akan selalu terjaga saat kita bisa melangkah dengan sarung dan kopiah, membawa mushaf al-quran untuk dibaca, mendengarkan pengajian serta pujian bagi Allah dan Rasulnya.

Islam akan selalu ada saat muslimah kita bangga dengan menutup auratnya, menjulurkan kerudung hingga dada (walyadhribna bikhumurihinna ‘ala juyubihinna), serta menjaga ‘iffah dan rasa malunya. Sebagaimana kaum lelaki bertanggunjawab atas kokohnya agama kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan majlis-majlis keilmuan, meninggalkan jama’ah di masjid, serta berani menyuarakan kebenaran dan menghiasi lisan kita dengan al-Quran.

Dibalik tegaknya agama kita ada da’i-da’i yang tersebar di pelosok negeri, rela meninggalkan kampung halaman untuk membuka lahan dakwah yang baru, meninggalkan sanak family untuk mengajarkan alif ba’ ta’ tsa’ jim kha’ kho’, mengajarkan bagaimana membunyikan mushaf yang selama ini hanya menjadi penghias ruang tamu,  mengajarkan bagaimana firman Allah dan sabda Rasulullah. Dibalik ratusan juta muslim di negara kita ada pondok-pondok yang dengan kesederhanaannya mempertahankan ajaran agama, ada sekolah-sekolah keagamaan yang bangga dengan identitas TPA, Islam Terpadu, Ormas Keislaman, Madrasah Tsanawiyah dan ‘Aliyah serta lain sebagainya.

Maka, dari itu semua, pertanyaan besar bagi kita, “Apakah yang sudah kita berikan untuk meninggikan bendera agama Islam? Pengorbanan apa yang kiranya tercatat sebagai amal kebaikan?”

Allahu akbar wa lillahil hamd
Ma’syaral muslimin a’azzaniyallah wa iyyakum

Menjaga dan menyebarkan Islam tidak terbatas pada bulan Ramadhan, satu tahun atau satu generasi. Menjaga dan menyebarkan Islam adalah  tugas bersama semua golongan, semua umur, semua generasi, untuk hari ini dan hari-hari selanjutnya selama matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat.

Rasulullah sadar akan kebutuhan Islam dan bagaimana harus mejaganya. Oleh karena itu, sejak awal alaihissalam mengajarkan bagaimana mengkader para pejuang Islam, Rasulullah menjadi soko guru para sahabat dan generasi selanjutnya. Rasulullah adalah teladan atau uswah sebagai Nabi sekaligus panglima dalam perang, Rasulullah adalah uswah bagaimana membina rumah tangga, uswah dalam ajaran-ajaran keagamaan sekaligus uswah bagaimana mengurus perniagaan.

Hasil dari kaderisasi itu semua adalah tiga generasi emas pertama. Rasulullah bersabda bahwa “Sebaik-baiknya generasi adalah generasi beliau atau sahabat, kemudian generasi setelahnya atau para tabi’in, kemudian generasi setelahnya atau para tabi’ut tabi’in”
خير القرون قرنى ثم الذى يلونهم ثم الذى يلونهم
Dari generasi tersebut Islam menjadi mercusuar, lampu penerang bagi belahan timur dan barat saat dilanda kegelapan. 3 generasi tersebut adalah sumber air hulu yang mengalir hingga hilir, air itu menjadi penawar bagi mereka yang kehausan, membasahi bumi dan menumbuhkan hijaunya rumput dan biji-bijian. Radhiyallahu ‘anhum wa radhu ‘anh.

Generasi sahabat adalah generasi dimana Rasulullah mengirimkan Mu’adz bin Jabal dari Makkah menuju Yaman sebagai duta agama yang mengajarkan kitabullah dan sunnatu Rasulillah. Generasi sahabat adalah dimana Abdurrahman bin Auf mewakafkan ribuan ontanya untuk kepentingan agama, generasi dimana Anshar menjadi saudara Muhajirin yang saling berbagi kebutuhan antar keduanya, generasi dimana Khalifah Utsman bin Affan menyebarkan agama hingga di benua Asia.

Kegigihan mereka dalam menjaga agama berlanjut saat tabi’in dan tabi’ut tabi’in berburu hadits Rasulullah, rela melangkah ribuan kilometer untuk mendengar sesiapa yang mendengar langsung untaian jawami’ul kalim dari Muhammad saw.. Imam Bukhari harus mengarungi padang sahara dari Negara Bagian Rusia menuju Saudi Arabia, begitu juga Imam Turmudzi, Imam Muslim, Imam Daud, Daru Quthni dan aimmatul hadits lainnya.

Merekalah generasi yang oleh Allah digambarkan sebagai:
Ó£JptC ãAqß§ «!$# 4 tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB âä!#£Ï©r& n?tã Í$¤ÿä3ø9$# âä!$uHxqâ öNæhuZ÷t/ ( öNßg1ts? $Yè©.â #Y£Úß tbqäótGö6tƒ WxôÒsù z`ÏiB «!$# $ZRºuqôÊÍur ( öNèd$yJÅ Îû OÎgÏdqã_ãr ô`ÏiB ̍rOr& ÏŠqàf¡9$# 4 (الفتح: 29)
29.  Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.

Begitulah 3 generasi pertama telah melewati zaman keemasannya. Dilanjutkan dengan assabiqunal awwalun, para ulama’ yang mewakafkan jiwa raganya untuk agama Islam, untuk agama yang sekarang menjadi mayoritas di negeri Indonesia……

Dan, entah sampai kapan kata-kata Islam akan tertuang di setiap KTP kita? Akankah kita istiqamah dengan kerudung yang melambai menutup aurat dan terjulur di dada? Akankah pelajaran agama tidak lagi menarik ketika disandingkan dengan Matematika? Akankah membaca al-Quran hanya sebagai ritual kosong di masa anak-anak balita? Masih sanggupkah pemuda kita bangga dengan simbol-simbol keIslaman atau justru mereka bangga dengan model dan style ala Barat dan kemewahan dunia?

Islam haruslah dibela, dibantu dan diperjuangkan dalam semua hal. Dalam ekonomi, pemerintahan, pendidikan. Islam harus ada di pasar-pasar, di sawah dan pertanian. Mari kita perhatikan bagaimana Muhammad Nasir rahimahullah menyeru kepada umat Islam pada masa perjuangan Islam di pemerintahan; Islam yang hanya di masjid akan dibiarkan, Islam yang menguasai ekonomi akan diawasi, dan Islam yang ada di pemerintahan akan dihancurkan dan dicabut dari akar-akarnya.

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar

Allahu akbar wa lillahil hamd

Jumat, 22 Agustus 2014
Posted by Alamin Rayyiis

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © RAYYIIS -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -