Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Boleh Berbaur, Tapi Jangan Melebur


Manusia diciptakan dengan fitrah untuk bersosial, al insanu madaniyyun bi thab’i. Sejak kecil saja kita sudah terbiasa dengan aktivitas bersama dengan teman, sebut saja mbolang atau dolan, permainan gobaksodor, dan lain sebagainya. Ketika beranjak dewasa, pemuda tentu tidak bisa dipisahkan dari dunia sosialita. Periode remaja (daurul murahaqah) merupakan ajang untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan dunia baru yang lebih luas, tapi juga lebih kompleks dari dunia anak dahulu.

Berbaur dengan orang lain tentu tidak hanya sekedar memburu predikat sosialita, gaul, atau kece semata. Tidak juga sekedar menghindari bullying teman, biar tidak dikatain gaptek, kuper, ndeso atau ungkapan diskrimintif lainnya. Berteman tidak sekedar ketemu sembarang orang kemudian mengikuti semua perilaku dan perkataan. Kalau Humood elKhudher bilang, ataqabbaluhum, annasu lastu uqalliduhum..., aku memang menemui banyak orang, tapi tidak lantas taklid buta atau membebek kepada mereka. Berinteraksi dengan orang lain harus mempunyai misi tertentu, entah mendapat input yang baik, atau sekaligus output berbagi kebaikan kita kepada orang lain.

اَلْمُؤْمِنُ اَلَّذِي يُخَالِطُ اَلنَّاسَ, وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ اَلَّذِي لَا يُخَالِطُ اَلنَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ " أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ
Seorang mukmin yang berinteraksi dengan orang lain, dan sabar dengan masalah yang ditemuinya, itu lebih baik dari seorang mukmin yang tidak berinteraksi dengan orang lain dan tidak sabar dengan masalah yang ditemuinya. (HR. Ibnu Majah)

Dari hadits di atas, Rasulullah pun memberi ruang bagi kita untuk mengenal orang lain, bergabung dengan masyarakat, berinteraksi dengan tetangga, bertemu dengan teman dan lain sebagainya. Sekalipun memang setiap kita bermuamalah dengan orang lain pasti kita akan menemukan permasalahan dan kendala. Bila yang kita temukan adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan prinsip kita, jangan takut untuk mengatakan tidak. Tapi bila yang kita temukan adalah kebaikan bagi kita, maka janganlah enggan untuk mengikutinya.


Senin, 21 November 2016
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Si Shalih dan Si Mushlih





Si Shalih ini khusyuk di masjid memutar biji-biji tasbih, tapi ada juga Si Shalih yang berdzikir memakai ruas-ruas jari tangan, melafalkan nama-nama terbaik Allah, sambil berdzikir. Setelah itu dilanjutkan dengan tilawah al-Qur`an puluhan halaman. Setelah tilawah dilanjutkan dengan shalat dan sebagainya. Di sisi lain, ada Si Mushlih yang juga memutar biji tasbih untuk berdzikir, dilanjutkan dengan tilawah yang hanya belasan halaman saja. Setelah shalat, Si Mushlih tidak hanya berdiam diri di masjid, tapi dia keluar masjid menuju gang samping rumahnya karena ada kerja bakti. Saat kerja bakti Si Mushlih ngobrol-ngobrol dengan tetangganya, sesekali memberi lelucon edukatif dan kadang satire (nyindir). Sesekali dia berceloteh kepada tetangganya yang minum kopi panas pakai tangan kiri, “Pakdhe, itu minum pakai tangan kiri biar setannya kapok kepanasan ya... Hahahaha...”.

Si Shalih ini kalau dibahasakan di fakultas biologi kata mbak saya diistilahkan dengan Si Steril. Kalau Si Mushlih diistilahkan dengan Si Imun. Beda steril dan imun itu apa? Steril itu kondisi di mana organ tubuh kita bersih dari kuman. Kalau mun kondisi organ tubuh yang selain bersih, tapi mampu mengeluarkan antibody bila ada kuman yang menyerang. Simpelnya, steril itu sekedar bersih dari kuman, tapi kalau imun selain bersih dari kuman ia mampu untuk membasmi kuman.

Dalam beragama atau bermasyarakat, dua tipe di atas biasanya mewarnai pola kehidupan kita. Ada yang mencukupkan diri untuk menjadi seorang yang shalih bagi individunya, tapi ada juga orang mushlih yang mencoba berkontribusi memberikan ishlah untuk lingkungannya. Bahwa menjadi individu yang shalih itu sebuah kebaikan, militan dalam beribadah, totalitas dalam bersyariah dll. Tetapi kebaikan itu tidak dibatasi pada masjid dan rumah pribadi saja, kebaikan juga harus didakwahkan, direkayasa, diprogram dan dikampanyekan kepada orang lain.

Harusnya kita tidak memisahkan atau mengkonfrontasikan antara orang yang ingin memperbaiki diri sendiri dan orang yang ingin kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Justru dua sikap baik ini harus diakomodir dan disinkronkan.

Salah TV atau Salah Kita?

Beberapa waktu yang lalu ada obrolan tentang TV. Saya mulai dengan statemen bahwa TV mempunyai andil dalam mewarnai nilai sosial kita; gaya hidup berpakaian, berbahasa, belahan rambut dll. Dan diantara efek yang diberikan TV, sampai saat ini saya nilai masih dominan dengan konten negatif. Ada seorang teman yang mengomentari bahwa ungkapan di atas hanya mengkambinghitamkan tv, padahal yang salah adalah kita. Kalau tidak suka dengan tv ya tidak usah ditonton saja. Bahwa tidak usah melihat TV itu adalah hak masing-masing individu, saya juga bukan maniak televisi. Kalau dikonversikan mungkin saya melihat televisi 0-2 jam sehari. Lebih seringnya 0 jam.

Tapi bila berbicara tentang tema-tema sosial, tentu kurang bijak bila berhenti pada level ‘saya ga nonton tv kok’ atau ‘jangan nonton tv’, level individu. Bersosial adalah bagaimana kita juga punya andil dalam merekayasa konsumsi-konsumsi masyarakat kita. Bahwa kita tidak nonton konten negatif di televisi itu baik, tapi kebaikan tidak hanya berhenti sampai di situ. Termasuk kebaikan adalah bagaimana kita juga berusaha berkontribusi agar konten televisi di negara kita juga baik. Kita ingin mengapresiasi bagaiman ternyata sutradara-sutradara tertentu juga ‘berkelahi’ dengan bos-bos entertaiment, mereka berjuang agar film positiv ini tetap diputar di bioskop, mendapat rating dan akhirnya bisa memberi warna cerah bagi masyarakat kita.


Kita juga salut bagaimana kesadaran sosial di masyarakat kita membuat kesepakatan bersama agar pukul 18.00-20.00 untuk ibadah dan belajar. Lebih dari itu, kita juga bangga beberapa pihak sudah memulai chanel-chanel edukatif dan keagamaan, sehingga dunia pertelevisian kita tidak lagi didominasi dengan gosip, sinetron pacaran, perkelahian atau gaya hidup hedonisme.
Rabu, 24 Agustus 2016
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © RAYYIIS -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -