Tampilkan postingan dengan label Pondok Oriented. Tampilkan semua postingan
Gontor dan Etika Organisasi
Gontor merupakan pondok pembelajaran kehidupan. Bila
kehidupan itu diartikan sebagai aktifitas penunjang manusia untuk tetap eksis
sebagai individu maupun bermasyarakat, maka gontor juga mengajarkan santrinya
untuk bisa hidup mandiri maupun sebagai pelayan sosial. Dalam hal ini adalah
kecenderungan gontor yang bisa dibilang mendominasi dan bahkan mampu
menempatkan santrinya di berbagai institusi seperti LSM, pemerintah, Ormas dan
bahkan partai politik. Hal itu karena sejak dini santri gontor diajari bagaimana
mereka berorganisasi, entah dalam skala kamar, rayon, bagian bahkan pondok
secara umum.
Akan tetapi kita sebagai alumni gontor tidak lantas lupa
diri bahwa, seluk-beluk organisasi, wilayah dan anggota dalam sebuah organisasi
terkadang mempunyai perbedaan antar tempat, golongan atau objek lainnya. Tetap
dibutuhkan penyesuaian ketika kita menghadapi situasi yang komplek seperti di
atas. Wilayah pondok tidak bisa dilepaskan dari publik figur seorang kyai. Kyai
merupakan pemegang peran penting dan central dalam hampir semua keputusan dan
aturan pondok. Adanya prinsip khushushiyah kyai terkadang dipandang berbenturan
dengan atmosfer luar yang cenderung lebih bebas, artinya, ruang untuk negosiasi/rukhshoh
di masyarakat luar pondok masih terbuka lebar, tidak saklek.
Di gontor, hal-hal yang berkaitan dengan organisasi, kita
‘hanya’ DIKENALKAN dengan mentalitas, sikap dan tugas di setiap bagian. Hal itu
cukup sebagai modal awal untuk menggeluti dunia organisasi yang terdisiplinkan
dan teratur, sedangkan cakupan yang luas dari itu, seperti lobi organisasi,
network luar, pemegang kebijakan, kesemuanya berbeda dengan di dalam pondok.
Ada pengalaman menarik ketika saya mengunjungi ponok
tercinta, ada rasa kangen di sana, ingin silaturahim terhadap guru, menerima setruman-setruman
baru atau sekedar menyapa karyawan/mbo’e kantin. Tidak semua yang ke gontor di
tahun 2014 ini dilatarbelakangi unsur pragmatisme, mencari surat untuk nyaleg
atau sebagainya, naif.
Kedatangan saya ke gontor memang untuk mencari surat keterangan
mengajar. Oleh karena itu beberapa hari sebelumnya saya menelpon teman
seangkatan yang satu tahun sebelumnya dia mengabdi di bagian yang memang
mengurusi hal-hal semacam di atas. Olehnya disampaikan bahwa surat seperti itu
mudah diperoleh, bisa ditunggu karena memang tidak menyertakan tanda
tangan/izin langsung dari pimpinan pondok, artinya, ada atau tidak ada pak kyai
surat semacam itu bisa diterbitkan, simpel. Simpel memang, tetapi salah saya
adalah tidak menanyakan persyaratan teknis permintaan surat tersebut.
Hari berganti, saya putuskan di suatu hari untuk pergi ke
gontor. Saya langsung menuju gedung administrasi, menemui seorang ustadz
kemudian menanyakan apakah orang seperti saya, mengabdi satu tahun di gontor 2
bisa mendapatkan surat keterangan mengajar. Ustadz yang bersangkutan menimpali
bahwa hal itu tidak mungkin, yang paling memungkinkan adalah menerbitkan
keterangan mengabdi yang sudah diberikan ketika masa pengabdian selesai.
Sekilas saya terperanjat karena keterangan itu berbeda dengan yang saya dengar
beberapa hari lalu. Secepat itukah kebijakan berganti? Ustadz yang saya temui
itu meng-klaim bahwa surat keterangan mengajar hanya bisa didapat ketika orang
tersebut mengajar/mengabdi di gontor paling tidak dua tahun lamanya. Sementara
waktu itu saya iyakan, tidak protes.
Keterangan yang lebih otentik akan bisa saya dapat ketika
saya bertemu langsung dengan direktur kmi, ust. Masyhudi subari. Di pertemuan
itu saya berikan keterangan singkat saya dan keperluan meminta surat kterangan
mengajar. Di sela-sela pembicaraan memang beliau sempat menyesalkan beberapa
alumni yang meminta surat keterangan serupa atau yang lainnya, fungsinya untuk
nyaleg atau keperluan lain. Tidak salah memang, hanya saja disayangkan beberapa
di antaranya ada yang berbohong, entah kriteria bohongnya wallahu a’lam, karena
hal-hal detail saya kira bisa direkam oleh pondok, kemungkinan bohong itu bisa
diminimalisir. Inti dari pertemuan singkat saya dengan beliau adalah, sekalipun
saya baru mengabdi/mengajar satu tahun, saya diperbolehkan meminta SKM dari
Sekpim. Keterangan koperatif yang saya dapat barusan sangat kontras dengan
keterangan antipatif dari Sekpim atau ustadz yang saya temui pertama kali.
Saya pun kembali ke kantor Sekpim beberapa jam setelahnya
karena memang menyesuaikan waktu pelayanan yang tertulis di depan pintu. Saya
datang, saya sampaikan kepada yang bersangkutan bahwa atasan anda membolehkan
permintaan surat saya. Dia pun mengiyakan sekalipun yang saya sayangkan adalah,
kenapa tidak sedari awal dia memberitahu saya tentang beberapa atau, ada memang
persyarataan simpel tapi seharusnya diinfokan sedari awal secara detail dan
tidak terpotong-potong. Persyaratan simpel itu adalah, photo hitam putih. YBS
mengatakan agar photo di kurnia photo, hitam putih. Pesan singkat itu saya
terima mentahannya saja, karena memang ybs tidak mengatakan harus atau tidaknya
ke satu merek tersebut.
Saya pun pergi dipandu seorang teman yang menggiring
saya ke agus jaya (atau apalah, mbuyak) photo, karena ketika saya minta untuk
ke kurnia photo dia menanyakan HARUS KE SANA KAH? Atau memang bisa diwakili
tempat photo lain, karena yang penting subtansi photo itu sendiri, agus jaya
beda merek dengan arahan Sekpim. Photo hitam putih, jebret, ditunggu dan jadi.
Saya kembali ke pondok menuju kantor sekpim dan dengan
terpaksa mengendarai motor cowok yang memang secara kultur tidak dibolehkan
bagi ustadz dalam tapi dimaklumi bagi tamu. Saya coba menemui ybs tapi disuruh
menunggu, setelah ditunggu ybs tidak ada dan yang menemui ustadz lain. Saya serahkan
photo, hitam putih. Tetap ditolak dengan alasan, bajunya tidak putih. TERNYATA
memang harus hitam putih secara warna keseluruhan maupun BAJU. Intruksi photo
di kurnia photo ternyata mempunyai arti kewajiban. Sempat kecewa, dan memang
kecewa, karena wira-wiri tanpa arti. Ybs memang menyertakan ‘contoh photo’
kemudian mengatakan SEPERTI INI.
Kata ‘seperti ini’ dengan arti leterlejk yang sesungguhnya,
harus seperti ini, tanpa keterangan tambahan yang lebih detail, mengapa, karena
atau yang lainnya. Ungkapan ‘seperti ini’ secara 100% bagi saya adalah hak
orang besar, kyai, yang kemungkinan untuk beda dari intruksi atau ungkapan
seperti di atas harus dihindari. Akhirnya, proses pengambilan skm yang
seharusnya lancar, belum lancar, atau cenderung gagal, dan memang hingga hari
ini saya cenderung belum tertarik lagi untuk menanggapi permainan di atas.
Setelah itu saya
hanya ingin berbagi hikmah.
Bahwa kita dididik organisasi di pondok agar kita menjadi
administrator atau organisator yang beda dengan orang luar. Sekilas saya
melayangkan benak dan ingatan saat mengurus beberapa administrasi di instansi
pemerintahan, entah indonesia atau mesir. Unsur bertele-tele, terlalu formal, mental
robot yang kaku dan saklek sangat lekat terhadap lembaga pemerintahan kita yang
sekuler. Bayangan saya, bila ada santri tapi dia juga belajar administrasi dan
organisasi, seharusnya dia harus berbeda dengan orang luar. Harus lebih tertib,
lebih sopan, lebih welas asih, menghargai dan mentalitas kesantrian lainnya.
Gontor tidak mendidik administrator yang arogan atau saklek ala robot.
Berkaca Pada Syamsudin Arif
Seri ngopas :P
===============
Dr. Syamsuddin Arif, salah satu peneliti INSIST, mempunyai kemampuan luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, kususnya pemikiran islam. Kecintaanya terhadap ilmu telah membawanya kedalam deretan cendekiawan muslim papan atas di Indonesia. Berikut ulasan yang disampaikan oleh Nuim Hidayat (Peneliti INSIST)
Ditulis Oleh Nuim Hidayat
Saat Dr. Syamsuddin melun curkan bukunya, Orien talis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta: GIP, 2008), seorang mantan teman dekatnya semasa kuliah Kuala Lumpur berujar, Saya tidak menyangka dia menjadi seperti ini. Dulu saya sempat khawatir, suatu ketika dia menjadi liberal. Buku itu memang tergolong langka.
Dengan seabrek referensi dari khazanah Islam maupun literatur Barat Syam suddin memberikan kritik-kritik tajam terhadap pelbagai gagasan orientalis. Penguasaannya yang luar biasa terhadap berbagai bahasa (Arab, Inggris, Jer man, Perancis, Latin, Yunani, dan sedi kit Ibrani dan Syriac) menempatkan sosok Syam suddin dalam deretan cendekiawan mus lim papan atas di Indonesia.
Di tengah kesibukan merampungkan disertasi keduanya di Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Universitat Frankfurt, Jerman, bapak empat anak itu kini aktif mengajar di Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM). Di sini, ia juga menjadi rujukan dan tempat bertanya bagi para mahasiswa Indonesia dalam berbagai masalah agama dan pendidikan. Untuk berbagi ilmu, Ia pun mengajarkan bahasa Latin dan logika kepada para mahasiswa secara gratis.
Perjalanan intelektual Dr. Syamsuddin Arif cukup menarik ditelusuri. Pendidikan agama dilaluinya dari aktivitas mengaji di kampung kelahirannya di Pondok Pi nang, Jakarta Selatan. Diantara gurugurunya adalah almarhum Kyai Abbas, Kyai Hasan Murdhi, K.H. Guru Salim, dan Habib Naufal bin Muhammad bin Aqil bin Yahya. Lulus dari Madrasah al-Khai riyah Pondok Pinang (1983), cicit K.H. Namun (dari garis ibu) ini pergi menimba ilmu di pesantren Gontor sam pai tamat 1989.
Selama lima tahun di Kampung Damai itu demikian para santri menyebutnya ia dikenal sebagai salah seorang penekun seni menulis indah alias khattat dan mendirikan AKLAM, akronim dari Asosiasi Kaligrafer Da russalam. Di kemudian hari, Syam begitu panggilan akrab lelaki mungil ini mendapatkan berkah. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) mengirimnya ke Istanbul, Turki selama beberapa bulan demi mempelajari seni khat langsung dari pakarnya, Hasan Celebi, dengan kerjasama IRCICA sebuah lembaga di bawah Organisasi Konferensi Islam. Salah satu buah karyanya adalah logo INSISTS, yang ia reka dalam tempo kurang dari 2 jam.
Syam mengutip ayat Fa Maadza Badal Haqqi Illa ad-Dhalal (Tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan, QS 10:32) sebagai logo INSISTS. Saya berharap, kita mendapat bimbingan Allah un tuk berada pada Kebenaran yang memang datangnya dari Allah, dan tidak tergelincir di jalan yang sesat,ujarnya. Syam juga dikenal dengan keinginannya yang kuat untuk menghafal al-Quran.
Itulah yang kemudian mengantarkannya ke wilayah timur Indonesia. Bertempat di Majlis Qurra wal Huffazh, Tuju-tuju, Kajuara Bone (Sulawesi Selatan). Ia belajar dan menghafal al-Qur'an kepada Petta Lanre Said. Saya sempat menghafal 30 juz, khatam tiga kali, ujarnya. Di samping meraih ilmu, di daerah ini pula ia memperoleh berkah lain: Andi Sri Suriati Amal seorang gadis Bone yang hingga kini masih menjadi istri satu-satunya. Sejak kecil Syamsuddin Arif terbilang kutu buku. Di sekolah, paparnya, Saya me mang bukan yang terpandai, tetapi selalu di atas rata-rata.
Ia meyakini hal itu berkat curahan doa orangtua dan gurugurunya. Semangat menuntut dan men cintai ilmu dipupuk oleh ayahnya, H. Ramli Aminoto. H. Ramli yang berasal dari Aceh, adalah seorang pedagang yang aktif di pengajian dan majlis taklim ula ma. Sebagaimana layaknya anak-anak, saat dikirim ke Gontor oleh ayahnya, hati Syam juga bergejolak. Ia sempat jengkel. Bahkan, sempat terpikir untuk kabur. Tapi, ia tidak berani melawan kehendak ayahnya.Kalau kabur, saya tidak dikasih makan, katanya mengenang. Bahkan, ia pernah dikeluarkan dari kelas gara-gara tidak mengerjakan tugas bahasa Inggris.
Tapi, dinamika itu akhirnya dapat dilalui. Setamat dari pesantren Gontor, Syam sempat melayangkan lamaran bela jar ke universitas Madinah dan nyaris ber angkat ke Iran. Tapi, takdir membawanya kuliah di International Islamic University Malaysia (IIUM) hingga selesai S1 (1996). Meskipun mengambil bidang komunikasi, tetapi kecintaannya kepada ilmu membawanya ke berbagai khazanah keilmuan Islam. Saat mahasiswa, ia aktif sebagai koordinator forum diskusi kampus. Gelar master diraihnya di ISTAC. Di bawah bimbingan Profesor Alparslan Acikgenc ia menyelesaikan tesisnya yang berjudul Ibn Sina Theory of Intuition (1999).
Gelar doktor pemikiran Islam berhasil diraihnya juga di ISTAC (2004) dengan disertasi berjudul Ibn Sina Cosmology: A Study of the Appropriation of Greek Philosophical Ideas in 11th Century Islam di bawah bimbingan Profesor Paul Lettinck. Terus terang, wawasan keilmuan saya terbangun selama delapan tahun nyantri di ISTAC, akunya. Untuk itu, dia mengaku sangat berterimakasih kepada berbagai pihak, khususnya Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendiri sekaligus rektor ISTAC.
Sebelum ujian doktornya di ISTAC awal Agustus 2003, Syam harus berangkat ke Jerman untuk belajar filologi (ilmu naskah) dan sejarah teologi kepada Pro fesor Hans Daiber, direktur Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Uni versitat Frankfurt. Empat tahun di sana sangat berarti, ujarnya. Dipelajarinya ba hasabahasa Semitik selain Arab (Ibrani dan Suryani), disamping menghadiri ku liah dan menggarap disertasinya tentang pemikiran teologi Sayf ad-Din al-Amidi (w. 631/1233) dalam kitabnya: Abkar al-Afkar.
Kini, kesibukan lelaki kelahiran Jakarta 19 Agustus 1971 ini terbilang luar biasa padat. Semasa tinggal di Jerman, dia sempat mengisi forum-forum pengajian tidak hanya di Jerman, tetapi juga di Belgia, Swiss, Inggris, dan lain-lain. Di Malaysia, aktivitas dakwah juga terus dijalankannya. Ramadhan 1429 Hijriah ta hun lalu, Syam diundang ke Amerika un tuk berceramah di Islamic Cultural Center of New York (ICCNY) dan khutbah Idul Fitri di Masjid al-Hikmah, Queens. Sebagai akademisi, ia terus aktif menghasilkan karya tulis maupun mengikuti berbagai acara temu ilmiah.
Syamsuddin memang memiliki kepakaran yang termasuk langka. Ia bisa dikatakan ilmuwan spesialis Ibnu Sina. Ratusan karya Ibn Sina dan tentang Ibn Sina dalam berbagai bahasa telah dilahapnya. Sejumlah makalah telah dipresentasikannya dalam berbagai konferensi internasional tentang Ibn Sina. Profesor Alparslan Acikgenc memang mendorong Syamsuddin untuk serius mendalami pemikiran Ibn Sina. Katanya pada Syamsuddin, After Fazlur Rahman there is no one in the Muslim world who has done an extensive study on Ibn Sina, you should be the one. Dr. Adian Husaini mengakui, Mungkin, di Indonesia, kini Syamsuddin satu-satunya ilmuwan yang mengkaji pemikir an Ibn Sina dengan sangat serius. Bah kan, Adian memberikan metafor, bisa dika takan, Ibn Sina sudah berada dalam genggamannya.
Meskipun menyukai bidang filsafat, seni, dan berbagai hal yang jelimet lainnya, Syamsuddin mengambil sikap dan posisi yang tegas terhadap kebatilan. Keseriusannya dalam upaya penegakan aqidah dan syariah Islam ditunjukkan, misalnya, dalam keterlibatannya sebagai ketua Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) cabang Malaysia periode 2009-2012.
Menurut Syamsuddin, tidak benar jika il miah itu sama dengan tidak berpihak. Ia menyebut sederetan nama ulama Islam yang sangat tinggi keilmuannya, tetapi kokoh dalam membela aqidah dan syariah Islam. One should be a good Muslim and a good scholar at the same time, ujarnya.
===============
Dr. Syamsuddin Arif, salah satu peneliti INSIST, mempunyai kemampuan luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, kususnya pemikiran islam. Kecintaanya terhadap ilmu telah membawanya kedalam deretan cendekiawan muslim papan atas di Indonesia. Berikut ulasan yang disampaikan oleh Nuim Hidayat (Peneliti INSIST)
Ditulis Oleh Nuim Hidayat
Saat Dr. Syamsuddin melun curkan bukunya, Orien talis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta: GIP, 2008), seorang mantan teman dekatnya semasa kuliah Kuala Lumpur berujar, Saya tidak menyangka dia menjadi seperti ini. Dulu saya sempat khawatir, suatu ketika dia menjadi liberal. Buku itu memang tergolong langka.
Dengan seabrek referensi dari khazanah Islam maupun literatur Barat Syam suddin memberikan kritik-kritik tajam terhadap pelbagai gagasan orientalis. Penguasaannya yang luar biasa terhadap berbagai bahasa (Arab, Inggris, Jer man, Perancis, Latin, Yunani, dan sedi kit Ibrani dan Syriac) menempatkan sosok Syam suddin dalam deretan cendekiawan mus lim papan atas di Indonesia.
Di tengah kesibukan merampungkan disertasi keduanya di Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Universitat Frankfurt, Jerman, bapak empat anak itu kini aktif mengajar di Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM). Di sini, ia juga menjadi rujukan dan tempat bertanya bagi para mahasiswa Indonesia dalam berbagai masalah agama dan pendidikan. Untuk berbagi ilmu, Ia pun mengajarkan bahasa Latin dan logika kepada para mahasiswa secara gratis.
Perjalanan intelektual Dr. Syamsuddin Arif cukup menarik ditelusuri. Pendidikan agama dilaluinya dari aktivitas mengaji di kampung kelahirannya di Pondok Pi nang, Jakarta Selatan. Diantara gurugurunya adalah almarhum Kyai Abbas, Kyai Hasan Murdhi, K.H. Guru Salim, dan Habib Naufal bin Muhammad bin Aqil bin Yahya. Lulus dari Madrasah al-Khai riyah Pondok Pinang (1983), cicit K.H. Namun (dari garis ibu) ini pergi menimba ilmu di pesantren Gontor sam pai tamat 1989.
Selama lima tahun di Kampung Damai itu demikian para santri menyebutnya ia dikenal sebagai salah seorang penekun seni menulis indah alias khattat dan mendirikan AKLAM, akronim dari Asosiasi Kaligrafer Da russalam. Di kemudian hari, Syam begitu panggilan akrab lelaki mungil ini mendapatkan berkah. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) mengirimnya ke Istanbul, Turki selama beberapa bulan demi mempelajari seni khat langsung dari pakarnya, Hasan Celebi, dengan kerjasama IRCICA sebuah lembaga di bawah Organisasi Konferensi Islam. Salah satu buah karyanya adalah logo INSISTS, yang ia reka dalam tempo kurang dari 2 jam.
Syam mengutip ayat Fa Maadza Badal Haqqi Illa ad-Dhalal (Tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan, QS 10:32) sebagai logo INSISTS. Saya berharap, kita mendapat bimbingan Allah un tuk berada pada Kebenaran yang memang datangnya dari Allah, dan tidak tergelincir di jalan yang sesat,ujarnya. Syam juga dikenal dengan keinginannya yang kuat untuk menghafal al-Quran.
Itulah yang kemudian mengantarkannya ke wilayah timur Indonesia. Bertempat di Majlis Qurra wal Huffazh, Tuju-tuju, Kajuara Bone (Sulawesi Selatan). Ia belajar dan menghafal al-Qur'an kepada Petta Lanre Said. Saya sempat menghafal 30 juz, khatam tiga kali, ujarnya. Di samping meraih ilmu, di daerah ini pula ia memperoleh berkah lain: Andi Sri Suriati Amal seorang gadis Bone yang hingga kini masih menjadi istri satu-satunya. Sejak kecil Syamsuddin Arif terbilang kutu buku. Di sekolah, paparnya, Saya me mang bukan yang terpandai, tetapi selalu di atas rata-rata.
Ia meyakini hal itu berkat curahan doa orangtua dan gurugurunya. Semangat menuntut dan men cintai ilmu dipupuk oleh ayahnya, H. Ramli Aminoto. H. Ramli yang berasal dari Aceh, adalah seorang pedagang yang aktif di pengajian dan majlis taklim ula ma. Sebagaimana layaknya anak-anak, saat dikirim ke Gontor oleh ayahnya, hati Syam juga bergejolak. Ia sempat jengkel. Bahkan, sempat terpikir untuk kabur. Tapi, ia tidak berani melawan kehendak ayahnya.Kalau kabur, saya tidak dikasih makan, katanya mengenang. Bahkan, ia pernah dikeluarkan dari kelas gara-gara tidak mengerjakan tugas bahasa Inggris.
Tapi, dinamika itu akhirnya dapat dilalui. Setamat dari pesantren Gontor, Syam sempat melayangkan lamaran bela jar ke universitas Madinah dan nyaris ber angkat ke Iran. Tapi, takdir membawanya kuliah di International Islamic University Malaysia (IIUM) hingga selesai S1 (1996). Meskipun mengambil bidang komunikasi, tetapi kecintaannya kepada ilmu membawanya ke berbagai khazanah keilmuan Islam. Saat mahasiswa, ia aktif sebagai koordinator forum diskusi kampus. Gelar master diraihnya di ISTAC. Di bawah bimbingan Profesor Alparslan Acikgenc ia menyelesaikan tesisnya yang berjudul Ibn Sina Theory of Intuition (1999).
Gelar doktor pemikiran Islam berhasil diraihnya juga di ISTAC (2004) dengan disertasi berjudul Ibn Sina Cosmology: A Study of the Appropriation of Greek Philosophical Ideas in 11th Century Islam di bawah bimbingan Profesor Paul Lettinck. Terus terang, wawasan keilmuan saya terbangun selama delapan tahun nyantri di ISTAC, akunya. Untuk itu, dia mengaku sangat berterimakasih kepada berbagai pihak, khususnya Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendiri sekaligus rektor ISTAC.
Sebelum ujian doktornya di ISTAC awal Agustus 2003, Syam harus berangkat ke Jerman untuk belajar filologi (ilmu naskah) dan sejarah teologi kepada Pro fesor Hans Daiber, direktur Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Uni versitat Frankfurt. Empat tahun di sana sangat berarti, ujarnya. Dipelajarinya ba hasabahasa Semitik selain Arab (Ibrani dan Suryani), disamping menghadiri ku liah dan menggarap disertasinya tentang pemikiran teologi Sayf ad-Din al-Amidi (w. 631/1233) dalam kitabnya: Abkar al-Afkar.
Kini, kesibukan lelaki kelahiran Jakarta 19 Agustus 1971 ini terbilang luar biasa padat. Semasa tinggal di Jerman, dia sempat mengisi forum-forum pengajian tidak hanya di Jerman, tetapi juga di Belgia, Swiss, Inggris, dan lain-lain. Di Malaysia, aktivitas dakwah juga terus dijalankannya. Ramadhan 1429 Hijriah ta hun lalu, Syam diundang ke Amerika un tuk berceramah di Islamic Cultural Center of New York (ICCNY) dan khutbah Idul Fitri di Masjid al-Hikmah, Queens. Sebagai akademisi, ia terus aktif menghasilkan karya tulis maupun mengikuti berbagai acara temu ilmiah.
Syamsuddin memang memiliki kepakaran yang termasuk langka. Ia bisa dikatakan ilmuwan spesialis Ibnu Sina. Ratusan karya Ibn Sina dan tentang Ibn Sina dalam berbagai bahasa telah dilahapnya. Sejumlah makalah telah dipresentasikannya dalam berbagai konferensi internasional tentang Ibn Sina. Profesor Alparslan Acikgenc memang mendorong Syamsuddin untuk serius mendalami pemikiran Ibn Sina. Katanya pada Syamsuddin, After Fazlur Rahman there is no one in the Muslim world who has done an extensive study on Ibn Sina, you should be the one. Dr. Adian Husaini mengakui, Mungkin, di Indonesia, kini Syamsuddin satu-satunya ilmuwan yang mengkaji pemikir an Ibn Sina dengan sangat serius. Bah kan, Adian memberikan metafor, bisa dika takan, Ibn Sina sudah berada dalam genggamannya.
Meskipun menyukai bidang filsafat, seni, dan berbagai hal yang jelimet lainnya, Syamsuddin mengambil sikap dan posisi yang tegas terhadap kebatilan. Keseriusannya dalam upaya penegakan aqidah dan syariah Islam ditunjukkan, misalnya, dalam keterlibatannya sebagai ketua Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) cabang Malaysia periode 2009-2012.
Menurut Syamsuddin, tidak benar jika il miah itu sama dengan tidak berpihak. Ia menyebut sederetan nama ulama Islam yang sangat tinggi keilmuannya, tetapi kokoh dalam membela aqidah dan syariah Islam. One should be a good Muslim and a good scholar at the same time, ujarnya.
Bismillah.....tentang temen2ku dulu yg w love u!
- Mereka adalah yg minjemin aku uang ketika wesel belum datang
- Mereka yg minjemin aku baju ketika tiada waktu [baca: males] nyuci sampe 3 pekan lebih
- Mereka juga yang kadang nyuci bajunya bareng2 di ember guede yg muat 3 buntelan,bahkan kadang juga kita nyuciin baju mereka terus pekan depan mereka nyuciin baju kita, hehe ga tau juga kita tetep enjoy aja karena saling pengertiannya
- Kalau aku lewat khiftir terus ada temen2 yg makan disono langsung aja deh aku dapat panggilan makan bareng sekalipun, sepiring berdua........
- Hehe klw kita makan tuh, piring yang punya garis diamter begitu sempit bisa dibuat makan 2-4 orang.....hemmmm subhanallah aja
- Mereka yang kadang rela untuk dipukul sendiri demi menerima kesalahan yang sebenarnya sanksinya adalah untuk semua
- Temen2ku dulu juga memakai satu lemari untuk berdua......wis pokoke semua bersama lah
- Mandi pun kita punya sabun yg sama, samanya bukan pada merek, samanya ya.......1 untuk semua. Bahkan kita punya istilah sendiri untuk kamar mandi: ancol. Bukan karena mantafnya seh tapi karena kamar mandi kami dulu terbuka pintunya kyk ancol [im sendiri blm pernah kesono sampe im nulis ini], untuk tertutup ya make handuk atau baju dan celana :)
- Kami dulu juga punya kebiasaan untuk membuat istilah2 dalam bersinonim: piring itu mempunyai bentuk kata lain yang sepadan lhoo....contohnya; koran, plastik, ember, gayung, bak, kardus de el el.....weeeks :)
- Malah kalau kita ngantuk2 di kelas karena udah masuk pelajaran2 di akhir khissoh, kita garuk2an pake bulpoint gantian gitu biar ga ngantuk..........:-p
Mungkin sebagian dari mereka menganggap bahwa hal diatas terkesan jorok atau bahkan primitif. Ehm......semua itu memang bukan ukuran mutlak suatu persahabatan kami dulu, gambaran diatas hanyalah sebagai kenangan indah kebersamaan kami ketika menjalin ukhuwah fillah yang yu'tsiruun 'alaa anfusihim walau bihim khososoh. Mereka adalah temen yang kadang mendahulukan hajat orang lain meskipun dalam pribadi mereka membutuhkan hal tersebut.
Panca Jiwa
Wahai Penuntut Ilmu Fi Sabiilillah.....!
Tempat kita menuntut ilmu memang tidak hanya mengajarkan bagaimana kita belajar keakademisan, lebih dari itu ternyata tidak salah kalau kita diperkenalkan dengan jawaban "mencari pendidikan dan pengajaran" ketika melihat tulisan besar "Ke Gontor Apa Yang Kau Cari...?". Dalam kehidupan kita dipondok kita juga diajarkan bagaimana menjalani kehidupan, bahkan tata cara kita melihat atau bahkan hanya sekedar berjalan. Dalam melihat kita diajarkan untuk tidak seperti orang buta meraba gajah, dalam berjalan kita diajarkan untuk dengan ketegapan an kesigapan. Bahkan dalam keseharian pun kita juga di latih untuk tidak menyeret sandal.
Semua itu tidak terlepas dari gambaran seorang manusia yang diciptakan mempunyai raga dan jiwa. Raga pondok seperti yang kita lewatkan sehari-hari, fasilitas2 yang kita gunakan dari gedung belajar, kamar mandi. tempat olahraga, dapur dan juga masjid sebgai sarana utama dalam kounitas . Sedangkan jiwa pondok sebenarnya adalah sangat jelas dan gamblang bagi mereka yang benar2 berprinsip "apa yang kamu lihat dengar dan rasa adalah pendiikan", namun bagi mereka yang matanya melek walang akan terasa biasa saja dan cuek dengan keadaan sekitar. Pengajaran jiwa2 itu bahkan bisa lebih gamblang dari rentetan gedung2 tinggi yang terhampar dari Jami' hingga garis lurus jalan ke Sudan. Terangnya pancara pelajaran jiwa tersebut bahkan lebih terang dari mentari di esok pagi.
Wahai Penuntut Ilmu Fi Sabiilillah.....!
Nilai dari jiwa itu sendirilah yang mengantar para pendahulu menjadi seorang yang sukses dengan usaha yang berbuah hasil dengan peletakan batu pertama suatu bangunan pendidikan. Trimurti menjadi Tiga Serangkai yang menguatkan tiang timur dan barat, membangun pondasi kokoh bagian utara dan selatannya. Panca Jiwa tersebut teringkas dalam 5 point pokok sebgai obor dalam berjalan, sebagai dayung kala menembus arus, sebagai payung kala terik dan hujan.
1. KEIKHLASAN
Keikhlasan yang terkandung dalam panca-jiwa pondok bisa diartikan sebagai "sepi ing pamrih rame ing gawe". Ikhlas dalam bertindak dan berpikir adalah totalitas dari niat suci yang dalam perjalanan pekerjaan itu si pekerja tidak terbersit sedikitpun dalam hatinya untuk mendapat imbalan atau santunan dalam pekerjaannya itu. Dalam kesendirian dia tetap berbuat dalam keramaian dia akan tetap beramal. Suasana ikhlas dalam berbuat akan membawa iklim kondusif ketika kita melangkah, suasana harmonis antara sosok kiayai yang pneuh kharismatik dan disegani para asatidz yang tak pernah bosa untuk membimbing dan santri yang penuh cinta dengan mereka. Keikhlasan ini yang sebenarnya menjadi tumpuan penilaian bagi mereka yang sadar.
Keikhlasan memang hal yang sulit untuk didefinisikan secara real, hampir2 sifat kebaikan yang abstrak dianggap suatu hal yang mustahil untuk dicapai. Seperti keikhlasan, kesabaran atau hal lainnya. Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa: ikhlas adalah suatu anugrah yang dititipkan ke seorang hamba yang mana hanya Allah sendirilah yang mengetahui keikhlasan tersebut. Dengan keikhlasan jualah seorang abuud diterima amal ibadahnya, dengan ikhlas jugalah seorang Isma'il rela disembelih oleh Ayah yang juga ta'at, dengan keikhlasan jualah seorang guru tanpa pamrih untuk tidak digaji.
2. KESEDERHANAAN
Sederhana....suatu hal yang ketika kita dengar maka yang terbersit dalam pandangan kita hanyalah gambaran seorang yang compang-camping, kusut, tak terurus dan semrawut. Sungguh sederhana yang dicontohkan Rasul bukanlah hal demikian. Sederhana bukanlah berarti kemelaratan dan kemiskinan menerima segala sesuatu secara pasif dan tanpa usaha, bukan.....bukan lah demikian yang dimaksud sederhana...! Justru dalam kesederhanaan itu kita dididik untuk berjiwa besar, suatu pendidikan untuk terus melangkah dalam situasi terjepit, ketabahan dalam beramal dan juga sebagai landasan manusia dalam meniti kehidupan yang penuh dengan persaingan dan keganasan.
Wahai Penuntutu Ilmu Fi Sabiilillah....!
Urutan ketiga dalam lima tatanan jiwa adalah..............:
3. BERDIKARI
Berdikari bukanlah hidup dalam kesendirian, sifat kemandirian bukanlah hidup dalam keegoisan, hidup mandiri juga bukan mempunyai arti pasif dengan lingkungan atau tidak perhatian dengan sesama. Berdikari yang secara harfiahnya mempunyai retorika bijak yang berarti: "berdiri diatas kaki sendiri" mempunyai gambaran nilai yang mulia dalam pribadi manusia, karena kemandirian adalah suatu cerminan seorang manusia yang perwira, tidak mudah mengeluh atau merepotkan orang lain. Bagaimana kita akan menjadi hamba yang paling mulia yg berotabene "manfaat bagi orang lain" kalau seandainya dalam menopang kehidupan pribadi saja masih tertatih dan bersandar pasif dengan pihak lain. Dalam kemandirian juga kita diajarkan suatu sifat suci ilahiyyah -al-Qayyumu Binafsihi-, sungguh suatu kebanggaan dalam diri jikalau sifat perwira dan kemandirian ini menjadi bagian ampuh dalam diri kita.
4. UKHUWAH IsLAMIYAH
Ikhwan yang dirahmati Allah.......
Panja jiwa yang keempat ini mempunyai keterkaitan penting dengan hal diatas, disamping kita dididik untuk mempuyai jiwa keperwiraan kita juga dilatih dan dituntut unuk selalu menjunjung tinggi kebersamaan jalinan yang berasas keimanan, ukhuwah islamiyyah.
Sungguh sejatinya komunitas inilah yang selayaknya kita perhatikan dalam persahabatan di sekolah kita tercinta. Bukan khusus teman-teman daerah, klub-klub, marhalah atau komunitas lain yang menyeleksi 'illahnya bukan dengan ukhuwah islamiyyah.
5. KEBEBASAN
Ikhwan fillah dalam lindungan Allah...
Dalam kehidupan Jiwa kita juga diberi kelonggaran waktu untuk menghirup udara bebas, untuksejenak kita memandang luas dengan bebas, jiwa kita dibiarkan tidak terkekang dengan tali-tali penyempit pergerakan. Di dalam kampung damai ini juga kita diberi cakrawala luas untuk memilih langkah.
Bebas disini juga harus dipahami lebih luas lagi karena bebas itu juga mengandung hal yang terlepas dari pengaruh pihak luar, kita tidak boleh hanya sekedar taklid kepada orang-orang yang tidak kita ketahui. Namun bebas juga bukanlah kebebasan liberalisme dalam bertindak dalam masyarakt pondok atau masyarakat luas nantinya bebas haruslah mempunyai batasan-batasan sosial yang mengatur kita dalam hidup berdisiplin, janganlah bebasnya kita mengganggu kebebasan orang lain. Janganlah untuk memenuhi hak kita maka hak orang lain kita anggap tidak penting untuk diperhatikan.
Tempat kita menuntut ilmu memang tidak hanya mengajarkan bagaimana kita belajar keakademisan, lebih dari itu ternyata tidak salah kalau kita diperkenalkan dengan jawaban "mencari pendidikan dan pengajaran" ketika melihat tulisan besar "Ke Gontor Apa Yang Kau Cari...?". Dalam kehidupan kita dipondok kita juga diajarkan bagaimana menjalani kehidupan, bahkan tata cara kita melihat atau bahkan hanya sekedar berjalan. Dalam melihat kita diajarkan untuk tidak seperti orang buta meraba gajah, dalam berjalan kita diajarkan untuk dengan ketegapan an kesigapan. Bahkan dalam keseharian pun kita juga di latih untuk tidak menyeret sandal.
Semua itu tidak terlepas dari gambaran seorang manusia yang diciptakan mempunyai raga dan jiwa. Raga pondok seperti yang kita lewatkan sehari-hari, fasilitas2 yang kita gunakan dari gedung belajar, kamar mandi. tempat olahraga, dapur dan juga masjid sebgai sarana utama dalam kounitas . Sedangkan jiwa pondok sebenarnya adalah sangat jelas dan gamblang bagi mereka yang benar2 berprinsip "apa yang kamu lihat dengar dan rasa adalah pendiikan", namun bagi mereka yang matanya melek walang akan terasa biasa saja dan cuek dengan keadaan sekitar. Pengajaran jiwa2 itu bahkan bisa lebih gamblang dari rentetan gedung2 tinggi yang terhampar dari Jami' hingga garis lurus jalan ke Sudan. Terangnya pancara pelajaran jiwa tersebut bahkan lebih terang dari mentari di esok pagi.
Wahai Penuntut Ilmu Fi Sabiilillah.....!
Nilai dari jiwa itu sendirilah yang mengantar para pendahulu menjadi seorang yang sukses dengan usaha yang berbuah hasil dengan peletakan batu pertama suatu bangunan pendidikan. Trimurti menjadi Tiga Serangkai yang menguatkan tiang timur dan barat, membangun pondasi kokoh bagian utara dan selatannya. Panca Jiwa tersebut teringkas dalam 5 point pokok sebgai obor dalam berjalan, sebagai dayung kala menembus arus, sebagai payung kala terik dan hujan.
1. KEIKHLASAN
Keikhlasan yang terkandung dalam panca-jiwa pondok bisa diartikan sebagai "sepi ing pamrih rame ing gawe". Ikhlas dalam bertindak dan berpikir adalah totalitas dari niat suci yang dalam perjalanan pekerjaan itu si pekerja tidak terbersit sedikitpun dalam hatinya untuk mendapat imbalan atau santunan dalam pekerjaannya itu. Dalam kesendirian dia tetap berbuat dalam keramaian dia akan tetap beramal. Suasana ikhlas dalam berbuat akan membawa iklim kondusif ketika kita melangkah, suasana harmonis antara sosok kiayai yang pneuh kharismatik dan disegani para asatidz yang tak pernah bosa untuk membimbing dan santri yang penuh cinta dengan mereka. Keikhlasan ini yang sebenarnya menjadi tumpuan penilaian bagi mereka yang sadar.
Keikhlasan memang hal yang sulit untuk didefinisikan secara real, hampir2 sifat kebaikan yang abstrak dianggap suatu hal yang mustahil untuk dicapai. Seperti keikhlasan, kesabaran atau hal lainnya. Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa: ikhlas adalah suatu anugrah yang dititipkan ke seorang hamba yang mana hanya Allah sendirilah yang mengetahui keikhlasan tersebut. Dengan keikhlasan jualah seorang abuud diterima amal ibadahnya, dengan ikhlas jugalah seorang Isma'il rela disembelih oleh Ayah yang juga ta'at, dengan keikhlasan jualah seorang guru tanpa pamrih untuk tidak digaji.
2. KESEDERHANAAN
Sederhana....suatu hal yang ketika kita dengar maka yang terbersit dalam pandangan kita hanyalah gambaran seorang yang compang-camping, kusut, tak terurus dan semrawut. Sungguh sederhana yang dicontohkan Rasul bukanlah hal demikian. Sederhana bukanlah berarti kemelaratan dan kemiskinan menerima segala sesuatu secara pasif dan tanpa usaha, bukan.....bukan lah demikian yang dimaksud sederhana...! Justru dalam kesederhanaan itu kita dididik untuk berjiwa besar, suatu pendidikan untuk terus melangkah dalam situasi terjepit, ketabahan dalam beramal dan juga sebagai landasan manusia dalam meniti kehidupan yang penuh dengan persaingan dan keganasan.
Wahai Penuntutu Ilmu Fi Sabiilillah....!
Urutan ketiga dalam lima tatanan jiwa adalah..............:
3. BERDIKARI
Berdikari bukanlah hidup dalam kesendirian, sifat kemandirian bukanlah hidup dalam keegoisan, hidup mandiri juga bukan mempunyai arti pasif dengan lingkungan atau tidak perhatian dengan sesama. Berdikari yang secara harfiahnya mempunyai retorika bijak yang berarti: "berdiri diatas kaki sendiri" mempunyai gambaran nilai yang mulia dalam pribadi manusia, karena kemandirian adalah suatu cerminan seorang manusia yang perwira, tidak mudah mengeluh atau merepotkan orang lain. Bagaimana kita akan menjadi hamba yang paling mulia yg berotabene "manfaat bagi orang lain" kalau seandainya dalam menopang kehidupan pribadi saja masih tertatih dan bersandar pasif dengan pihak lain. Dalam kemandirian juga kita diajarkan suatu sifat suci ilahiyyah -al-Qayyumu Binafsihi-, sungguh suatu kebanggaan dalam diri jikalau sifat perwira dan kemandirian ini menjadi bagian ampuh dalam diri kita.
4. UKHUWAH IsLAMIYAH
Ikhwan yang dirahmati Allah.......
Panja jiwa yang keempat ini mempunyai keterkaitan penting dengan hal diatas, disamping kita dididik untuk mempuyai jiwa keperwiraan kita juga dilatih dan dituntut unuk selalu menjunjung tinggi kebersamaan jalinan yang berasas keimanan, ukhuwah islamiyyah.
Sungguh sejatinya komunitas inilah yang selayaknya kita perhatikan dalam persahabatan di sekolah kita tercinta. Bukan khusus teman-teman daerah, klub-klub, marhalah atau komunitas lain yang menyeleksi 'illahnya bukan dengan ukhuwah islamiyyah.
5. KEBEBASAN
Ikhwan fillah dalam lindungan Allah...
Dalam kehidupan Jiwa kita juga diberi kelonggaran waktu untuk menghirup udara bebas, untuksejenak kita memandang luas dengan bebas, jiwa kita dibiarkan tidak terkekang dengan tali-tali penyempit pergerakan. Di dalam kampung damai ini juga kita diberi cakrawala luas untuk memilih langkah.
Bebas disini juga harus dipahami lebih luas lagi karena bebas itu juga mengandung hal yang terlepas dari pengaruh pihak luar, kita tidak boleh hanya sekedar taklid kepada orang-orang yang tidak kita ketahui. Namun bebas juga bukanlah kebebasan liberalisme dalam bertindak dalam masyarakt pondok atau masyarakat luas nantinya bebas haruslah mempunyai batasan-batasan sosial yang mengatur kita dalam hidup berdisiplin, janganlah bebasnya kita mengganggu kebebasan orang lain. Janganlah untuk memenuhi hak kita maka hak orang lain kita anggap tidak penting untuk diperhatikan.
